Pesawat ini dikembangkan dari FC-31 Gyrfalcon (Hanzi:鹘鹰; Pinyin:Gǔ yīng),[1][2][3][4][5] prototipe pesawat siluman yang berfungsi sebagai demonstran yang bertujuan untuk menarik calon pelanggan ekspor setelah SAC kalah dalam tawaran J-XX dari Chengdu Aircraft Industry Group. Prototipe tersebut sering disebut sebagai J-31, F-60, J-21, Snowy Owl, atau Falcon Hawk dalam berbagai laporan media.[6][7][8][9][10] Pesawat tempur itu awalnya tidak menampilkan nomenklatur J-XX, karena nama-nama tersebut dicadangkan untuk program yang diluncurkan dan dibiayai oleh militer, sementara FC-31 dikembangkan secara independen sebagai usaha yang didanai secara pribadi oleh SAC.[11][12] Prototipe FC-31 asli melakukan penerbangan perdananya pada tanggal 31 Oktober 2012.
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), khususnya Angkatan Laut PLA, kemudian tertarik pada proyek FC-31, yang menyebabkan prototipe tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan tiang peluncur ketapel dan sayap lipat, dan varian yang terbarunya mulai terbang pada tanggal 29 Oktober 2021. Varian berbasis darat muncul pada tahun 2023,[13] dan secara resmi memulai debutnya menjelang Pameran Penerbangan & Dirgantara Internasional Tiongkok 2024, menerima sebutan J-35A.[14] Dengan diperkenalkannya J-35, pesawat ini akan menjadi pesawat tempur generasi kelima Tiongkok ke-2 (setelah Chengdu J-20), dan menjadikan Tiongkok satu-satunya negara selain Amerika Serikat yang memiliki dua jenis pesawat tempur siluman.[15][16]
Pada tahun 2013, Kepala Akuisisi Pertahanan Frank Kendall mengatakan dalam sidang Senat bahwa data F-35 yang dicuri membantu pesaing AS mempercepat proyek pesawat tempur generasi kelima mereka sendiri.[19] Dalam artikel tahun 2015 untuk Diplomat, Franz-Stefan Gady mengatakan bahwa dokumen yang bocor ke Der Spiegel memberikan konfirmasi publik pertama atas pencurian data rahasia program Joint Strike Fighter oleh peretas Tiongkok.[20]
Pejabat militer dan industri AS percaya pada tahun 2014 bahwa begitu J-35 (masih disebut FC-31 saat itu) mulai beroperasi, kemungkinan besar akan lebih dari sekadar tandingan bagi jet tempur generasi keempat yang ada seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18E/F Super Hornet. Mereka menyarankan bahwa kemampuan J-35 melawan jet tempur terbaru, seperti F-22 dan F-35 AS, akan bergantung pada faktor-faktor seperti kuantitas platform, kualitas pilot, dan kemampuan radar serta sensor lainnya.[21]
Komentator barat juga menyatakan bahwa J-35 akan menjadi pilihan atraktif untuk diekspor karena harganya yang lebih terjangkau untuk Angkatan Udara yang tidak bisa membeli pesawat buatan Amerika Serikat karena terlalu mahal atau disanksi.[22][23][24] Namun, rival regionalnya termasuk India (dengan HAL AMCA), Jepang (dengan Mitsubishi X-2 Shinshin) dan Korea Selatan (dengan KAI KF-21 Boramae) juga melancarkan program pesawat generasi ke-5 dan ke-6 mereka sendiri untuk melawan perkembangan Tiongkok, sementara negara-negara Asia lainnya memikirkan untuk membeli F-35 atau Sukhoi Su-57 untuk meningkatkan kemampuan angkatan udaranya.[25][26][27][28]