Ritual Pelekatan Nama
Doa dan harapan tecermin pada nama seseorang, artinya seseorang yang menyandang nama tersebut diharapkan akan memperoleh hal-hal yang baik dalam kehidupan. Pemberian nama pada suku Dayak Modang disertai dengan prosesi pelekatan nama. Ritual Nen Kaeg Heig Metaeyang (yang mewujudkan permohonan kepada Yang Maha Kuasa) menjadi permulaan dari prosesi pelekatan namapada suku Dayak Modang. Sesudah selesai merapalkan mantra atau doa-doa dengan posisi menghadap ke sungai Mahakam, pimpinan upacara adat meletakkan sembilan telur ayam kampung ke ujung setiap tongkat mambu yang telah ditancapkan dengan berjajar, yang pada bagian bawahnya terdapat sirih, beras, dan rokok. Setelah itu, dilakukan penyembelihan seekor ayam jantan yang berwarna merah, darah ayam tersebut disangga dalam piring putih yang berisi beras dan telur, yang kemudian akan ditaruh di Mahakam. Bunyi gendang dan tabuhan gong mengiringi seluruh rangkaian ritual pelekatan nama.
Kemudian, orang tua membawa anak laki-lakinya yang akan diberi nama menuju ke tempat pelaksanaan adat atau. Tempat ini disebut dengan Hewat yang beralaskan tikar purun. Ibu memasang gelang manik pada anak tersebut. Pemasangan ini bermakna sebagai ikatan hubungan. Selanjutnya, dilaksanakan prosesi Me et Jiem atau pemotongan rambut anak oleh tetua adat, yang mempunyai arti penataan awal tata adat kehidupan atau merupakan ungkapan proses pertumbuhan. Setelah prosesi Me et Jiem usai, dilakukan ritual Net Leug atau memohon calon nama untuk anak melalui perantara daun pisang ambon yang telah dibentuk menjadi kotak dengan ukuran 3x4 cm sebanyak tiga rangkap.
Pemimpin upacara memegang dua potong daun pisang ambon itu dalam posisi berdiri. Daun tersebut dilemparkan keatas dan dibiarkan jatuh ke tanah sembari mengucap doa. Posisi daun yang baru jatuh tersebut dilihat, apabila kedua daun terlentang atau tertelungkup berarti terdapat pertanda Tidak, sehingga prosesi harus dilaksanakan lagi. Apabila posisi daun pisang yang dijatuhkan salah satu terlentang dan yang lainnya tertelungkup, itu berarti nama yang sudah diajukan pihak keluarga mendapat jawaban Ya dari leluhur mereka atau telah mendapat persetujuan.
Kemudian dilaksanakan ritual Ensoet Kenean atau memakaikan pakaian adat dan pusaka warisan kepada anak yang dilakukan oleh para tetua. Ritual tersebut melambangkan hubungan kekerabatan turun temurun yang memiliki makna penguatan identitas. Untuk mewujudkan rasa syukur, dilangsungkan ritual Newag Jip Edat atau pemotongan hewan berupa babi jantan yang diganti dengan dua ekor ayam jantan. Ritual Newag Jip Edat ini merupakan penghantar adat yang telah ditetapkan kepada Yang Maha Kuasa dan leluhur. Darah dari ayam tersebut akan dioleskan ke tangan, kaki, dan kepala pada anak dan orang tuanya, serta dioleskan pula ke benda-benda pusaka keluarga, antara lain Mandau, sebagai lambang pengukuhan secara spiritual.
Setelah ritual Ensoet Kenean selesai, akan dilaksanakan tarian adat Ngewai, yakni para tetua dan seluruh keluarga menari mengelilingi tempat ritual adat sebanyak delapan kali putaran. Tarian tersebut menggambarkan tahap-tahap proses kehidupan alam fana hingga alam baka. Ritual penetral lingkungan (yang dimaksudkan untuk menghilangkan hal-hal yang akan mengganggu kehidupan) akan menjadi penutup prosesi pemberian nama. Pada prosesi ini seusai membaca mantra, seorang tetua adat mengibas-ngibaskan rangkaian daun bambu, daun temali, peredang dan anak ayam ke lingkungan sekitar, termasuk kepada keluarga yang hadir pada ritual itu. Setiap anggota keluarga juga diminta untuk meludahi daun-daun tersebut. Berikutnya, anak ayam itu disembelih di bawah tongkat bambu, lalu tetua adat melihat isi perutnya untuk mengetahui apakah para leluhur berkenan tidak atas upacara adat yang telah dilaksanakan.[6]