Bahasa Fermanggem adalah sebuah bahasa Papua yang dituturkan oleh suku Fermanggem. Bahasa ini sebagian besar digunakan di kampung Ampas. Selain itu, bahasa ini juga dituturkan bersama dengan bahasa Walsa di kampung Banda.[8]
Menurut para penutur bahasa tersebut, bahasa Fermanggem berbatasan di sebelah timur, barat, dan selatan dengan bahasa Walsa, sedangkan di sebelah utara dituturkan bahasa Taikat.[8]
Kondisi sosial
Diketahui bahwa suku Fermanggem memiliki 11 klan (marga), yang sebagian besar tinggal di kampung Ampas dan Banda. Di Kampung Ampas, wilayah suku Fermanggem berbatasan dengan empat suku lain di Kabupaten Keerom, di sekitar perbatasan Indonesia–Papua Nugini.[9]
Mata pencaharian masyarakat Fermanggem sebagian besar adalah petani, sementara yang lain memiliki industri pengolahan kayu dan produksi furnitur. Sementara itu, para wanita merajut noken atau yang oleh masyarakat Fermanggem disebut bai, untuk mengisi waktu luang hasil panen kebun.[9]
12Pugu, Melyana Ratana; Yani, Yanyan Mochamad (2019). "Human Security for Border Society: A Case Study at Waris Community at The Border of RI-PNG". Asia Pacific Studies (dalam bahasa Inggris). 3 (1). Jakarta: Universitas Kristen Indonesia: 11–24.
↑Siregar, Oscar; Yaam, Paul; Palangan, M.; Hoor, Heskia; Mangge, Mozes (1983). Upacara Tradisional Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Irian Jaya. Jayapura: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
↑Sumardi, Joseph; Kadir, Akhmad; Lekito, Hendri (2023). "Tamne Yisan Kefase: Upaya Merawat Kerukunan Umat
Beragama berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Keerom". CENDERAWASIH: Jurnal Antropologi Papua]]. 4 (2). Jayapura: Universitas Cenderawasih: 71–79.