Artikel ini membahas mengenai bangunan, struktur, infrastruktur, atau kawasan terencana yang sedang dibangun atau akan segera selesai. Informasi di halaman ini bisa berubah setiap saat (tidak jarang perubahan yang besar) seiring dengan penyelesaiannya.
Stasiun Gunung Putri
b25
Gunung Putri
+115 m
Stasiun Gunung Putri sebelum dibangun ulang dan direnovasi, 2015
Asal-usul pembangunan halte ini dapat dilacak dari masterplan pembangunan jalur kereta api lingkar luar Jakarta yang dibuat oleh Departemen Perhubungan Republik Indonesia pada awal dekade 1990-an. Tujuannya, agar kereta api angkutan barang tidak memasuki wilayah DKI Jakarta. Rutenya dari Stasiun Parung Panjang menuju Stasiun Sungai Lagoa via Stasiun Citayam dan Stasiun Cikarang. Namun, krisis finansial Asia 1997 menyebabkan rancangan itu berhenti di tengah jalan, sehingga jalur kereta api hanya sampai ke Stasiun Nambo. Untuk mengisi slot rute yang kosong ini, dioperasikanlah KRD dengan relasi Manggarai—Nambo menggunakan armada KRD MCW 302 pada tahun 1999 hingga 2006.
Pada tahun 2006, KRD Nambo dihentikan pengoperasiannya karena usia KRD yang sudah tua dan tidak layak operasi. Pendapatan dari KRD Nambo ini pun tidak banyak sekalipun penumpangnya sangat padat karena pada saat itu banyak sekali penumpang gelap yang tidak membeli karcis. Dengan penghentian operasi KRD Nambo ini, secara otomatis stasiun dan jalurnya juga dinonaktifkan, termasuk Stasiun Gunung Putri ini.[4]
Setelah stasiun ditutup, setiap hari Jumat selalu diadakan pasar kaget, pasar sesaat yang rutin berlangsung di emplasemen stasiun ini. Sejak tahun 2013, Jalur Nambo pun mulai diaktifkan untuk Kereta api Angkutan Semen, dilanjutkan dengan pembukaan KRL Commuter Line yang baru ada sejak tahun 2015. Meskipun saat ini ada layanan Commuter Line tujuan Stasiun Nambo, Stasiun Gunung Putri masih belum juga diaktifkan. Pasar kaget yang ada di halaman stasiun ini pun sempat ada sekalipun KRL telah beroperasi normal sebelum kemudian ditertibkan sejak bulan Maret tahun 2021.[5][6]
Reaktivasi halte ini bersama dengan Halte Pondok Rajeg sedang dikaji oleh Kemenhub, ditandai dengan tinjauan lapangan yang dilakukan pada Juni 2021.[7]
Tata letak
Stasiun ini hanya memiliki satu jalur kereta api dengan 1 peron sisi menghadap ke utara.
Pada 8 Desember 2017, seorang pria ditemukan tewas tergeletak di emplasemen Stasiun Gunung Putri. Jasad korban ditemukan dalam kondisi kaki terputus akibat teterjang armada KRL dan terseret hingga 300 meter, diduga karena tertabrak KRL. Usai diinvestigasi, korban didapati telah dibunuh dengan motif perampokan sepeda motornya. Korban pun dibuang ke lintasan kereta dengan tujuan untuk menyembunyikan jasad korban.[8]
Referensi
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).