Stasiun Kadipiro sebelum diberi tambahan kanopi pada area penyeberangan antarperon.
Stasiun ini dibangun untuk meningkatkan pelayanan kereta api bandara yang menghubungkan pusat Kota Solo dengan Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo. Pada awalnya, stasiun ini sempat diwacanakan akan dibangun di wilayah Kampung Sekip, tepatnya di sayap timur rel.[5] Akan tetapi, rencana pembangunan stasiun di Kampung Sekip ini terpaksa dipindah ke selatannya mengingat relnya sendiri akan dibangun layang. Selain itu, di tempat semula terdapat pabrik sehingga agar aktivitas pabrik tersebut tidak terganggu, pembangunan stasiun harus digeser.[6]
Bangunan dan tata letak
Stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dan sejak awal beroperasi telah menggunakan sistem persinyalan elektrik. Pada awalnya, jalur 2 merupakan sepur lurus arah Solo Balapan/Jebres maupun Gundih serta jalur 3 merupakan sepur lurus dari dan ke arah Bandara Adi Soemarmo. Setelah jalur ganda pada petak stasiun ini hingga Kalioso resmi dioperasikan per akhir Oktober 2024,[7] tata letak jalur di stasiun ini sedikit dirombak. Jalur 1 digunakan sebagai sepur lurus jalur ganda ke arah Gundih, sedangkan jalur 2 digunakan sebagai sepur lurus jalur ganda dari arah Gundih sekaligus sepur raya jalur tunggal ke arah Solo Balapan.
Perombakan diagram lintasan stasiun ini dilakukan sehubungan dengan pembangunan jembatan layang Simpang Tujuh Joglo yang dibangun untuk memecah kepadatan lalu lintas di perlintasan sebidang. Jembatan layang ini diklaim sebagai jembatan kereta api terpanjang di Indonesia dengan panjang 270m (890ft) dengan bentang tengah 130m (430ft).[8]
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 17 Agustus 2025.[9]