Simon Buis (12 November 1892–25 Agustus 1960) adalah seorang misionaris Belanda yang menjadi pelopor dokumentasi visual kehidupan masyarakat Flores pada masa kolonial.
Kehidupan awal
Simon Buis lahir pada 12 November 1892 di Medemblik, Belanda, dari keluarga petani sederhana. Masa mudanya dihabiskan dalam lingkungan yang menanamkan nilai kerja keras dan ketekunan. Pada tahun 1910, ia memasuki seminari Serikat Sabda Allah (SVD) di Steyl, Belanda.
Setelah menempuh pendidikan seminari dan filsafat di Teteringen, ia melihat peluang untuk mengabdi di wilayah misi Hindia Belanda yang saat itu sedang membutuhkan tenaga pengajar. Demi mewujudkan cita-cita tersebut, Buis memperoleh sertifikat guru dan berangkat ke Hindia Belanda pada tahun 1919.
Karir
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya melintasi tiga benua. Setelah beberapa tahun berkarya di Nusantara, ia dikirim ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi teologi. Di Chicago, ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1925. Namun ada satu hal yang membedakannya dari kebanyakan misionaris pada zamannya: ketertarikannya pada dunia film.
Ketika kembali ke Belanda, ia mulai membuat film tentang karya misi dan kehidupan masyarakat di Flores. Akan tetapi, keterbatasan teknologi saat itu membuat proses produksi film menjadi sangat rumit. Setiap hasil syuting harus dikirim ke laboratorium untuk dicuci dan diproses, sehingga ia harus menunggu lama sebelum mengetahui kualitas hasil rekamannya.
Ketidakpraktisan itu mendorongnya kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1929 bersama rekannya, Pastor Piet Beltjens. Mereka mempelajari teknik pengolahan film secara mendalam. Menurut catatan biografinya, pendidikan yang biasanya ditempuh selama tiga tahun berhasil diselesaikan Buis hanya dalam waktu tiga bulan. Prestasi tersebut menunjukkan kecerdasan, disiplin, dan semangat belajarnya yang luar biasa.
Pada tahun 1930, Buis dan Beltjens tiba di Flores dengan membawa kamera, perlengkapan produksi film, serta peralatan laboratorium. Di Lembah Ndona mereka membangun laboratorium film sederhana. Dari tempat tersebut, dibuatlah berbagai dokumentasi visual yang kini menjadi sumber berharga untuk memahami kehidupan masyarakat Flores pada awal abad ke-20.
Melalui karya-karyanya, Buis merekam adat-istiadat, kehidupan sehari-hari, dan aktivitas misi yang saat itu jarang terdokumentasikan. Namun perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Pada September 1934, ketika sedang melakukan pemutaran film keliling di kota Hilversum, Belanda, terjadi tragedi yang mengubah hidupnya. Saat film Ria Rago hampir selesai diputar, percikan api muncul di dekat proyektor dan dengan cepat menjalar ke seluruh ruangan.
Kepanikan melanda para penonton yang sebagian besar adalah anak-anak perempuan berusia antara enam hingga empat belas tahun. Dalam situasi mencekam itu, Buis tidak menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Bersama polisi dan seorang pemuda pekerja, ia berulang kali menerobos kobaran api untuk mengevakuasi para korban. Tiga anak meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Buis sendiri terluka dalam upaya penyelamatan tersebut.
Peristiwa ini memicu perdebatan besar di Belanda. Sebagian pihak menganggap Buis layak memperoleh penghargaan kerajaan karena keberaniannya. Namun pihak lain menilai bahwa sebagai penyelenggara pemutaran film, ia juga memiliki tanggung jawab atas terjadinya kecelakaan tersebut. Pada akhirnya ia tidak menerima penghargaan yang diusulkan, tetapi juga dibebaskan dari tanggung jawab hukum.
Dalam ingatan publik Belanda, Simon Buis dikenang sekaligus sebagai penyelamat dan tokoh yang berada di pusat tragedi tersebut. Pada 1936, ia kembali ke Hindia Belanda sebagai pimpinan misi di Lombok dan Flores. Empat tahun kemudian, ia mendirikan komunitas Katolik Palasari di Jembrana, Bali.
Di tempat tersebut, ia membangun komunitas yang menghargai budaya lokal. Sejalan dengan semangat SVD, Buis berusaha menemukan titik temu antara iman Katolik dan tradisi masyarakat setempat. Ia mempelajari bahasa daerah, mencatat adat-istiadat, mendokumentasikan budaya, dan mengajar masyarakat.
Kehidupan selanjutnya
Pada masa pendudukan Jepang, ia ditahan di kamp militer Jepang dan mengalami penderitaan fisik yang serius. Kesehatannya terus menurun bahkan setelah perang berakhir. Pada tahun 1951 ia kembali ke Belanda untuk menjalani perawatan medis. Dua tahun kemudian tangan kanannya harus diamputasi. Dua bulan setelah operasi, ia sudah mampu menulis dengan tangan kiri. Ia bahkan memodifikasi mesin tiknya dengan sistem pedal agar tetap dapat bekerja dan berkarya.
Tahun-tahun terakhir hidupnya diwarnai berbagai operasi akibat gangguan ginjal dan tumor otak. Penglihatannya perlahan memudar. Pada 25 Agustus 1960, Simon Buis meninggal dunia di kompleks misionaris SVD di Deurne, Belanda. Di Palasari, Bali, namanya diabadikan sebagai nama jalan dan sebuah patung didirikan untuk mengenangnya.[1]