Sinongkelan, atau dikenal pula sebagai Grebeg Sinongkel, adalah sebuah tradisi ritual tahunan yang berasal dari Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Tradisi ini merupakan bagian dari upacara Bersih Desa yang diselenggarakan setiap bulan Selo dalam kalender Jawa, tepatnya pada hari JumatLegi.[1] Sinongkelan memadukan unsur spiritual, kesenian tradisional, serta nilai-nilai sejarah yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.[2]
Sejarah dan makna
Tradisi ini berakar dari kisah tokoh sakral yang dikenal sebagai Kanjeng Sinongkel, figur yang dipercaya masyarakat sebagai perwujudan lokal dari Pakubuwana II dalam versi cerita rakyat.[3] Legenda menyebutkan bahwa Kanjeng Sinongkel adalah seorang tokoh bijak yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat Prambon setelah mengalami pelarian dari pusat kekuasaan. Sinongkelan berkembang sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan kepemimpinan beliau, serta sebagai simbol harapan akan keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman bagi seluruh warga desa.[4]
Pelaksanaan
Rangkaian acara Sinongkelan dimulai dengan ritual nyadran, yaitu ziarah ke makam leluhur desa yang diiringi dengan tabur bunga dan doa bersama.[5] Ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada nenek moyang sekaligus sarana memohon keselamatan. Malam harinya, digelar pertunjukan utama berupa teater rakyat dengan unsur ritus yang kuat, dimainkan oleh sekitar 15 hingga 20 tokoh, termasuk peran utama seperti Kanjeng Sinongkel, Patih Jaksa Negara, Gandhek (abdi), serta sejumlah warga desa sebagai “wayang” atau rakyat.[1]
Pementasan dilakukan secara lesehan di ruang terbuka dengan hanya beralas tikar. Uniknya, para pemain duduk bersila selama pertunjukan dan hanya berdiri dalam adegan-adegan tertentu. Dialog yang disampaikan menggunakan bahasa Jawa halus dengan campuran humor dan sindiran sosial, sedangkan iringan gamelan dan kendang menambah kesan khidmat. Simbolisme sangat kuat dalam pertunjukan ini, seperti pemberian hukuman minum air kepada peserta yang lalai menjalankan peran, sebagai perlambang ketertiban dan kesungguhan dalam kehidupan bermasyarakat.[6]
Nilai budaya dan pelestarian
Tradisi Sinongkelan merupakan Warisan Budaya Takbenda yang memiliki nilai-nilai sosial, spiritual, dan historis yang mendalam. Ia berperan penting sebagai ruang dialog budaya, media pendidikan karakter, serta wadah pemersatu masyarakat desa. Dalam era modern, pelestarian tradisi ini dilakukan oleh pemerintah desa dan tokoh adat melalui dokumentasi, pelibatan generasi muda dalam pertunjukan, serta penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.[7]
Sinongkelan tidak sekadar menjadi tontonan budaya, tetapi juga sarana transmisi nilai-nilai kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui pelestarian yang berkelanjutan, tradisi ini diharapkan mampu bertahan sebagai simbol jati diri dan kebudayaan masyarakat Trenggalek.[butuh rujukan]
Referensi
12"Peta Budaya". petabudaya.trenggalekkab.go.id. Diakses tanggal 2025-06-17.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.