Sindrom Amotivasi merupakan gangguan psikiatri kronis yang ditandai oleh keadaan kognitif dan emosional seperti keterlepasan, tumpulnya respons emosional dan dorongan, defisit dalam fungsi eksekutif seperti memori kerja dan perhatian,[1] ketidakminatan, pasivitas, apati, serta ketiadaan motivasi secara umum.[2][3] Gangguan ini terbagi menjadi dua subtipe: sindrom amotivasi akibat penggunaan ganja (cannabis-induced amotivational syndrome), yang berkaitan dengan penggunaan atau ketergantungan terhadap ganja dan terutama diasosiasikan dengan dampak jangka panjang konsumsi kanabis, serta sindrom amotivasi yang dipicu oleh penggunaan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI-induced apathy), yaitu kondisi yang muncul akibat konsumsi obat antidepresan golongan SSRI.[4][5] Menurut Handbook of Clinical Psychopharmacology for Therapists, sindrom amotivasi disebut sebagai efek samping potensial dari terapi SSRI pada depresi klinis. Gangguan ini dikategorikan sebagai kondisi berkurangnya motivasi.[6]
Tanda dan gejala
Sindrom amotivasi diduga berkaitan dengan gangguan pada korteks frontal atau lobus frontal,[7] wilayah otak yang berperan dalam fungsi-fungsi kognitif dan kemampuan yang berkaitan dengan ekspresi emosional, pengambilan keputusan, penentuan prioritas, serta tindakan mental yang bertujuan. Kondisi ini umumnya terdeteksi melalui tanda-tanda yang berkaitan dengan apati, seperti perilaku tidak terhambat, defisit memori jangka pendek dan jangka panjang, tumpulnya ekspresi emosional, ketidakminatan, pasivitas, dan keengganan untuk berpartisipasi dalam aktivitas berkepanjangan yang memerlukan perhatian atau ketekunan.[2][3][5] Gejala lain yang dapat muncul mencakup ketidakkoherenan, ketidakmampuan berkonsentrasi, tekanan emosional, penurunan tingkat kesadaran, perhatian selektif, serta perilaku menarik diri dan kurang bersosialisasi. Gejala-gejala tersebut juga umum ditemukan pada konsumsi dan penyalahgunaan ganja, serta pada penggunaan obat SSRI.[2][7]
Subtipe
Cannabis amotivational syndrome
Sindrom amotivasi akibat ganja pertama kali diperkenalkan untuk menjelaskan berkurangnya dorongan dan keinginan bekerja atau berkompetisi pada kelompok remaja yang sering mengonsumsi ganja, dan sejak itu diteliti melalui berbagai studi metodologis.[4] Sindrom amotivasi terkait ganja memiliki keterkaitan dengan cannabis use disorder yang diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), dan memiliki gejala serupa seperti penarikan diri dari aktivitas sehari-hari serta pengabaian tanggung jawab penting. Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi utama dari paparan ganja kronis dan mencakup elemen gangguan kognitif yang serupa dengan yang muncul pada skizofrenia dan depresi.
Gejalanya mencakup keterlepasan bertahap dari lingkungan sekitar akibat hilangnya reaktivitas emosional, dorongan, dan tujuan. Respons terhadap rangsangan menjadi terbatas, dan individu yang terdampak tidak mampu mengalami atau mengantisipasi kesenangan selain melalui penggunaan ganja.[1] Pada konteks pendidikan dan pekerjaan, individu yang mengalami kondisi ini menunjukkan fungsi akademik yang rendah, kesulitan fokus pada tugas sekolah, ketidakpuasan dalam aktivitas pembelajaran, serta kecenderungan lebih besar untuk mengalami konflik dengan otoritas sekolah.[4]
Sindrom amotivasi akibat ganja juga dikaitkan dengan konsep efikasi diri, yaitu persepsi individu mengenai kemampuan serta keyakinannya untuk bertahan dalam menyelesaikan tugas. Efikasi diri berhubungan dengan motivasi, karena individu dengan efikasi diri tinggi cenderung melakukan usaha yang lebih besar dan bertahan lebih lama dibandingkan mereka yang memiliki efikasi diri rendah.
Referensi
12Rovai, L; Maremmani, AG; Pacini, M; Pani, PP; Rugani, F; Lamanna, F; Schiavi, E; Mautone, S; Dell'Osso, L (2013). "Negative dimension in psychiatry. Amotivational syndrome as a paradigm of negative symptoms in substance abuse". Rivista di Psichiatria. 48 (1): 1–9. doi:10.1708/1228.13610. PMID23438696.