Raden MasSoesalit Djojoadhiningrat (EYD: Susalit Joyoadhiningrat ) (13 September 1904–17 Maret 1962), merupakan putra tunggal dari pahlawan nasional Kartini dan Bupati Rembang Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat. Kartini meninggal dunia empat hari sesudah melahirkan Soesalit. Disebutkan nama Soesalit merupakan akronim kalimat dalam bahasa Jawa "susah nalika alit” (susah pada waktu kecil) dikarenakan tidak pernah mengenal ibunya.
Soesalit bergabung menjadi tentara dengan masuk PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang.[5] Dalam karier militernya ia berhasil mencapai pangkat Mayor Jenderal (ejaan lama Djendral Major), tetapi dikarenakan hasil Re-Ra (Reorganisasi - Rasionalisasi) Angkatan Perang Republik Indonesia pada 1948 pangkatnya diturunkan menjadi Kolonel. Pada program Re-Ra ini ia juga ditunjuk menjadi salah satu anggota komisi 3 jenderal di mana ia dianggap mewakili kalangan bekas PETA dan Laskar, sementara Mayor Jenderal Suwardi mewakili kalangan bekas KNIL dan Abdul Haris Nasution mewakili kalangan perwira-perwira muda.[6]
Riwayat Jabatan
Pada dinas militer Soesalit antara lain pernah menjabat sebagai:
Komandan Brigade V Divisi II Cirebon (sampai dengan Oktober 1946).[5]
Panglima Divisi III Diponegoro (Yogyakarta — Magelang) (Oktober 1946—1948).
Panglima Komando Pertempuran Daerah Kedu dan sekitarnya (1948).
Perwira diperbantukan pada Staf Angkatan Darat/Kementerian Pertahanan.
Meninggal Dunia
Soesalit meninggal dunia pada 1962 dan dimakamkan di kompleks makam R.A. Kartini dan keluarganya di Desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. Ia Mempunyai seorang putra bernama Boedhy Setia Soesalit.
Catatan kaki
↑Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (Indonesia) (1982). Prisma. Lembaga Penelitian, Pendidikan & Penerangan Ekonomi dan Sosial. Diakses tanggal 22 May 2012.