Penjelasan
Kajian mengenai sistem adaptif kompleks, yang merupakan bagian dari sistem dinamis nonlinier,[5] bersifat interdisipliner dan berupaya menggabungkan wawasan dari ilmu alam dan ilmu sosial untuk mengembangkan model dan pemahaman tingkat sistem. Pendekatan ini memungkinkan analisis terhadap agen-agen heterogen, transisi fasa, serta fenomena yang muncul secara spontan (emergent behavior).[6]
Istilah complex adaptive systems atau ilmu kompleksitas digunakan untuk menggambarkan bidang akademik yang tumbuh dari studi mengenai sistem-sistem tersebut. Ilmu kompleksitas bukanlah teori tunggal, melainkan mencakup berbagai kerangka teoretis dan bersifat lintas disiplin dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang sistem yang hidup, dapat beradaptasi, dan senantiasa berubah. Sistem adaptif kompleks dapat dikaji melalui pendekatan “keras” maupun “lunak.”[7]
Kajian CAS berfokus pada sifat-sifat kompleks, munculnya pola (emergent), serta karakteristik makroskopik dari suatu sistem.[8] John H. Holland mendefinisikan CAS sebagai sistem yang terdiri atas sejumlah besar komponen, sering kali disebut agen, yang saling berinteraksi dan beradaptasi atau belajar.[9]
Contoh dari sistem adaptif kompleks mencakup iklim, kota, perusahaan, pasar, pemerintahan, industri, ekosistem, jaringan sosial, jaringan listrik, kawanan hewan, arus lalu lintas, koloni serangga sosial (misalnya semut), otak dan sistem kekebalan tubuh, serta sel dan embrio yang sedang berkembang. Aktivitas sosial manusia seperti partai politik, komunitas, organisasi geopolitik, perang, rantai pasok, dan jaringan teroris juga dianggap sebagai CAS.[10][11][12] Internet dan ruang siber, yang dibentuk, dijalankan, dan dikelola oleh interaksi kompleks antara manusia dan komputer juga merupakan contoh sistem adaptif kompleks.[13][14][15] CAS dapat bersifat hierarkis, tetapi lebih sering menunjukkan ciri self-organization atau pengorganisasian diri.[16]
Istilah complex adaptive system pertama kali diperkenalkan pada tahun 1968 oleh sosiolog Walter F. Buckley,[17][18] yang mengusulkan model evolusi budaya dengan memandang sistem psikologis dan sosio-kultural sebagai analog dengan spesies biologis.[19] Dalam konteks modern, konsep CAS kadang dikaitkan dengan memetika,[20] atau dianggap sebagai reformulasi dari bidang tersebut.[21] Tetapi Michael D. Cohen dan Robert Axelrod menegaskan bahwa pendekatan ini bukanlah bentuk dari Darwinisme sosial atau sosiobiologi, karena meskipun konsep variasi, interaksi, dan seleksi dapat diterapkan untuk memodelkan “populasi strategi bisnis,” mekanisme evolusionernya sering kali berbeda dengan proses biologis. Dengan demikian, sistem adaptif kompleks lebih menyerupai gagasan replicator yang dikemukakan oleh Richard Dawkins.[22][23]