Shin Daewe (Burma: ရှင်ဒေဝီcode: my is deprecated ; nama lahir Cho Cho Hnin (Burma: ချိုချိုနှင်းcode: my is deprecated ) pada tahun 1973) adalah seorang pembuat film dokumenter asal Burma (Myanmar).[1] Ia merupakan salah seorang perempuan pelopor pembuat film dokumenter di Myanmar.[1]
Karier
Pada awal kariernya sepanjang periode 1990-an, Shin Daewe mulai dikenal sebagai penyair dan aktif dalam gerakan puisi modern bernama New Century Defile di Universitas Rangoon (sekarang Universitas Yangon).[1] Ia dikenal sebagai aktivis yang terlibat dalam berbagai aksi protes dalam pemberontakan 8888.[2] Ia dipenjara selama satu bulan pada tahun 1990 dan satu tahun pada tahun 1991 karena membagikan poster dan puisi untuk mengenang Phone Maw, seorang mahasiswa Univeritas Rangoon yaang ditembak mati saat mengikuti pemberontakan 1988.[3] Ia menghabiskan seluruh masa mudanya di bawah pemerintahan militer.[3] Kariernya mulai berkembang ketika ia bergabung dengan Audio Visual (AV) Media, sebuah perusahaan film dokumenter swasta pertama di Burma, pada tahun 1997 sampai 2000 sebagai asisten produser.[1][3] Pada tahun 2000-an ia pernah menerbitkan majalah mode, sebelum akhirnya berkarier sebagai wartawan pada Democratic Voice of Burma (DVB) dan pembuat film dokumenter.[1]
Pada tahun 2006, ia menempuh pendidikan di Yangoon Film School dan menjadi pembuat film paling produktif di sekolah tersebut.[4] Ia menikah dengan Ko Oo, seorang fotografer, yang kemudian keduanya telah bersama-sama memproduksi sejumlah film dokumenter pendek sejak tahun 2006.[4] Ia dikenal karena mendokumentasikan aksi protes prodemokrasi di Myanmar pada tahun 2007 yang dikenal dengan Revolusi Saffron.[5] Ia telah menerima penghargaan nasional dan internasional atas karya-karya filmnya dan ditetapkan sebagai penerima penghargaan Courage in Journalism Awards ke 35 dari International Women's Media Foundation (IWMF) pada Juni 2024.[5]
Kasus
Shin Daewe ditangkap polisi pada tanggal 15 Oktober 2023 saat mengambil drone yang dipesan secara daring untuk kebutuhan syuting film dokumenter.[6] Kepemilikan drone merupakan hal ilegal di Myanmar.[7] Pada tanggal 10 Januari 2024, ia dipenjara seumur hidup di Penjara Insein, Yangon berdasar Undang-Undang Anti-Terorisme dengan tuduhan ia ikut mendanai dan membantu teroris.[8][6]
Hal ini memantik beberapa organisasi internasional untuk menyerukan pembebasan Shin Daewe, seperti International Documentary Filmfestival Amsterdam (IDFA) Institute,[9] International Coalition for Filmmakers Risk (ICFR),[10] dan Federation of European Screen Directors (FERA).[11] Ia kemudian dibebaskan lewat amnesti pada tanggal 17 April 2026.[12][13]
Ia tercatat dalam daftar "Inspiring Women of Burma" yang dirilis oleh The Irrawady.[21] Shin Daewe juga masuk dalam daftar 100 Wanita versi BBC pada Desember 2024.[22]