Leluhur Ati adalah penduduk asli (atau pertama) dari kepulauan Filipina. Mereka kemungkinan besar tiba dari Kalimantan 20-30.000 tahun yang lalu, melalui wilayah tanah genting yang pada zaman prasejarah menghubungkan kepulauan Filipina dengan Kalimantan.[3] Menurut beberapa tradisi lisan, mereka juga telah mendiami Visayas sebelum orang Bisaya, yang sekarang menjadi mayoritas di Visayas.
Sebuah legenda menceritakan kisah tentang bagaimana pada awal abad ke-12, ketika Indonesia dan Filipina dipimpin oleh kerajaan bercorak India, leluhur orang Bisaya melarikan diri dari Kalimantan dari persekusi Rajah Makatunaw. Dipimpin oleh Datu Puti dan Datu Sumakwel mereka berlayar lalu mendarat di dekat sebuah sungai yang disebut Suaragan, di pantai barat daya Panay, dan menukar kalung dan salakot (caping) emas mereka dengan tanah milik kepala suku Ati yang bernama Polpolan dan putranya Marikudo. Kawasan perbukitan dibiarkan tetap milik orang Ati sedangkan dataran rendah dan tepian sungai diberikan kepada pendatang Melayu. Pertemuan ini diperingati melalui festival Ati-atihan. Namun legenda ini ditentang oleh beberapa sejarawan.[4]
Ati mempraktikkan sejenis animisme yang melibatkan roh baik dan jahat. Roh-roh ini adalah roh alam yang menjaga sungai, laut, langit, dan juga pegunungan. Ati di Pulau Negros menyebut mereka sebagai taglugar atau tagapuyo, yang secara harfiah berarti "penghuni." Kekristenan juga telah diadopsi karena isolasi yang lebih sedikit dan lebih banyak kontak dengan "orang luar".