Tari Srimpi Mondrorini merupakan tari klasik bergaya Mangkunegaran yang berasal dari Surakarta. Tarian ini diciptakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII dan termasuk dalam kategori tari srimpi, yakni jenis tarian keraton yang identik dengan kelembutan serta keanggunan gerak. Tari Srimpi Mondrorini mengisahkan pertempuran simbolik antara dua tokoh ratu (putri) dan para patih perempuan, dengan menampilkan dinamika gerak yang halus tetapi sarat makna. Selain sebagai ekspresi estetika, tarian ini mengandung nilai filosofis mendalam, mencerminkan prinsip harmoni, keteguhan, dan keanggunan dalam menghadapi konflik. Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Tari Srimpi Mondrorini sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang penting dalam tradisi seni pertunjukan Jawa.
Sejarah
Tari Srimpi Mandrarini diciptakan pada masa pemerintahan Mangkunegara V, yakni Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara V, yang memiliki nama kecil Raden Mas Sunita. Tari ini termasuk dalam jenis beksan srimpi, yaitu bentuk tari yang pada masa tersebut tidak memiliki kekuatan sakral sekuat beksan bedhaya, sehingga lebih sering dipentaskan sebagai hiburan dalam berbagai acara keraton, terutama untuk menyambut tamu-tamu penting seperti Gubernur Jenderal dan Residen Belanda.[1]
Nama Mandrarini berasal dari gabungan kata mandra, yang berarti kelebihan atau keutamaan, dan rini, yang berarti perempuan. Dengan demikian, “Mandrarini” mengandung makna seorang perempuan yang memiliki kelebihan atau keistimewaan (linuwih). Tari Srimpi Mandrarini menggambarkan pertarungan antara empat prajurit wanita, yang terbagi dalam dua kelompok: ratu melawan ratu, dan patih melawan patih. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam tarian ini adalah Dewi Suprobowati dan Sri Kenya Rajadi sebagai para ratu, serta Dewi Genawati dan Dewi Nilawati sebagai para patih. Pertarungan mereka divisualisasikan melalui gerakan tari dengan menggunakan properti berupa cundrik (keris kecil) dan gendewo (busur panah).
Pada masa awal penciptaannya, Tari Srimpi Mandrarini memiliki durasi sekitar 30 menit. Namun, durasi tersebut kemudian dipersingkat menjadi 15 menit oleh Ibu Bei Mintararas, seorang empu tari dari lingkungan Keraton Mangkunegaran. Iringan musik tari yang semula menggunakan Ladrang Gonjang Ganjing kemudian diubah menjadi Ladrang Gondo Suli. Penelitian dan pelestarian tari ini pada umumnya berfokus pada versi yang telah dipadatkan tersebut.[1]
Pementasan
Srimpi Mondrorini
Tari Serimpi Mondrorini diiringi oleh struktur gending yang berurutan dan khas. Iringan dimulai dengan padesan, dilanjutkan dengan odo-odo yang ditandai oleh bunyi geprak cek-cek. Setelah itu, gending memasuki bagian sampak atau slepekan, kemudian berlanjut ke bagian bukosuwara yang biasanya berbentuk ladangan, dan diakhiri dengan bagian ayak-ayakan.[2] Terdapat perbedaan pendapat mengenai urutan penciptaan antara gending dan tari. Sebagian kalangan berpendapat bahwa gending diciptakan terlebih dahulu sebelum tarian, sementara yang lain meyakini bahwa tarianlah yang lebih dahulu ada, kemudian diiringi oleh gending yang disesuaikan.[3]
Durasi pertunjukan Tari Serimpi Mondrorini berkisar antara 15 hingga 20 menit. Adapun jenis Serimpi lainnya dapat memiliki durasi lebih panjang, bahkan mencapai 40 menit. Pada masa lampau, tarian Serimpi versi keraton dipentaskan dengan durasi sekitar satu jam dan memiliki fungsi khusus, seperti untuk menyambut tamu kerajaan atau memperingati peristiwa-peristiwa penting di lingkungan istana. Meskipun berasal dari tradisi istana, Tari Serimpi Mondrorini tidak tergolong sebagai tari sakral seperti beberapa tari klasik Jawa lainnya. Oleh karena itu, tarian ini dapat dipelajari oleh siapa saja yang berminat, tanpa memerlukan syarat atau latar belakang khusus.[2]