Sudarso mulai belajar melukis pada tahun 1937 secara autodidak.[3] Sejak itu sampai tahun 1938 berkelana ke Bandung, hidup dari berdagang telur dan susu berkeliling kota hingga bertemu Affandi, pelanggannya.[butuh rujukan]Ia melukis bersama dengan pelukis lain di Kota Bandung yaitu Affandi, Barli, Wahdi dan Hendra Gunawan.[4] Mulai saat itu ia berlatih melukis dengan Affandi.[butuh rujukan]
Ia pernah mengadakan pameran lukisan tunggal di Kedutaan Argentina, Jakarta pada tahun 1960, dan di Balau Budaya Jakarta tahun 1969.[5] Tentang seni lukisnya, ia terkenal dalam Seni Lukis Jakarta dalam Sorotan.[5] Sudarso suka melukis perempuan desa yang tampak sederhana dengan gambar pemandangan alam sebagai latar dengan gaya yang khas.[5] Ia dianggap tepat dalam mengungkapkan psikologi wanita desa, sederhana, polos dan wajar.[5] Kebanyakan lukisan itu berpose sedang duduk.[5] Penggambaran kaki tangan perempuan-perempuan dalam arti kualitatif juga sangat menonjol.[5]Affandi mengakui bahwa sampai saat ini, dia merupakan pelukis Indonesia yang pandai menggambar kaki dan tangan.[5] Beberapa karyanya adalah, Gajah Uwong, Wanita, Ibu dan Anak, dan Dik Kedah.[5]
↑Djien, Oei Hong (April 2012). Gautama, C., dan Khoiri R., I. (ed.). Seni dan Mengoleksi Seni: Kumpulan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, OHD Museum & Djarum Foundation. hlm.62. ISBN978-979-91-0439-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12345678(Indonesia)Hassan Shadily & Redaksi Ensiklopedi Indonesia (Red & Peny)., Ensiklopedi Indonesia Jilid 6 (SHI-VAJ). Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, hal. 3323