Songket Biji Pare adalah salah satu motif pada Songket Palembang, yaitu kain tenun tradisional khas Palembang, Sumatera Selatan. Motif ini dikenal sebagai bagian dari ragam motif songket Palembang yang berkembang dalam tradisi tekstil masyarakat setempat. Dalam sejumlah kajian mengenai songket Palembang, biji pare disebut bersama motif-motif lain seperti bungo cino, nampan perak, bungo jepang, tigo negeri, jando beraes, bungo pacik, dan bintang berante.[1]
Songket Palembang sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2013 dengan nomor SK 238/M/2013 dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional.[2] Sebagai salah satu motif dalam tradisi tersebut, Songket Biji Pare menjadi bagian dari keragaman visual dan identitas budaya songket Palembang.
Latar belakang
Songket merupakan kain tenun yang dibuat dengan menyisipkan benang hias, umumnya benang emas, perak, atau benang berkilau lainnya, ke dalam struktur kain. Di Palembang, songket digunakan dalam berbagai acara adat dan upacara penting, termasuk pernikahan, serta dipandang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sumatera Selatan.[3]
Dalam kajian mengenai karakteristik dan perilaku konsumen songket Palembang, motif kain songket disebut memiliki variasi yang cukup banyak. Biji pare dicatat sebagai salah satu contoh motif songket Palembang, bersama sejumlah motif lain yang dikenal dalam perdagangan dan penggunaan kain songket.[1] Penelitian lain mengenai kerajinan tenun songket di Desa Pedu, Kecamatan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir, juga menyebut Biji Pare sebagai salah satu motif dalam ragam songket Palembang.[3]
Ciri dan bahan
Secara umum, Songket Biji Pare merujuk pada songket yang menggunakan motif bernama biji pare. Salah satu deskripsi produk yang tercatat dalam Karya Kreatif Indonesia menyebut kain songket motif biji pare dibuat dari bahan sutra, menggunakan benang kristal, pewarna alam, serta teknik pembuatan dengan alat tenun bukan mesin atau ATBM.[4]
Motif ini tidak hanya dipahami sebagai unsur dekoratif, tetapi juga bagian dari tradisi motif songket Palembang yang memiliki fungsi visual dan identitas budaya. Kajian mengenai songket Palembang menjelaskan bahwa motif-motif songket memuat nilai budaya masyarakat Palembang dan memiliki keterkaitan dengan sejarah, perdagangan, serta perkembangan ragam hias tekstil di wilayah tersebut.[5]
Produksi dan pemasaran
Songket Palembang dibuat oleh para perajin di sejumlah sentra produksi di Sumatera Selatan. Salah satu daerah yang disebut dalam kajian pengabdian masyarakat adalah Desa Pedu, Kecamatan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang memiliki perajin songket dan ragam motif tenun.[3] Perkembangan songket Palembang tidak hanya terbatas pada kain untuk busana adat, tetapi juga mulai digunakan dalam berbagai produk turunan, seperti pakaian, selendang, taplak meja, sarung kursi, dan benda dekoratif lainnya.[3]
Kedudukan dalam budaya Palembang
Songket Palembang merupakan salah satu warisan budaya penting bagi masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan. Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai busana tradisional, tetapi juga menjadi simbol status sosial, kemewahan, dan identitas budaya yang berkembang sejak masa awal sejarah Palembang hingga masa kini.[6] Motif-motif songket Palembang juga digunakan sebagai inspirasi ornamen pada bangunan, ruang publik, dan infrastruktur di Kota Palembang sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal.[6]