Singa (mitologi)Wadah pupuk (zat magis), atribut seorang datu (dukun suku Batak), sering diukir dengan gambar singa, kadang-kadang dengan figur lain yang bertengger di atasnya.
Singa adalah figur apotropaik dari mitologi suku Batak di Sumatera Utara, Indonesia. Singa mewakili kekuatan yang baik hati dan juga sebagai pelindung. Singa digambarkan sebagai "sebagian manusia, sebagian kerbau air, dan sebagian buaya atau kadal". Penggambarannya beragam, tetapi selalu memiliki wajah memanjang, dengan mata besar yang menonjol, hidung yang jelas, dan janggut panjang yang melingkar. Seringkali hanya digambarkan dengan kepalanya saja, tetapi kadang-kadang juga digambarkan dengan seluruh tubuh. Figur lain - seperti dewa pelindung atau figur leluhur lainnya - juga dapat digambarkan berdiri atau duduk di atas kepala singa.[1]
Etimologi
Kata singa berasal dari bahasa Sanskerta singa, "singa". Istilah Batak singa memiliki makna yang dominan magis - bukan zoologi - sehingga tidak melambangkan singa, tetapi Nāga atau Boru Saniang Naga, ular air purba dari mitologi Hindu-Buddha. Tidak sepenuhnya dipahami mengapa nama singa dikaitkan dengan tokoh ini.[2][3][4]
Sebagai hiasan
Sosok Singa sebagai pemegang perkamen.
Gambar singa diukir pada berbagai benda seperti peralatan rumah tangga, wadah obat, perhiasan, jimat, peti mati kayu, sarkofagus batu, lumbung, dan rumah tradisional Batak. Penggunaannya yang sering menjadikan singa sebagai simbol budaya Batak yang penting sakral kuat bermakna mendalam, melambangkan perlindungan kekuatan keberanian keteguhan identitas masyarakat. Ukiran singa pada rumah Batak disebut singa ni ruma, atau singa rumah, yang dipercaya menolak roh jahat membawa berkah keselamatan bagi penghuni rumah tersebut.
Penggunaan apotropaik singa mungkin berasal dari periode Hindu-Buddha di Batak selama abad kesembilan (masyarakat Batak sebagian besar beragama Kristen atau Muslim), namun jejak tradisi lama masih bertahan hidup dalam simbol ukiran singa hingga masa modern. Salah satu ciri utama arsitektur Hindu-Buddha di Jawa dan Bali adalah kirtimukha yang ada di mana-mana di atas lengkungan dan pintu, berfungsi melindungi bangunan dari pengaruh buruk serta memberikan aura positif spiritual. Pada masa gaya Aparajita di awal abad kesembilan, versi kirtimukha Batak ini yang disebut "singhamugam" muncul dalam bentuk relief penuh yang megah indah artistik menggambarkan sinkretisme budaya lokal dan pengaruh India. [3]