Dalam tipologi linguistik, bahasa subjek-objek-verba (SOV) adalah bahasa yang urutan unsur struktur kalimatnya berupa atau biasanya berupa subjek, objek, dan verba. Jika bahasa Indonesia adalah bahasa SOV, maka "Adi lantai menyapu" akan menjadi kalimat yang umum, alih-alih "Adi menyapu lantai". Tipologi ini juga dipakai untuk menjelaskan bahasa ergatif seperti bahasa Adyghe dan Basque yang memiliki agen sebagai pengganti subjek sehingga urutannya menjadi agen-objek-verba.
Struktur kalimat baku bahasa Mandarin adalah SVO, tetapi untuk menyusun kalimat sederhana dengan konteks yang jelas, urutan unsur kalimatnya dapat dibolak-balik sehingga memungkinkan terbentuknya struktur SOV maupun OSV. Sementara itu, bahasa Belanda dan Jerman dianggap berstruktur SVO dalam tipologi konvensional, tetapi SOV dalam tata bahasa generatif.
Ciri-ciri
Bahasa-bahasa SOV memiliki kecenderungan kuat menggunakan posposisi daripada preposisi, meletakkan verba bantu setelah verba tindakan, meletakkan frasa nominal genitif sebelum nomina, meletakkan nama sebelum gelar atau sebutan (misalnya "Tatik Ibu" dan "Jono Kopral", alih-alih "Ibu Tatik" dan "Kopral Jono"), dan memberi subordinator pada akhir klausa subordinat. Bahasa-bahasa tersebut juga memiliki kecenderungan cukup kuat meletakkan adjektiva demonstratif sebelum nomina yang dimodifikasi. Klausa relatif yang mendahului nomina yang dirujuk biasanya menandakan struktur kalimat SOV, tetapi tidak berlaku sebaliknya: umumnya bahasa-bahasa SOV menggunakan klausa relatif prenominal dan posnominal secara berimbang. Bahasa-bahasa itu tampaknya juga memiliki kecenderungan menggunakan susunan frasa adposisionalwaktu-cara-tempat.
Umumnya, semua anggota rumpun bahasa Tionghoa berstruktur kalimat SVO. Akan tetapi, terutama dalam bahasa Mandarin, penggunaan struktur SOV juga dapat diterima, bahkan ada aturan khusus untuk menyusun kalimat berstruktur SOV.