Shimazu Yoshihiro (島津 義弘code: ja is deprecated , 21 Agustus 1535–30 Agustus 1619
) adalah daimyo pada masa perang sipil Jepang/ Periode Sengoku. Anak kedua dari Shimazu Takahisa dan adik dari Shimazu Yoshihisa, kepala klan Shimazu. Sejak muda telah memperlihatkan kehebatannya sebagai prajurit dan mengikuti kakaknya dalam berbagai pertempuran.
Pada tahun 1554, Shimazu Yoshihiro memenangkan pertempuran pertamanya di Kastil Iwatsurugi melawan kekuatan gabungan Kedoin Yoshishige, Irikiin Shigetsugu, Kamo Norikiyo, dan Hishikari Shigetoyo dari Provinsi Osumi bagian barat.[15] Dalam pertempuran Kizakihara tahun 1572, pasukannya yang hanya berkekuatan 300 orang mengalahkan Ito Yoshisuke yang mempunyai 3000 orang, sehingga pertempuran itu kadang disebut Okehazama di Kyushu. Dia juga terlibat dalam pertempuran lain seperti pertempuran Takabaru (1576), Mimigawa (1576), Minamata (1581), dan Hetsugigawa (1587). Kontribusinya sangat besar dalam unifikasi Kyushu. Tahun 1587, Toyotomi Hideyoshi mengirimkan pasukannya untuk menaklukkan Kyushu. Yoshihiro bersikeras melanjutkan perang walaupun kakaknya yang kepala klan, Yoshihisa sudah menyatakan menyerah. Baru setelah Yoshihisa berkali-kali membujuknya dia tunduk pada keputusan itu. Setelah kekalahan ini, Yoshihisa pensiun dan menjadi biksu dengan nama Ryuhaku. Kekuasaan pun berpindah ke tangan Yoshihiro, namun dalam beberapa cerita Yoshihisa tetap memegang kekuasaan klan di belakang layar.[16]
Di bawah Hideyoshi, Yoshihiro terlibat dalam invasi ke Joseon. Tahun 1592 dan 1597 dalam perang selama tujuh tahun itu, dia menginjakkan kaki di semenanjung itu dan dengan gemilang memenangkan sejumlah pertempuran. Tahun 1597, bersama Todo Takatora, Yoshihiro mengalahkan angkatan laut Korea di bawah pimpinan jendral Won Kyun dan membunuhnya itu dalam pertempuran. Kekemenangan ini sekaligus membalaskan kekalahan dalam pertempuran sebelumnya di mana mereka dikalahkan angkatan laut Joseon di bawah Yi Sun-sin. Tanpa Yi Sun-sin yang saat itu sedang diasingkan karena fitnah lawan-lawan politiknya, angkatan perang Joseon dengan mudah dikalahkan. Pertempuran selanjutnya tahun 1598, Yoshihiro menghadapi pasukan Ming yang membantu Joseon dengan kekuatan 37.000 orang. Namun hanya dengan 7000 orang, Yoshihiro mengalahkan mereka dan menjatuhkan banyak korban jiwa pada pasukan musuh. Keadaan berbalik pada babak final dari perang itu, pertempuran Noryang. Armada yang berkekuatan 500 kapal perang yang dipimpinnya kalah telak oleh aliansi Joseon Korea dan Ming Tiongkok yang dipimpin Yi Sun-sin yang telah kembali. Pertempuran itu berakhir dengan kerugian 300 kapal perangnya karam, ini adalah salah satu kekalahannya yang terbesar. Keterlibatannya dalam invasi Korea ini diprotes sejumlah bawahannya, termasuk adiknya Toshihisa ketika hendak berangkat. Ujungnya Toshihisa bunuh diri.
Dan Selama Shimazu Yoshihiro memimpin pasukan klan Shimazu dalam invasi ke Semenanjung Korea (Joseon) pada masa itu, Yoshihiro membawa tujuh ekor kucing ke medan perang.[17] Yoshihiro memanfaatkan sensitivitas mata kucing, di mana bentuk pupilnya berubah secara konsisten mengikuti pergerakan matahari sepanjang hari.[17][18]
Setiap kucing dicocokkan untuk membaca waktu-waktu spesifik secara presisi.[17] Metode ini membantu armada militer Shimazu menjaga koordinasi waktu dengan akurat selama kampanye perang yang panjang.[17]
Dari tujuh ekor kucing yang dibawa, lima ekor di antaranya gugur akibat kerasnya kondisi di medan tempur.[17] Hanya dua ekor kucing yang berhasil bertahan hidup dan dibawa pulang kembali ke Kagoshima.[17][19]
Pada Pertempuran Sekigahara (1600), Yoshihiro dengan pasukannya yang berjumlah sekitar 1500 prajurit, berpihak pada Pasukan Barat yang dipimpin oleh Ishida Mitsunari.[20]
Untuk melawan Pasukan Timur di bawah pimpinan Tokugawa Ieyasu. Sepanjang pertempuran, pasukan klan Shimazu yang memilih untuk tetap diam dan tidak bergerak di posisinya karena perselisihan taktis sebelumnya dengan Mitsunari.[21]
Lokasi tempat posisi Pasukan Shimazu Yoshihiro di pertempuran Sekigahara
Ketika Pasukan Barat akhirnya runtuh dan melarikan diri akibat pengkhianatan di garis depan, pasukan Shimazu menjadi satu-satunya unit yang tersisa dan terkepung sepenuhnya oleh puluhan ribu tentara Pasukan Timur.
Namun Shimazu Yoshihiro meluncurkan serangan balik langsung yang menerobos jantung formasi pertahanan utama Tokugawa Ieyasu untuk mencari jalan keluar.[22]
Pasukan Shimazu pertama kali menerobos pasukan Fukushima Masanori, garda terdepan Tentara Timur. Selanjutnya, mereka menerobos pasukan Ii Naomasa , tepat ketika di saat mereka mendekati pasukan utama Tokugawa Ieyasu, mereka mengubah arah dan menuju selatan sepanjang jalan Ise.[23][24]
dan untuk menyukseskan pelarian ini, pasukan Shimazu menerapkan taktik ekstrem yang disebut Sutegamari (bahasa Jepang:捨て奸code: ja is deprecated ).[25]
Monumen Shimazu Toyohisa di pertempuran Sekigahara
Keponakan Yoshihiro, yaitu Shimazu Toyohisa, dan bersama komandan-komandan setianya, mengorbankan nyawa mereka dalam formasi ini demi melindungi Yoshihiro.[26][27]
Pengejaran baru berhenti setelah jenderal utama Tokugawa, Ii Naomasa terluka parah akibat dari sisa pasukan Shimazu.[28]
dan dari 1.500 prajurit, hanya sekitar 60 hingga 80 orang yang termasuk Yoshihiro. Yang setelah lolos, dia lalu bersama orang-orang yang masih selamat, kembali ke Provinsi Satsuma dengan kapal dan berhasil selamat kembali melalui jalur laut.
Tokugawa Ieyasu memilih untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui negosiasi. Pertama, Tokugawa Ieyasu menarik pasukan yang dikirim untuk menaklukkan klan Shimazu, dan pada tahun 1602 , ia mendengarkan tuntutan klan Shimazu, menjamin wilayah mereka, dan mengampuni Shimazu Yoshihiro.[29]
Pada waktu yang sama, yaitu tahun 1602. Yoshihiro mendirikan sebuah altar penghormatan untuk menyemayamkan dua kucing yang berhasil selamat kembali ke Jepang. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan kesetiaan kucing-kucing yang digunakan sebagai penunjuk waktu selama perang di Korea, yang menjadi cikal bakal dari kuil Nekogami Jinja.[17][30][31]
Di sisi lain, Yoshihiro menunjuk anaknya, Tadatsune, sebagai kepala klan berikutnya lalu memilih pensiun dan menghabiskan masa tuanya di Sakurajima untuk mengajar generasi muda. Pada tahun 1619, Yoshihiro meninggal dunia dan beberapa bawahannya melakukan junshi (bunuh diri demi mengikuti kematian tuannya).
Yoshihiro memiliki reputasi militer yang terkenal yaitu "Oni-Shimazu" (bahasa Jepang:鬼島津code: ja is deprecated ). Dan memegang peranan penting bagi klan Shimazu. Dalam hal ini, Toyotomi dan Tokugawa bermaksud mengadu domba klan ini dengan memperlakukan Yoshihiro dengan baik sementara memperlakukan Yoshihisa dengan buruk, tetapi rencana ini tidak pernah berhasil. Yoshihiro adalah seorang penganut Budha yang taat, dia juga membangun monumen untuk penghormatan bagi musuh yang gugur dalam invasi Korea.
Penghargaan Anumerta Pangkat Ketiga Senior
Pada Agustus 1918, Perdana Menteri Terauchi Masatake melalui Kantor Sekretaris Kabinet mengeluarkan Keputusan Kabinet No. 137 tertanggal 20 Agustus 1918 untuk memberikan penghormatan kepada almarhum Shimazu Yoshihiro. Atas pengajuan tersebut, Kaisar Taisho secara resmi mengeluarkan dekrit khusus Kekaisaran untuk menganugerahkan pangkat istana Peringkat Ketiga Senior (bahasa Jepang:正三位code: ja is deprecated , Shōsanmi) secara anumerta kepada Yoshihiro. Dekrit ini disetujui pada 22 Agustus 1918, diserahkan keesokan harinya pada 23 Agustus, serta dicatat dalam buku registrasi pangkat (bahasa Jepang:位記code: ja is deprecated , Iki) dan dilaporkan dalam Lembaran Negara (bahasa Jepang:官報code: ja is deprecated , Kanpō) pada tanggal yang sama.
[32]