Suku Karera bertempat tinggal di kawasan lereng yang gersang, kering, dan banyak gulma, seperti ilalang. Karena mereka tinggal di daerah yang gersang, maka pencaharian utama warga Suku Karera adalah beternak. Suku Karera biasanya membagi tanah mereka dengan pembatas menggunakan pagar kayu atau batu, hal ini berguna agar hewan ternak mereka tidak masuk ke lahan tetangganya. Suku Karera biasanya memelihara kerbau dan kuda, kedua hewan ini juga terkadang diperuntukkan sebagai maharpernikahan.[1]
Sistem Sosial
Suku Karera tergabung dalam sistem klan yang cenderung patrilineal, atau mengutamakan garis keturunan ayah. Klan tersebut dipimpin oleh seorang kepala klan yang disebut kabisu. Selain sistem klan, Suku Karera juga mengenal sistem kelas sosial yang terdiri dari 3 lapisan, yakni; bangsawan (disebut umbu), rakyat biasa (disebut kabihu), dan hamba-sahaya (disebut ata).[1]
Kepercayaan
Suku Karera masih memercayai ajaran animisme, mereka menganggap nenek moyang mereka (disebut Merapu) sedang berdiam diri di sebuah tempat yang disebut Tanatara. Bagi Suku Karera, nenek moyang mereka hidup selayaknya di dunia di alam Tanatara. Menurut kepercayaan mereka, Merapu adalah roh yang membawa kebaikan yang melawan roh kejahatan yang bernama Sarangi.[1]
Permukiman
Perkampungan Suku Karera biasaya terletak di sebuah lapangan atau tanah terbuka, hal ini berguna untuk tempat upacara. Sebuah rumah adat yang di depannya terdapat beberapa batu megalitik, dan disekitarnya berdiri rumah-rumah orang kebanyakan. Rumah-rumah itu berupa rumah panggung yang tingginya sekitar satu meter dari permukaan tanah.Rumah adat tadi lebih besar dari rumah penduduk biasa. Atapnya melebar di bagian bawah dan di atasnya berbentuk kerucut. Bahan atapnya ialah anyaman ilalang.[2]