Replika Rumah Balai Selasar Jatuh Tunggal di Taman Mini Indonesia Indah. (Perhatikan anjuran atap tambahan pada bagian muka tangga)
Arsitektur Riau cenderung berdasar pada rumah panggung beratap limas yang dihiasi oleh ornamen ukiran yang sangat menjunjung tingi nilai Keislaman. Arsitektur Riau kental dengan ornamen floral serta hiasan di sekeliling ceracapan yang umumnya berwarna kuning untuk melambangkan kemakmuran.
Jenis
Selasar Jatuh
Rumah ini dicirikan dengan atap kajang yang bertumpuk dengan bidai atau tebar layar berukir awan larat susun tiga serta ceracapan yang memiliki lebah gantung jenis kembang jatun. Balai ini tidak digunakan sebagai tempat tinggal biasa, tetapi sebagai tempat berunding, bermusyawarah, serta berlembaga sehingga dihuni oleh orang-orang bergelar seperti raja, datuk, atau bangsawan. Rumah ini memiliki tiang kolong yang lebih tinggi dan tangga undak lebar dari batu atau keramik yang memiliki selusur bukan pagar. Bila bagian depan yang menghadap tangga rata atau leluasa, maka ini disebut selasar jatuh kembar, sedangkan bila memiliki anjuran atap tambahan satu atau dua disebut selasar jatuh tunggal.
Potong limas
Rumah ini tidak memiliki tebar layar atau bidai yang utuh, karena semua sisi terlingkupi oleh atap. Gaya atap ini juga disebut sebagai atap pelana belanda (Dutch Gable) yaitu atap dengan tebar layar kecil di atasnya yang menopang atap yang lebih tinggi yang menyambung langsung dengan atap dasar dengan kecuraman yang berlainan satu sama-lain, Rumah potong limas umumnya tidak berselembayung dan tebar layarnya tak berukir. Gaya dindingnya tindih kasih dengan jalur kayu melintang secara horizontal.
Lontik / Lontiok
Rumah ini banyak ditemui di Kabupaten Kampar yang langsung berbatasan dengan Sumatera Barat sehingga banyak dipengaruhi oleh arsitektur Minangkabau. Rumah ini memiliki rumah ibu persegi panjang dengan atap yang melengkung seperti tanduk (gajah minum) di kedua sisi lebarnya. Semua sisi rumah terlingkupi dengan atap dan menyisakan tebar layar yang cukup lebar di kedua sisi lebarnya yang umumnya berukiran matahari. Rumah lontiok memiliki atap tunggal tak bersusun seperti Rumah Gadang dan tak memiliki selasar di bagian muka rumah. Seperti Rumah Gadang, rumah ini biasanya dihiasi oleh rangkiang kecil di depan halaman sebagai tempat menyimpan padi.
Singgah Siak
Singgah Siak adalah gaya arsitektur yang dimiliki oleh Tuan Kadi Kerajaan Siak yang berfungsi sebagai tempat persinggahan bagi SultanSiak Sri Indrapura apabila beliau berkunjung ke Senapelan, Pekanbaru. Rumah ini memiliki gaya yang unik daripada rumah adat Riau lain pada umumnya, rumah ini tidak memiliki ujung atap dan tebar layar yang segitiga, melainkan bentuk segitiga terpancung yang menyerupai belahan segi enam. Singgah Siak memiliki warna dinding putih berlis emas dengan atap bertumpuk berwarna biru.
Atap
Jenis Atap dalam Rumah Melayu Riau terbagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:
Lipat pandan: Atap segitiga dengan tingkat kemiringan yang amat curam, sehingga memiliki ceracapan atau bidang atap bawah yang pendek.
Lipat kajang: Atap segitiga dengan tingkat kemiringan agak landai, sehingga memiliki ceracapan atau bidang atap bawah yang lebar.
Atap layar: Gaya atap ini terdiri dari dua atap, atap di bawah dengan gaya lipat kajang terpancung dan diatasnya terdapat lipat pandan. Umumnya atap layar memiliki tebar layar berbidai dua hingga tiga sehingga digunakan sebagai tempat hunian raja, datuk, atau bangsawan.
Gajah minum: Atap dengan ujung yang mencuat seperti tanduk pada bagian tebar layar.
Belah bubung: Terdiri dari dua atap yang memiliki panjang, lebar, dan tebar layar yang sama dengan sisi samping membelakangi muka rumah. Di muka dan belakang rumah terdapat atap tambahan kecil landai tempat lebah bergantung diletakkan. Di bagian tebar layar pula terdapat atap kecil tambahan sehingga menimbulan kesan yang menjorok atau menganjur.