Srimpi Muncar dibawakan oleh empat penari putri yang mengenakan busana juga tata rias khas keraton, lengkap dengan keris dan cundrik sebagai properti simbolis. Musik iringan menggunakan gamelan laras pelog pathet barang, dengan repertoar gendhing seperti Lagon Wetah, Ladrang Gati Bima, serta Gendhing Muncar sebagai penutup.[butuh rujukan]
Gerakan dalam Srimpi Muncar dikenal lembut, gemulai, dan anggun, dengan dinamika lambat namun penuh makna.[3] Gerak-gerak dasar seperti lumaksono (langkah), sabet (gerakan tangan), dan nindak (perubahan posisi) dibawakan secara harmonis dan simetris oleh keempat penari. Tari ini diawali dengan bagian bubuka, berupa perkenalan karakter penari melalui gerakan lambat dan penuh keanggunan. Dilanjutkan dengan bagian pokok, yang menyimbolkan pertarungan batin dan konflik dua dewi. Puncaknya ditandai dengan adegan penggunaan senjata (keris/cundrik) secara simbolik. Bagian panutup kemudian meredakan tensi dengan gerak harmonis sebagai tanda penyelesaian.[butuh rujukan]
Dalam pementasan, kedua tokoh tersebut dibedakan terkait ragam gerak, tata busana, dan tata riasnya. Penampilan penari dalam Srimpi Muncar sangat diperhatikan. Dewi Adaninggar mengenakan busana khas seperti kain motif cindhe, baju satin lengan panjang, dan berbagai aksesoris lainnya.[4] Rias wajah menonjolkan karakteristik putri Cina. Sedangkan Dewi Kelaswara mengenakan kain motif parang gurdha dengan baju rompi beludru dihiasi bordir keemasan, serta aksesoris kepala seperti jamang dan sumping ron. Keduanya membawa senjata; keris untuk Dewi Kelaswara dan cundrik untuk Dewi Adaninggar.[5] Dua senjata ini digunakan dalam adegan peperangan yang tetap disajikan dalam ekspresi gerak estetis yang tenang dan berimbang, tanpa unsur kekerasan fisik.[butuh rujukan]
Nilai budaya
Sebagai bentuk Srimpi klasik, Srimpi Muncar memperlihatkan unsur keanggunan, spiritualitas, dan estetika kerajaan Jawa. Meski telah mengadaptasi unsur modern—seperti kolaborasi orkestra gesek barat—esensi sinom dan ritualnya tetap dijaga. Tarian ini menegaskan nilai-nilai seperti keberanian, kehormatan, dan kesopanan yang diwakili oleh kedua tokoh dewi dalam drama ritualnya.[butuh rujukan]
Sejak penetapan tersebut, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan, di antaranya melalui pementasan rutin di lingkungan keraton, terutama dalam acara budaya seperti Uyon-Uyon Hadiluhung.[7] Selain itu, pendokumentasian digital, pelatihan generasi muda, serta revitalisasi melalui kolaborasi musik kontemporer juga menjadi bagian dari strategi pelestarian agar tarian ini tetap hidup dan dikenal luas di era modern. Dukungan dari pemerintah daerah dan komunitas seni turut memperkuat eksistensi Srimpi Muncar sebagai bagian dari identitas budaya Yogyakarta.[butuh rujukan]
Referensi
12crew, kraton. "Srimpi Muncar". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-19.
↑Program, Admin (2020-08-05). "Uyon-uyon Hadiluhung (10 Agustus 2020)". Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-19.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.