Stasiun Banjarsari (BJI) adalah stasiun kereta api kelas I yang terletak di Arahan, Merapi Timur, Lahat. Stasiun yang terletak pada ketinggian +47 meter ini termasuk dalam Divisi Regional III Palembang serta merupakan stasiun yang letaknya paling selatan di Kabupaten Lahat. Meskipun diberi nama Banjarsari, stasiun ini tidak terletak di Desa Banjarsari, tetapi terletak di sebelah utara desa tersebut.
Awalnya, stasiun ini memiliki dua jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus, dengan sepur badug menyambung di jalur 1. Namun, sejak pengoperasian tempat bongkar-muat kontainer modifikasi untuk KA angkutan batu bara swasta Sumsel per 1 November 2017 di seberang stasiun ini,[3] jalurnya kemudian ditambah menjadi tiga dengan jalur 1 dan 3 merupakan sepur belok panjang (long siding). Jalur-jalur ini cukup untuk memuat satu rangkaian KA batu bara Sukacinta.
Sejak diberlakukannya Gapeka baru per 1 Desember 2019, stasiun ini kini menjadi terminus bagi sebagian besar perjalanan KA batu bara swasta Sumsel (KA Simpangsari). Stasiun ini juga tetap melayani persilangan dan penyusulan antarkereta api, tetapi tidak melayani keberangkatan dan kedatangan penumpang. Di antara stasiun ini dan stasiun Muara Enim kini terdapat stasiun baru, yaitu Muara Lawai, yang dikhususkan untuk KA Simpangmuara dan Baralawai.
Pada 6 Juli2005, sekitar pukul 14.45 WIB, dua kereta api Bukit Serelo dengan nomor S7 dan S8 bertabrakan di stasiun Banjarsari. Pada awalnya, pukul 14.00, KA S7 dengan lokomotif CC201 tujuan stasiun Lubuk Linggau berhenti di emplasemen stasiun untuk menunggu bersilang dan tukar lokomotif dengan KA S8 yang ditarik lokomotif BB203 tujuan stasiun Kertapati. Setelah 45 menit, KA S8 datang dan seharusnya berhenti di sinyal masuk yang berkedudukan tidak aman, tetapi kereta tersebut justru tetap melaju hingga menabrak KA S7, menyebabkan salah satu kereta dari KA S7 anjlok sebanyak 2 as roda. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini, tetapi sebanyak 25 orang mengalami luka - luka.[4]
Pada tanggal 26 Juli dan 23 Oktober 2018, sekelompok ibu-ibu warga sekitar Stasiun Banjarsari memblokade akses masuk ke area bongkar-muat kontainer modifikasi untuk angkutan batu bara Sukacinta. Kejadian ini merupakan buntut dari masalah polusi debu yang diakibatkan oleh aktivitas bongkar muat di stasiun tersebut, yang setiap harinya mengganggu aktivitas warga, yang pada akibatnya warga menuntut uang kompensasi atas debu yang beterbangan di permukiman warga tersebut.[5][6]