Awal Terbentuk
Alkisah, Silampukau menetas pada 2008 silam. Gagasan dasar terbentuknya format duo ini karena bosan dengan format band. Pada tahun 2009, band yang dibentuk Kharis mengalami kebuntuan, dan Eki, yang sebelumnya mengawali karier per-skena-an sebagai manajer band, memutuskan untuk menjajal kemampuan olah vokal lewat suara bariton.[5] Kharis yang sebelumnya pernah menggawangi beberapa band, termasuk band keroncong Miniboyo Concours, memutuskan untuk membentuk band folk. Bertemulah Kharis (alumnus Sastra Indonesia Universitas Airlangga) dengan Eki Tresnowening, personil band Stunning Bird, yang merupakan sarjana psikologi dari Ubaya (Universitas Surabaya) dan bermain bersama di salah satu orkes keroncong yang dibina Jathul Sunaryo, tokoh keroncong di Kampung Petemon. Pria itu berjasa bagi awal karier musik mereka.''Beliau guru kami secara moral,'' ungkap Kharis. Dari situlah mereka memutuskan berkolaborasi dan membentuk Silampukau. Arti Silampukau adalah kepodang,[6] burung kuning keemasan yang indah dengan kicauan merdu.''Mereka adalah biduan di alam raya. Orang-orang Melayu lampau memanggil burung itu Silampukau,'' tegas Eki.[7] Kharis dan Eki pun mendirikan Silampukau dan merekam single berjudul ‘Berbenah’.[8]
Dosa, Kota & Kenangan (2015)
Butuh waktu enam tahun lagi sampai album Dosa, Kota, & Kenangan itu hadir. Masa hiatus begitu lama memberikan sesuatu yang baik dalam internal mereka.''Selama masa vakum itu, kami berdua mengalami proses panjang dalam segala hal yang memperkaya pengetahuan bermusik,'' kata Kharis. Pada tahun 2015 Silampukau merekam full album berjudul ‘Dosa, Kota, dan Kenangan’ yang berisi 10 lagu. Meskipun belum dilaunching, tetapi beberapa lagu sudah bocor dan bisa dinikmati di halaman youtube, misalnya lagu ‘Puan Kelana’. Video ‘Puan Kelana’ ini adalah rekaman aksi panggung Silampukau saat tampil di acara Folk Music Festival 2014 dalam Sunday Market di Surabaya Town Square (Sutos).
Stambul Arkipelagia: Vol. 1 adalah sepertiga awal dari album kedua Silampukau yang diberi tajuk Stambul Arkipelagia. Silampukau menawarkan pendekatan lain; Stambul Arkipelagia akan diterbitkan secara berkala dan diawali dengan Stambul Arkipelagia: Vol. 1.
Arkipelagia adalah fiksi tentang sebuah negeri maritim penuh marabahaya, yang terletak di sekitar lingkar tropis. Negara Arkipelagia adalah perwujudan distopia terburuk dari peradaban manusia. Ia adalah negeri yang senantiasa terapung di masalalu dan masadepan yang jauh secara bersamaan; sebuah negeri yang senantiasa berada di ambang kenyataan dan khayalan.
Stambul Arkipelagia: Vol. 1 berisi lima komposisi yang menyuguhkan kisah-kisah sumir yang berkelindan di Arkipelagia; tentang sejoli mursal yang tengah was-was akan nasib anak turun mereka; tentang seorang petani yang tengah bergulat dengan paceklik yang terjadi di sepanjang tahun; sebuah dodoi, atau ninabobo pengantar tidur anak-anak dan bayi-bayi penghuni Jurang Kemiskinan; dan ditutup dengan sebuah kidung legenda yang konon dilantunkan tiap kali seorang sanak-saudara, kerabat, ditemukan terbunuh, atau hilang secara misterius di Arkipelagia.
Proses Rekaman
Sebagaimana nasib band indie yang akrab dengan keterbatasan dana, Silampukau pun merekam album ‘Dosa, Kota, dan Kenangan’ secara gotong-royong. Proses recording memakan waktu sekitar satu bulan, kemudian mastering dan mixing memakan waktu sekitar tiga bulan. “Kami gotong royong dan mengandalkan pertemanan dalam proses album ini. Ada teman yang berkenan membantu proses mastering dan mixing. Album ini nantinya kami jual dalam bentuk CD dan digital,” kata Kharis
Berbeda dengan mini album terdahulu yang direkam secara live, di album ‘Dosa, Kota, dan Kenangan’ ini direkam secara track. Rekamannya kebanyakan dilakukan di rumah. Kharis dan Eki yang mengisi vokal dan gitar akustik, juga dibantu tiga additional player. Mereka adalah Doni Setiohandono (akordion), Erwin B Saputra (drum), dan Rhesa Filbert (bass). Ketiga additional player ini juga sering membantu penampilan Silampukau di setiap konser bertema full band.[8]
Lagu-lagu di dalam album
Lagu-lagu di album terbaru bersuara tentang Surabaya. Lagu berjudul Si Pelanggan, misalnya, menceritakan Dolly yang begitu terekam di dalam ingatan masyarakat Surabaya. Ditambah dengan denting piano, liriknya begitu puitis. Lalu ada lagu berjudul Bianglala. Lagu tersebut menceritakan Taman Hiburan Rakyat yang sudah menjadi ikon Kota Surabaya dan masyarakatnya.''Kami hanya menulis, membuat lagu, dan berkarya melalui apa yang kami lihat sehari-hari,'' ujar pira berkacamata tersebut. Selain itu, ada lagu Doa 1 mengenai mimpi mereka bermusik indie di Surabaya yang mengandung lirik satire. Keduanya bernyanyi mengenai mimpi mereka untuk masuk layar televisi sembari berharap sang ibu belum tua ketika mereka mencapainya, Bola Raya bertutur tentang anak-anak yang mencari tempat bermain bola, serta Malam Jatuh di Surabaya.[7] Selain Si Pelanggan, album itu memuat tembang Lagu Rantau (Sambat Omah) yang bercerita mengenai pergulatan hidup di kota besar dan kisah penjualan minuman keras dalam lagu Sang Juragan.
Ide mengenai lagu-lagu itu, diakui duo Silampukau berasal dari obrolan warung kopi. “Di warung kopi, koreng-koreng kehidupan dikelupas dan dipamerkan dengan bangga. ‘Saya pernah begini, saya pernah begitu’, semua dosa dipaparkan dan semua prestasi dipamerkan. Di situ narasi-narasi tentang kota lebih hidup ketimbang lewat mata akademisi atau politikus,” kata Kharis. Karena mengangkat obrolan di warung kopi itulah, Kharis dan Eki mengaku tidak pernah berupaya mengadvokasi dan mewakili suatu kaum di kota. “Yang kami bawakan merupakan potret-potret kota. Tagihan awal bulan (dalam Lagu Rantau (Sambat Omah)), misalnya. Semua orang resah dengan itu, termasuk kami. Setahu kami, kami hanya menceritakan kembali keresahan orang-orang. Kami enggak berpretensi atau bertendensi mewakili apapun,” ujar Kharis kepada wartawan BBC Indonesia, di balik panggung. ”Sebab, kami bukan DPR,” celetuk Eki yang disambut tawa keduanya.[4]