Lohia lahir dan besar di India, tetapi menghabiskan sebagian besar masa hidup profesionalnya di Indonesia sejak tahun 1974.[4] Pada tahun 2013, Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya ke-6 di Indonesia dengan kekayaan bersih US$3 miliar.[5]
Pada tahun 1973, Lohia pindah ke Indonesia bersama ayahnya, Mohan Lal Lohia, dan merintis Indorama Synthetics. Perusahaan tersebut mulai memproduksi benang pintal tahun 1976. Pada 1991, Indorama Synthetics melakukan diversifikasi dan merambah industri serat poliester. Resin poliester botol (PET) mulai diproduksi tahun 1995.
Tahun 2006, Lohia mengakuisisi pabrik olefin terintegrasi di Nigeria dan saat ini merupakan perusahaan petrokimia terbesar di Afrika Barat sekaligus produsen olefin terbesar kedua di benua Afrika.[4]
Tahun 2013, Lohia adalah miliarder terkaya ke-395 di dunia dengan kekayaan bersih sebesar $3,4 miliar (versi majalah Forbes).
Kehidupan pribadi
Lohia bersama istrinya, Seema, dikaruniai dua anak, Amit Lohia dan Shruti Hora. Putranya, Amit Lohia, lulus magna cum laude dari University of Pennsylvania’s Wharton School of Business.[8][9] Ia saat ini menjabat sebagai direktur pelaksana Indorama Corporation dan direktur di sejumlah anak perusahaan Indorama. Putri Lohia, Shruti Hora, lulus dai Babson College dan saat ini menetap di Singapura.
Lohia memiliki salah satu koleksi buku tua dan litograf terbesar di dunia.[11] Ia memiliki koleksi litograf berwarna terbesar kedua di dunia. Saat ini ia terlibat dalam proyek digitalisasi semua litograf yang dikoleksinya dan yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan besar di seluruh dunia.