Kim pun menjadi pemimpin dari "kelompok TK" di dalam Partai Republik Demokrat, yang beranggotakan dirinya sendiri (sebagai chairman keuangan partai), Baek Nam-uck (direktur kebijakan), Gil Jae-ho (sekretaris jenderal), dan Kim Jin-man (pemimpin fraksi di Majelis Nasional). Diberi nama sesuai kampung halaman mereka, yakni Taegu dan Kyongbuk (pelafalan dari Daegu dan Gyeongsang Utara dalam skema romanisasi McCune–Reischauer), kelompok TK sangat berpengaruh dalam penerapan kebijakan industrial Park selama Republik Korea Ketiga, dengan menyalurkan kontrak pemerintah dan menerapkan kebijakan yang menguntungkan bagi rekanannya.
Ekspansi
Pada tahun 1962, Kim menjual Kumsung Textiles agar dapat berinvestasi pada produksi semen di Provinsi Gangwon. SsangYong Cement Industrial Company lalu menjadi perusahaan milik Kim yang paling penting, dan pabriknya di Donghae kemudian berkembang menjadi pabrik semen terbesar di dunia.[4] Kim lalu membeli Samwha Paper untuk memproduksi kemasan semen dan mendirikan Kumsung Shipping untuk mengangkut semen dengan kapal. Nama dari dua perusahaan tersebut kemudian masing-masing diubah menjadi SsangYong Paper dan SsangYong Shipping.
Pasca krisis minyak 1973, Kim bernegosiasi dengan Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran, untuk membangun sebuah kilang minyak di Korea Selatan. Korea-Iran Petroleum lalu resmi didirikan pada tahun 1976 untuk membangun kilang minyak di Ulsan.[5] Kilang minyak tersebut pun mulai beroperasi pada tahun 1980, dan nama dari perusahaan tersebut kemudian diubah menjadi Ssangyong Oil Refining.[5]
Tahun-tahun terakhir dari Kim Sung-kon
Dalam kapasitasnya sebagai chairman keuangan dari Partai Republik Demokrat, Kim lalu menekan Gulf Oil untuk berkontribusi pada partai. Pada tahun 1975, dalam sebuah kesaksian untuk Senat Amerika Serikat, chairman dari Gulf Oil, Bob Dorsey, mengungkapkan bahwa Gulf Oil telah berkontribusi ke partai tersebut sebesar $1 juta pada tahun 1966 dan $3 juta pada tahun 1970, walaupun Kim awalnya meminta kontribusi sebesar $10 juta pada tahun 1970.[6] Kontribusi tersebut diserahkan melalui UBS, tetapi tidak terdapat bukti bahwa kontribusi tersebut telah sampai ke Korea Selatan.[7]
Karier politik Kim berakhir pada tahun 1971, saat kelompok TK dan Kim Jong-pil, perdana menteri saat itu, bergabung dengan Partai Demokrat Baru sebagai bagian dari upaya untuk memberhentikan Oh Chi-sung, menteri dalam negeri, yang merupakan rival dari Kim. Kelompok TK percaya bahwa Park tidak akan memberhentikan mereka, karena mereka mendukung amendemen konstitusi yang memungkinkan Park untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum Korea Selatan 1971, tetapi Park kemudian memanggil Kim dan sejumlah orang lain yang mendukung pemberhentian Oh Chi-sung di Blue House dan memukuli mereka, sehingga mereka akhirnya keluar dari partai dan otomatis juga keluar dari Majelis Nasional.[8] Menurut sejumlah kesaksian, Gil Jae-ho harus menggunakan tongkat untuk berjalan setelah pemukulan tersebut, dan Kim Sung-kon dipermalukan lebih lanjut dengan kumisnya dicukur.[9]
Pasca kudeta Restorasi Oktober, dengan Park tetap berkuasa, Heavy-Chemical Industry Drive diadopsi sebagai kebijakan industri nasional, sehingga sangat menguntungkan chaebol, termasuk SsangYong. Sebagai bagian dari upaya untuk memulihkan hubungan, Park lalu menunjuk Kim sebagai presiden dari kamar dagang Korea, tetapi Kim akhirnya meninggal akibat stroke pada tahun 1975 di usia 62 tahun.[8]
Generasi kedua
Jabatan chairman dari SsangYong kemudian diserahkan ke putra sulung dari Kim Sung-kon, Kim Suk-won, yang saat itu baru berusia 29 tahun.[10] Kim pun melanjutkan ekspansi SsangYong ke sejumlah bidang baru, seperti konstruksi, kendaraan bermotor, dan sekuritas. Penjualan SsangYong pun tumbuh lebih dari 18.000% menjadi ₩14,6 triliun pada tahun 1994, saat ia mengundurkan diri dari SsangYong untuk mengejar karier politik, dari ₩79,7 miliar pada tahun 1974, sebelum ia mengambil alih SsangYong.
Adiknya, Kim Suk-joon dan Milton Kim, juga sangat terlibat dalam operasional SsangYong. Suk-joon menjadi presiden dari Ssangyong E&C pada tahun 1983, chairman dan CEO dari SsangYong Motor pada tahun 1994, dan chairman dari SsangYong pada tahun 1995. Sementara Milton Kim memulai kariernya sebagai asisten manajer di SsangYong Investment & Securities pada tahun 1990, dan kemudian menjadi CEO dari SsangYong pada tahun 1995.[10] Keduanya terkadang berselisih mengenai manajemen dan strategi. Suk-won menerapkan praktik bisnis tradisional dari ayahnya dan chaebol lain, sementara Milton menerapkan praktik ala Barat, seperti gaji berdasarkan kinerja.[10]
Kim Suk-won sangat tertarik untuk berekspansi ke bisnis produksi otomotif, dan pada tahun 1986, SsangYong akhirnya mengakuisisi Dong-A Motor, yang memulai sejarahnya sebagai Ha Dong Hwan Motor pada tahun 1954. Dong-A memproduksi jeep untuk militer Amerika Serikat, serta truk dan bus. Dong-A juga mengakuisisi Keohwa pada tahun 1983. Setahun kemudian, SsangYong membeli Panther Westwinds. Pada tahun 1988, nama dari Dong-A diubah menjadi SsangYong Motor Company.
Pada tahun 1991, Kim Suk-won berinvestasi sebesar $2,5 miliar agar dapat memproduksi SUV dan mobil berpenggerak empat roda.[11] Namun, lima tahun kemudian, SsangYong Motor Company terbukti menjadi beban keuangan, dengan merugi sebesar ₩505 miliar dan memiliki utang sebesar ₩3,4 triliun. Arus kas dari SsangYong Motor Company juga sangat ketat, sehingga produksi dari sedan pertamanya, SsangYong Chairman, ditunda selama 20 hari, sementara pengembangan dari produk lain ditunda.[11]
Pemisahan
Kim Suk-joon, chairman dari SsangYong saat itu, pun mulai berupaya untuk menjual sebagian dari bisnisnya guna mengumpulkan modal, termasuk bernegosiasi dengan Samsung dan kemudian Daewoo untuk menjual bisnis otomotifnya. Pada tahun 1997, Kim menjual SsangYong Paper ke Procter & Gamble. Penjualan tersebut pun membuat marah Kim Suk-won, yang mengundurkan diri dari Majelis Nasional untuk kembali menjabat sebagai chairman dari SsangYong, tetapi krisis finansial Asia membuat para chaebol tidak dapat membiayai kembali utang mereka, sehingga membuat Korea Selatan juga mengalami krisis dan mengarah pada bailout sebesar $60 miliar dari IMF. Pada akhir tahun 1997, SsangYong Motor resmi dijual ke Daewoo, sementara Milton mendorong Suk-won untuk juga menjual bisnis sekuritas.[10] Daewoo kemudian juga kolaps setelah bangkrut dan terlibat skandal korupsi, sehingga SsangYong Motor lalu beberapa kali berganti pemilik hingga KG Group membelinya pada tahun 2022.
Pada tahun 1998, SsangYong menjual Riverside Cement ke Texas Industries. Setahun kemudian, saham dari SsangYong Oil Refining juga dijual ke Saudi Aramco.[12] Dua unit hotel dan Yongpyong Resort, yang dibeli oleh SsangYong pada tahun 1983, juga dijual.[11] Pada tahun 2000, saham dari Ssangyong Cement Industrial pun dijual ke Taiheiyo Cement.
Keluarga Kim tetap mengelola SsangYong E&C, bahkan setelah diakuisisi oleh Korea Asset Management Company (KAMCO) pada tahun 2002 dan kemudian dijual ke Investment Corporation of Dubai pada tahun 2015. Namun, keluarga Kim kemudian dipaksa untuk tidak lagi mengelola SsangYong Cement, dengan Kim Suk-won mengundurkan diri dari perusahaan tersebut pada tahun 2004.[4]
Unit
Bekas unit dari SsangYong meliputi:
Riverside Cement, kini dikendalikan oleh Texas Industries
Ssangyong Cement Industrial Co. Ltd., kini menjadi Ssangyong C&E
Ssangyong Cement (Pacific), Ltd.
Ssangyong Cement (Singapore), Ltd.
Ssangyong Engineering & Construction Co., Ltd.
Ssangyong Investment & Securities Co., kemudian menjadi Good Morning Securities