Prof. Siti Wuryan Prayitno (4 September 1933–30 Juni 2020) merupakan seorang dokter gigi Indonesia dan guru besar dalam bidang periodontologi di Universitas Indonesia. Ia menjabat sebagai dekan fakultas kedokteran gigi Universitas Indonesia dari tahun 1972 hingga 1976 dan dari tahun 1981 hingga 1987.
Kehidupan awal dan pendidikan
Siti lahir pada tanggal 4 September 1933 di Magetan, Jawa Timur,[1][2][3][a] sebagai anak kedua belas dari Soepardan Wirodirdjo dan Siti Soeminah.[4] Ayahnya adalah seorang wedana, sehingga mampu memberikan pendidikan yang memadai kepada semua anaknya.[5] Siti menamatkan sekolah dasar di sekolah rakyat di Lamongan pada tahun 1945 dan melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah pertama di sana. Karena Revolusi Nasional Indonesia yang sedang berlangsung, ia harus pindah ke Madiun dan melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di sana, yang ia selesaikan pada tahun 1950. Ia belajar selama dua tahun di sekolah menengah Perjuangan (pro-Republik) dari tahun 1951 hingga 1952, sebelum menamatkan pendidikan sekolah menengahnya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Surabaya pada tahun 1953.[1][4]
Setelah lulus SMA, Siti awalnya ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung. Namun, orang tuanya tidak mengizinkannya kuliah di sana, dan ia memutuskan untuk kuliah kedokteran gigi di Universitas Indonesia di Surabaya. Beberapa bulan setelah ia masuk, universitas tersebut berdiri terpisah dari UI sebagai Universitas Airlangga.[5] Sebagai mahasiswa, Siti tergabung dalam senat mahasiswa dan dewan mahasiswa fakultas, serta menjadi pengurus dewan tersebut.[2]
Siti memilih periodontologi sebagai spesialisasinya sebagai dokter gigi. Ia mengaku menghadapi tantangan dalam memilih spesialisasinya karena kurangnya jumlah mahasiswa yang berminat untuk mendalami spesialisasi tersebut.[5] Ia lulus sebagai dokter gigi pada tahun 1960 dan mulai mengajar sebagai asisten dosen.[1][2][4]
Di antara masa jabatan pertama dan kedua sebagai dekan, Siti menempuh pendidikan dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat di Universitas Indonesia. Ia memperoleh gelar sarjana kesehatan masyarakat pada tahun 1977 dengan skripsi mengenai adaptasi layanan gigi kepada masyarakat umum. Setahun kemudian, pada tahun 1978, ia meraih gelar master dalam ilmu kedokteran gigi (Magister in Scientia Dentali) dari Fakultas Kedokteran Universitas Wales dengan disertasi mengenai penggunaan klorheksidin glukonat secara oral.[2][4]
Siti melanjutkan studi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Wales setelah masa jabatan keduanya sebagai dekan berakhir. Disertasinya yang berjudul Perbandingan kesehatan periodontal dua kelompok orang dewasa muda Indonesia dan karakterisasi penyakit periodontal lanjut, dipertahankan pada tanggal 26 November 1990 dengan Martin Addy dan William Wade sebagai pembimbingnya.[4]
Karier
Setelah empat tahun menjabat sebagai asisten dosen di Universitas Airlangga, Siti dipromosikan ke pangkat akademis dosen junior. Pada tahun yang sama, ia memutuskan untuk pindah ke fakultas kedokteran gigi Universitas Indonesia.[4] Ia bersama Profesor Prijantojo mendirikan departemen periodontologi di fakultas tersebut.[6] Ia menjadi kepala administrasi pendidikan fakultas kedokteran gigi dari tahun 1965 hingga 1967, dan dari tahun 1967 hingga 1972 ia menjadi kepala departemen periodontologi.[2][3][4]
Siti dalam jubah akademiknya sebagai dekan fakultas kedokteran gigi.
Pada tanggal 6 April 1972, Siti dilantik sebagai dekan fakultas kedokteran gigi.[1][3][4] Ia merupakan wanita pertama yang menjabat sebagai dekan di Universitas Indonesia.[7] Siti mengawali masa jabatannya dengan minimnya fasilitas yang memadai[7] dan dosen tetap.[8] Beberapa hari setelah pengangkatannya, Siti menyatakan bahwa ia akan menghapuskan jabatan rangkap di fakultas tersebut guna meningkatkan efisiensi sumber daya manusia.[7] Ia melakukan kunjungan selama dua bulan ke Jepang dan Malaysia untuk studi banding dengan fakultas kedokteran gigi di kedua negara tersebut.[2] Ia menjabat selama dua periode dua tahun hingga digantikan oleh Ali Dahlan Nasution pada tanggal 2 April 1976.[9]
Setelah menerima gelar masternya, Siti memulai masa jabatan keduanya sebagai dekan pada 17 Februari 1981,[10] menjabat sampai 27 April 1987 dan digantikan oleh Herwati Djoharnas.[11] Pada masa jabatan keduanya, ia mengawasi pendirian program spesialis pascasarjana dalam kedokteran gigi klinis pada tahun 1982.[12] Ia diangkat menjadi guru besar pada tahun 1992. Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada tanggal 13 Februari 1993, Siti mendorong pengembangan periodontologi sebagai penunjang pembangunan nasional.[4]
Selain jabatan akademisnya, Siti terlibat dalam berbagai organisasi kedokteran gigi. Ia merupakan anggota tim konsorsium kedokteran gigi Indonesia dari tahun 1979 hingga 1988 dan anggota FDI World Dental Federation sejak tahun 1978, British Society of Periodontology sejak tahun 1990, dan International Academy of Periodontology pada tahun 1992. Pada tingkat nasional, ia adalah ketua Persatuan Periodontologi Indonesia dari tahun 1979 hingga 1981 dan sekretaris jenderal Persatuan Dokter Gigi Indonesia dari tahun 1975 hingga 1982 (ia adalah sekretaris pertama dari tahun 1978 hingga 1980). Dari tahun 1983 hingga 1992, ia adalah penasihat dan anggota dewan kehormatan Persatuan Dokter Gigi Indonesia.[4]
Kehidupan pribadi
Siti menikah dengan Laksamana Pertama Arrohman Prayitno, seorang dokter ahli jiwa di Angkatan Laut Indonesia. Pasangan tersebut memiliki tiga putra dan seorang putri.[2]
↑Kompas, 20 April 1972 menyebutkan bahwa Siti lahir pada tahun 1939. Hal ini tidak masuk akal, karena ini berarti Siti menyelesaikan sekolah dasar pada usia enam tahun dan sekolah menengah pada usia 14 tahun. Hal ini juga berarti bahwa klaim yang dibuat Kompas dalam artikelnya (Siti adalah dekan termuda UI pada usia 33 tahun) tidak sah.
1234567Indrakesuma; Hamdan, Thamrin; Mustafa, Djunaidi; Wiranto, Djoko; Kamidin, M. Ramli; Ringkasan. Sarjana Universitas Indonesia: Kumpulan Biografi Alumni 1981-1982. Ikatan Lulusan Universitas Indonesia. hlm.45.