Perampokan bank Stockholm
Pada tahun 1973, Jan-Erik Olsson, seorang mantan narapidana menyandera empat karyawan (tiga wanita dan satu pria) Kreditbanken, salah satu bank terbesar di Stockholm, Swedia. Penyanderaan tersebut terjadi ketika ia merampok bank tersebut meski perampokan itu akhirnya gagal. Dia pada awalnya bernegosiasi dengan salah seorang temannya di penjara yang bernama Clark Olofsson untuk membantunya, yang akhirnya membuat Clark Olofsson keluar dari penjara. Mereka menahan para sandera selama enam hari (23–28 Agustus) di salah satu brankas bank. Ketika para sandera dibebaskan, tidak satu pun dari mereka yang berusaha untuk menuntut para penculik di pengadilan. Hal yang sebaliknya malah terjadi, mereka mulai mengumpulkan uang untuk membela para penculik tersebut.[4]
Nils Bejerot, seorang kriminolog dan psikiater Swedia menciptakan istilah tersebut setelah polisi Stockholm meminta bantuannya untuk menganalisis reaksi para korban terhadap perampokan bank tahun 1973 dan status mereka sebagai sandera. Bejerot saat itu berbicara di "sebuah siaran berita pasca pembebasan tawanan" untuk menjelaskan bahwa para sandera berada di bawah pengaruh pencucian otak oleh para penculiknya.[4] Dia menyebutnya Norrmalmstorgssyndromet (berdasarkan Norrmalmstorg Square, yaitu tempat percobaan perampokan terjadi), yang berarti "sindrom Norrmalmstorg". Nama tersebut kemudian dikenal di luar Swedia sebagai sindrom Stockholm.[5] Sindrom ini pada awalnya didefinisikan oleh psikiater Frank Ochberg yang mana ini didefinisikan sebagai suatu langkah untuk membantu pengelolaan situasi penyanderaan.[6]
Analisis mengenai Sindrom Stockholm kemudian diberikan oleh Nils Bejerot setelah dia dikritik di radio Swedia oleh Kristin Enmark, salah satu sandera. Enmark mengklaim bahwa dia telah menjalin hubungan yang baik dengan para penculiknya. Dia telah mengkritik Bejerot karena membahayakan hidup orang yang disandera dengan berperilaku agresif dan mengganggu para penyandera. Dia telah mengkritik polisi karena menodongkan senjata ke para penyandera sementara para sandera berada di dekat penyandera tersebut.[7] Dia mengatakan kepada outlet berita bahwa salah satu penculik berusaha melindungi para sandera agar tidak terjebak dalam baku tembak. Dia juga mengkritisi perdana menteri Olof Palme, karena perdana menteri mengatakan kepadanya bahwa dia lebih baik mundur dari jabatan perdana menteri daripada menyerah pada tuntutan para penculik.[8]
Olsson yang tak lain adalah pelaku utama dari perampokan tersebut kemudian mengatakan dalam sebuah wawancara:
Itu adalah kesalahan para sandera. Mereka melakukan semua yang aku suruh. Jika tidak, aku mungkin tidak berada di sini sekarang. Mengapa tidak ada dari mereka yang menyerangku? Mereka membuat diri mereka sulit untuk dibunuh. Mereka membuat kami terus hidup bersama hari demi hari, seperti kambing, dalam brankas itu. Tidak ada yang kami bisa dilakukan selain saling mengenal.[9]
Mary McElroy
Mary McElroy diculik dari rumahnya pada tahun 1933 pada usia 25 tahun oleh empat pria yang menodongkan pistol padanya. Para penculik tersebut memaksa Mary untuk menurut pada mereka dan kemudian membawanya ke rumah pertanian yang ditinggalkan dan merantai Mary ke dinding. Dia membela para penculiknya ketika dia dibebaskan, menjelaskan bahwa mereka hanyalah para pengusaha. Mary kemudian terus mengunjungi para penculiknya saat mereka berada di penjara. Dia akhirnya bunuh diri dan meninggalkan catatan bahwa ia meminta supaya keempat penculiknya itu diberi kesempatan, karena para penculiknya tersebut adalah satu-satunya orang yang tidak menganggap Mary sebagai orang yang bodoh.[10]
Patty Hearst
Patty Hearst, cucu dari penerbit William Randolph Hearst, ditawan dan disandera oleh Symbionese Liberation Army, "sebuah kelompok gerilya perkotaan", pada tahun 1974. Dia kemudian diketahui mengkritik keluarganya serta polisi dengan nama barunya, "Tania ". Lalu ia terlihat bekerja sama dengan SLA untuk merampok bank di San Francisco.[11] Dia secara terbuka menegaskan "perasaan simpatiknya" terhadap SLA. Setelah penangkapannya pada tahun 1975, pengacara Hearst yang bernama F. Lee Bailey membelanya di pengadilan dengan mengatakan bahwa Hearst mengidap sindrom Stockholm. Namun, pembelaan tersebut tidak berhasil membebaskan atau mengurangi hukumannya di pengadilan. Hal ini membuat pengacara yang membelanya sangat merasa kecewa. Hukumannya yang berupa tujuh tahun penjara kemudian pada akhirnya diringankan, dan dia diampuni oleh Presiden Bill Clinton karena diberitahu bahwa Hearst tidak bertindak atas kehendak bebasnya sendiri.[4]