Situs Penampungan Benda Cagar Budaya Seyegan (bahasa Jawa: ꦱꦶꦠꦸꦱ꧀ꦥꦔꦲꦸꦧ꧀ꦧꦤ꧀ꦧꦫꦁꦕꦒꦂꦧꦸꦢꦪꦱꦺꦪꦺꦒ꧀ꦒꦤ꧀) atau lebih dikenal sebagai BCB Seyegan adalah tempat untuk menampung benda-benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah Kabupaten Sleman, khususnya dari Kecamatan Seyegan, Moyudan, Minggir, dan Godean. Penampungan BCB Seyegan merupakan salah satu dari tiga penampungan benda cagar budaya yang ada di Kabupaten Sleman. Dua penampungan lainnya berada di Mlati dan Turi. Ketiga penampungan tersebut dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY).[1]
Cagar budaya sendiri mempunyai makna yaitu warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa benda, bangunan, stuktur, situs dan kawasan cagar budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan karena memiliki nilai penting sejarah. berguna untuk menambah ilmu pengetahuan dan kebudayaan melalui proses penetapan.[2]
Lokasi
Penampungan Benda Cagar Budaya Seyegan terletak di Dusun Gondang, Margoagung, Seyegan, Kabupaten Sleman.[3]
Landasan Hukum
Landasan hukum utama mengenai cagar budaya termasuk yang ada di Seyegan adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya.[4] selain itu, terdapat Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sleman yang terkait dengan pengelolaan warisan budaya dan cagar budaya yaitu Perda Kabupaten Sleman Nomor 15 Tahun 2015 [5]
Cara Pelestarian
Ada tiga cara untuk melestarikan cagar budaya yaitu dengan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan terhadap cagar budaya dilakukan dengan cara pengamanan agar tidak rusak, hilang, hancur atau musnah. Selanjutnya, pengembangan benda cagar budaya fokus pada peningkatan nilai dan potensi. Pemanfaatan bertujuan untuk mendayagunakan cagar budaya untuk kesejahteraan masyarakat.
Benda-Benda Cagar Budaya di Penampungan BCB Seyegan
Benda cagar budaya berupa benda alam dan/atau benda buatan manusia yang dimanfaatkan oleh manusia, serta sisa-sisa biota yang dihubungkan dengan kegiatan manusia atau dapat dihubungkan dengan sejarah manusia yang bersifat bergerak atau tidak bergerak dan merupakan kesatuan atau kelompok.[6]
Beberapa benda cagar budaya yang diamankan di Penampungan BCB Seyegan sebagai berikut:[7]
Arca Durga Mahisasuramardini Durga merupakan istri Dewa Siwa yang digambarkan sedang menaklukkan raksasa berkepala kerbau. Arca ini memperlihatkan sosok Durga dengan delapan tangan yang masing-masing memegang cakra, pedang (khadga), busur dan anak panah, perisai, serta sangkha. Satu tangan menggenggam ekor kerbau, sementara tangan lainnya memegang rambut sang raksasa. Durga berdiri di atas punggung kerbau tersebut.
Nomor inventaris: B.863
Asal: Margoluwih, Seyegan, Sleman
Keterangan: Bagian kepala arca sudah hilang
Arca Ganesa Ganesa adalah putra Dewa Siwa yang dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan sekaligus penghalau rintangan. Ia digambarkan berbadan manusia dengan kepala gajah, memiliki dua atau empat tangan yang membawa tasbih, kapak, sangkha, dan jerat. Kepalanya dihiasi ardha candrakapala, dengan mata ketiga di dahinya. Ganesa mengenakan upawita dari ular serta rangkaian tengkorak. Tangan depannya memegang mangkuk dan gading patah, dengan belalai dimasukkan ke dalam mangkuk sebagai simbol ketidakpuasan dalam mencari ilmu dan kebijaksanaan. Dalam kitab Suaradhahana diceritakan gadingnya patah ketika bertempur melawan raksasa Nilarudraka, yang hanya bisa dibunuh oleh makhluk bukan manusia dan bukan hewan.
Nomor inventaris: B.925
Asal: Sumberrahayu, Moyudan, Sleman
Keterangan: Kondisi arca aus dan kepala hilang
Arca Nandi Nandi adalah lembu suci yang menjadi wahana Dewa Siwa.
Nomor inventaris: B.848
Asal: Krapyak, Margoagung, Seyegan, Sleman
Keterangan: Kondisi arca aus, kepala hilang
Arca Dhyani Buddha Aksobhya Aksobhya merupakan salah satu dari lima Dhyani Buddha, bersama dengan Wairocana, Ratnasambhava, Amithaba, dan Amoghasiddhi. Dhyani Buddha juga disebut Jina, yang berarti "pemenang", yaitu pancaran spiritual dari Adibuddha. Aksobhya dikenal sebagai Jina kedua yang berkaitan dengan kesadaran (vijnana) dan digambarkan berwarna emas atau biru. Ia juga disebut Ratnaketu, pelindung arah timur. Arca ini memperlihatkan Aksobhya duduk di atas padmasana dengan posisi yogasana, bermeditasi, mata setengah terpejam mengarah ke ujung hidung. Rambutnya ikal dengan tonjolan ushnisa di kepala, urna di dahi, serta telinga panjang. Tangan kanan diletakkan di lutut dengan mudra bhumisparsamudra, melambangkan pemanggilan bumi sebagai saksi.
Nomor inventaris: B.875
Asal: Margomulyo, Seyegan, Sleman
Keterangan: Kepala arca hilang
Lingga Lingga adalah simbol Dewa Siwa berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki), biasanya ditempatkan di atas yoni dalam ruang utama candi. Lingga terdiri dari tiga bagian:
Siwabhaga (bagian atas berbentuk silinder memanjang) Umumnya dibuat dari batu.
Nomor inventaris: B.938b
Asal: Rewulu Kulon, Moyudan, Sleman
Yoni Yoni adalah landasan bagi lingga, melambangkan organ kewanitaan (vagina). Pada permukaannya terdapat lubang segi empat untuk meletakkan lingga yang dihubungkan dengan cerat, yaitu saluran air pada salah satu sisinya sebagai pancuran. Yoni dan lingga biasanya ditemukan dalam bangunan candi.
Nomor inventaris: B.890
Asal: Sendangrejo, Minggir, Sleman
Lingga Semu Lingga jenis ini hanya memiliki dua bagian, yaitu wisnubhaga dan siwabhaga, tanpa disertai yoni. Lingga semu tidak ditemukan bersama yoni, melainkan lebih sering digunakan sebagai tanda batas atau simbol kawasan suci.
Nomor inventaris: B.895a
Asal: Sendangrejo, Minggir, Sleman
Kemuncak Kemuncak merupakan bagian atap candi berupa menara-menara kecil yang mengelilingi puncak. Unsur ini bersifat dekoratif tanpa fungsi struktural tertentu, dan biasanya ditemukan di puncak atap bangunan candi.
Kemuncak B.889
Nomor inventaris: B.889
Asal: Sendangrejo, Minggir, Sleman
Kemuncak B.958c
Nomor inventaris: B.958c
Asal: Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman
Kemuncak B.843
Nomor inventaris: B.843
Asal: Margokaton, Seyegan, Sleman
Kemuncak B.895e
Nomor inventaris: B.895e
Asal: Sendangrejo, Minggir, Sleman
Kemuncak B.94
Nomor inventaris: B.94
Asal: Prenggan, Sidokerto, Godean, Sleman
Kemuncak B.847
Nomor inventaris: B.847
Asal: Krapyak, Margoagung, Seyegan, Sleman
Keterangan: Berbentuk bunga, kemungkinan merupakan bagian kemuncak
Antefiks Antefiks adalah elemen hias pada sisi luar bangunan candi, biasanya berbentuk segitiga meruncing. Unsur ini bersifat struktural sehingga menyatu dengan bangunan induknya, bukan berdiri sendiri.
Antefiks B.841
Nomor inventaris: B.841
Asal: Prenggan, Sidokerto, Godean, Sleman
Keterangan: Dihiasi motif kala dan tumbuhan bergaya stilir
Jaladwara Jaladwara adalah bagian bangunan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan air. Unsur ini umumnya terdapat pada candi atau kolam peninggalan Hindu-Buddha, dengan bentuk menyerupai makara.
Jaladwara B.846
Nomor inventaris: B.846
Asal: Margoagung, Seyegan, Sleman
Peripih Peripih adalah wadah batu atau keramik yang ditempatkan di dasar sumuran candi Hindu-Buddha. Bentuknya bisa berupa kotak atau bejana, berisi benda-benda persembahan seperti permata, logam mulia, abu, cermin, inskripsi, atau biji-bijian sebagai sarana pemujaan dewa. Umumnya memiliki jumlah lubang ganjil (1–9 atau lebih). Peripih dengan sembilan lubang disebut peripih nawansanga.
Peripih B.954c
Nomor inventaris: B.954c
Asal: Sidomoyo, Godean, Sleman
Batu Candi[8] Batu candi adalah bagian konstruksi candi yang kadang dihiasi ukiran atau relief.
Batu Candi B.894
Nomor inventaris: B.894
Asal: Sendangrejo, Minggir, Sleman
Keterangan: Dihiasi relief dua ekor tupai dan sulur-suluran