Riwayat Hidup
Sujiwo Tejo lahir dengan nama asli Agus Hadi Sudjiwo di Jember pada 31 Agustus 1962.
Pada 1978, Sujiwo mendapatkan Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember. Kemudian, pada 1979, Ia kembali mendapatkan Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso. Selain itu, pada 1980, Sujiwo pun mengirimkan puisi dan cerita pendek untuk Majalah Gadis dan Anita.[3]
Sujiwo Tejo menempuh pendidikan di ITB pada 1980-1985 di jurusan Matematika dan Teknik Sipil pada 1981-1988. Saat kuliah, Ia aktif sebagai penyiar radio, bermain teater, mendirikan ludruk di ITB bersama dengan budayawan Nirwan Dewanto.[4] Selain itu, Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Perdalangan di Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB. Sujiwo juga terlibat dalam penciptaan hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada orientasi 1983.[5]
Pada 1983, Sujiwo mendapatkan kesempatan untuk meninjau kebudayaan di Iran sambil menampilkan film Kafir. Selain itu, Ia menata musik untuk berbagai pementasan teater di Bandung, seperti di Studi Teater Mahasiswa ITB dan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film Universitas Padjadjaran.[3]
Namun, pada 1985 ia sudah mulai tidak menghadiri kuliah, dan pada 1988 Sudjiwo Tejo memilih mundur dari kuliah dan memilih karier di dunia seni.[4]
Keluarga
Pada 1989, ia menikahi Rosa Nurbaiti dan memiliki tiga orang anak yakni Rembulan Randu Dahlia, Kennya Rizki Rinonce, dan Jagad.[6]
Karier
Ketertarikan Sujiwo Tejo dalam dunia seni, khususnya wayang, dimulai pada usia muda. Pada tahun 1994, Sujiwo menciptakan lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya dengan judul Semar Mesem dan menuntaskan 13 episode wayang kulit Ramayana di TPI pada 1996[5] dengan diiringi oleh wayang acppella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur.[4] Kemampuan Tejo dalam mendalang merupakan bakat turunan dari sang ayah, Soetedjo.[7]
Akibat sering berkumpul dengan komunitas Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), Sujiwo mendapat peluang untuk semakin berkembang di bidang kesenian. Sejak 1997, Ia mengajar teater di EKI dan memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia sejak 1998. Berlanjut pada tahun 1999, Tejo memprakarsai berdirinya Jaringan Dalang yang bertujuan memberi napas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini.[8]
Pada 2004, Tejo juga pernah mendalang di Yunani dan terus melanggar pakem wayang tradisional dengan mengubah karakter seperti Rahwana dan Pandawa menjadi lebih kompleks.[5]
Sepanjang kariernya, Sujiwo pernah menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun.[9] Selain itu, Ia juga pernah menjadi pelukis dan sutradara film.[4]
Teater
Sujiwo tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang merupakan singkatan dari "Ketawa Bareng Tejo".[10] Pada 1997-1999, Ia juga aktif mengajar, memberikan workshop, dan terlibat dalam pertunjukan kolaboratif.[4]
Keterlibatan Sujiwo dalam pertunjukan teater adalah dengan membuat pertunjukan "Laki-laki" yang berkolaborasi dengan koreografer Rusdi Rukmarata di Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu pada 1999. Sujiwo Tejo juga menjadi Sang Dalang dalam pementasan EKI Dancer Company yang bertajuk "Lovers and Liars" di Balai Sarbini pada 27-28 Februari 2004.[8]
Pada April 2007, Sujiwo mementaskan teater musikal di 'panggung' Pemakaman Karet Bivak. Teater musikal ini dilangsungkan pada malam Jumat Kliwon. Dalam pertunjukan ini, Sujiwo hendak menyampaikan pesan bahwa kematian bisa juga disikapi dengan tawa atau kemarahan dan tidak melulu harus dihadapi dengan tangis.[11]
Pada 9 Januari 2020, Ki Sujiwo Tejo menjadi dalang dalam Pagelaran wayang kulit malam Jum’at Kliwon yang ke 285 oleh Teater Lingkar bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang di gedung Taman Budaya Raden Saleh. Sujiwo tampil membawakan Lakon Sang Basukarno.[12]
Musikal
Selain itu, Sujiwo juga menggarap musik untuk pertunjukan musikal berjudul "Battle of Love-when love turns sour, yang digelar 31 Mei - 2 Juni 2005 di Gedung Kesenian Jakarta. Pertunjukan ini dilaksanakan bersama Rusdy Rukmarata sebagai sutradara dan koreografer. Adapun hasil dari pertunjukan ini digunakan untuk membiayai program pendidikan dan pelatihan bagi anak-anak putus sekolah yang dikelola oleh Yayasan Titian Penerus Bangsa. Pada 1-2 Juli 2006, Sujiwo Tejo menyutradarai drama musikal yang berjudul ‘Pangeran Katak dan Puteri Impian’ yang digelar di Jakarta Convention Center.[8]
Film
Tejo juga menjajal dunia film dengan debut pada 2001 lewat film Telegram arahan Slamet Rahardjo dengan lawan main Ayu Azhari. Karir di dunia film pun berlanjut ke berbagai film populer seperti Janji Joni, Sang Pencerah[5] dan Detik Terakhir.[4]
Tawaran film pun berlanjut ke film Kafir (2002),[13] Kanibal (2004) sebagai Dukun Kuntetdilaga, dan Kala (2007).[14] Selain film, Sujiwo juga membintangi Gala Misteri SCTV yang berjudul "Kafir-Tidak Diterima di Bumi" pada 2004 bersama Meriam Bellina.[15]
Pada 2010, Sujiwo debut menjadi pemimpin produksi dari film berjudul "Bahwa Cinta Itu Ada".[16]
Karir bermusik
Dalam bidang musik, Tejo dikenal lewat album Pada Suatu Ketika (1998) dengan video klip yang meraih penghargaan di Grand Final Video Musik Indonesia 1999. Ia juga menciptakan musik untuk musikal Battle of Love (2005) yang keuntungannya disumbangkan untuk pendidikan anak-anak putus sekolah.[5]
Album keempat: PRESIDEN YAIYO
Pada Juli 2007, Sujiwo Tejo merilis berjudul PRESIDEN YAIYO. Isi album keempat ini lebih banyak bercerita tentang kondisi sosial Indonesia yang carut marut dengan nuansa jazzi karena aransemen musiknya digarap para musisi jazz. Album ini didanai sendiri olehnya dari penjualan lukisan dengan sistem todong sana-todong sini dikarenakan bermateri kritik sosial. Promosi album juga dilakukan sendiri lewat promo ke radio-radio dan menggelar pertunjukan.[17]
Album kelima: Mirah Ingsun
Album kelima Sujiwo Tejo yang berjudul Mirah Ingsun dirilis pada 9 November 2012. Album ini merupakan lanjutan dari album keempatnya, Yaiyo yang dirilis pada 2007. Album kelima ini berisi 14 buah lagu yang juga bisa didapat via iTunes.[18]
Pada 6 Januari 2013, muncul satu akun baru di situs Youtube yang mengatasnamakan Sujiwo Tejo dengan tiga video di dalam akun tersebut. Pada video pertama yang berjudul Sujiwo Tejo - Mirah Ingsun (Official), merupakan perkenalan album kelimanya Sujiwo Tejo. Uniknya, penjelasan mengenai album kelimanya ini dilakukan di Tiongkok.[18]
Terakhir kali, akun Youtube Sujiwo Tejo mengunggah video untuk lagu Within dengan nama Sujiwo Tejo Dances Eyang Makmur.[18]
Konser
Sujiwo berpartisipasi dalam Java Jazz 2014 yang digelar JI Expo PRJ Kemayoran.[19]
Pada 30-31 Agustus 2013, Sujiwo Tejo menggelar konser yang berjudul "Maha Cinta Rahwana" di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.[20] Konser ini mengisahkan cinta Rahwana yang agung melalui lagu-lagu karya Sujiwo Tejo dan dijelaskan sebagai "Panggung yang puitis tapi tak kehilangan kenakalan dan spontanitas yang "njancuki".[21][22]
Konser ini menghadirkan bintang tamu seperti Glenn Fredly, Anji, Syaharani, Putri Ayu, Sruti Respati, Butet Kartaredjasa, Sitok Srengenge, Joshua Pandelaki, Bintang Indrianto, Tya Subiakto dan TRIO GAM (Gareng, Wisben, Joned). Konser ini pun didukung oleh penata musik dari Bintang Indrianto, artistik oleh Ong Harry Wahyu dan Agus Noor sebagai direktur pertunjukan.[21][22]