Stasiun ini dibangun sebagai bagian dari jalur kereta api lintas Yogyakarta–Srandakan–Sewugalur.[3] Stasiun ini dibuka pada tanggal 21 Mei 1895 bersamaan dengan pembukaan segmen Yogyakarta–Srandakan.[4] Stasiun ini kini dicat ulang menjadi warna biru dan putih. Di sekitar stasiun tersebut masih ada bekas-bekas rel, sinyal serta potongan roda kereta api.[5]
Stasiun ini ditutup sejak 1976–1977 karena kebocoran pendapatan, banyaknya penumpang gelap, kekurangan biaya perawatan prasarana, jalan raya diperlebar, dan mobil makin banyak.[6]
Stasiun ini dahulu mempunyai jalur cabang menuju Pundong, Bantul yang dibuka pada tahun 1917-1919.[4] Jalur ini unik karena jalur ini merupakan salah satu dari berberapa jalur KA di Indonesia yang dahulu memakai sepur 1.435mm.[7] Sayangnya jalur ini dibongkar oleh pekerja romusa Jepang pada tahun 1943 karena digunakan untuk membangun jalur kereta api baru di Saketi, Bayah, dan ada yang dibawah ke Burma untuk dibangunkan jalur kereta api di sana.[8]
Saat ini, kompleks Stasiun Ngabean menjadi tempat parkir bus pariwisata yang hendak mengantar rombongan ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Persinyalan kereta api masih berupa tipe "Alkmaar" yang sampai sekarang masih dapat dilihat, antara lain di halaman Kantor Camat Ngampilan dan di pinggir Jalan Letjend Soeprapto. Kini, bangunan stasiun yang bercat biru dan putih ini menjadi tempat pemesanan tiket wisata bus keliling "Thole" Yogyakarta.[9]
Galeri
Sinyal keluar bagian selatan, sebelah utara Kantor Camat Ngampilan.
Bekas perlintasan sebidang dekat sinyal keluar bagian selatan (sudah terpendam).
Plat nama stasiun Ngabean beserta ketinggiannya, +100 m.
Sisa roda kereta yang disimpan.
Sisa batang rel kereta yang masih utuh; lengkap dengan bantalannya.
Bekas wesel di dekat ruang PPKA.
Pintu depan stasiun Ngabean.
Bus pariwisata parkir di "terminal" Taman Parkir Ngabean.
Sisa perlintasan sebidang. Terdapat iklan tembakau terpancang di dekatnya.
Sinyal keluar bagian utara, berdiri di trotoar Jalan Letjend Soeprapto.
Tampak samping Stasiun Ngabean
Referensi
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).