Shahrokh Mirza (bahasa Persia:شاهرخمیرزاcode: fa is deprecated ; 1734–1796), yang lebih dikenal dengan gelar dinastinya Shahrokh Shah (شاهرخ شاهcode: fa is deprecated ), adalah raja (syah) dari dinasti Afshariyah yang memerintah bagian barat Khorasan (yang kira-kira setara dengan Provinsi Khorasan saat ini)[1] dari tahun 1748 hingga 1796, dengan jeda selama dua bulan. Ia merupakan cucu dari penakluk Iran, Nader Shah (berkuasa 1736–1747), dan putra dari Reza Qoli Mirza Afshar serta istrinya yang berasal dari dinasti Safawiyah, Fatemeh Soltan Begom, saudari Tahmasp II, syah Safawiyah kedua terakhir di Iran. Garis keturunan separuh Safawiyah yang dimilikinya membuat Shahrokh menonjol di antara kerabat Afshariyah-nya dan digunakan untuk memperkuat legitimasi kakeknya.
Setelah pembunuhan Nader Shah pada tahun 1747, keponakannya, Ali-qoli Khan (yang mengambil nama takhta Adel Shah), naik tahta di Mashhad dan memerintahkan pembantaian semua keturunan Nader Shah yang berada di benteng Kalat. Shahrokh dibiarkan hidup jika sewaktu-waktu garis keturunannya dari Safawiyah dapat berguna, dan ia pun ditahan di benteng tersebut sebagai tawanan. Ketika Adel Shah tengah menghadapi pemberontakan adik laki-lakinya, Ebrahim Mirza, sekelompok pemimpin suku Turk, Kurdi, dan Arab memanfaatkan ketidakhadirannya untuk mengangkat Shahrokh sebagai raja. Baik Adel Shah maupun Ebrahim akhirnya dikalahkan dan dibunuh, tetapi tak lama kemudian Shahrokh digulingkan oleh sekelompok pemimpin suku yang memberontak, yang lalu mengangkat pengklaim takhta Safawiyah, Mir Sayyed Mohammad (yang mengambil nama takhta Suleiman II), sebagai raja. Shahrokh dibuat buta atas hasutan Mir Alam Khan Khuzayma dan bangsawan-bangsawan terkemuka lainnya, meskipun hal itu sangat bertentangan dengan kehendak Suleiman II. Sekelompok konspirator yang dipimpin oleh pemimpin suku Turko-Mongol, Yusuf Ali Khan Jalayir, akhirnya menggulingkan Suleiman II dan mengembalikan Shahrokh ke atas takhta.
Nama
Nama "Shahrokh" (Persia: شاهرخ) diberikan kepadanya oleh kakeknya, Nader Shah (berkuasa 1736–1747), sebagai penghormatan kepada Shah Rukh, putra dan pewaris penguasa Turko-Mongol, Timur Lenk (berkuasa 1370–1405).[2][3] Tindakan ini dilakukan oleh Nader Shah sebagai cara untuk menampilkan dirinya sebagai penakluk yang setara dengan Timur.[4]
Kehidupan awal
Setelah penobatan pangeran Safawiyah, Tahmasp II, sebagai syah Iran pada tahun 1730, Nader Shah menikahi salah satu saudari Tahmasp II, sementara putra sulungnya, Reza Qoli Mirza Afshar, menikahi saudari lainnya, Fatimeh Soltan Begom. Pada bulan Maret 1734, Shahrokh lahir dari pernikahan antara Reza Qoli Afshar dan Fatimeh Soltan Begom. Kabar kelahiran tersebut sampai ke istana di Isfahan tepat pada hari Nowruz (Tahun Baru Iran), dan Nader Shah kemudian mengangkat Shahrokh sebagai penguasa kota Herat.[5] Dengan kelahiran Shahrokh yang memiliki darah setengah Safawiyah, Nader Shah dapat memperkuat legitimasi kekuasaannya.[6]
Perry, John. R. (1984). "Afsharids". Encyclopædia Iranica, Vol. I, online edition, Fasc. 6. New York. hlm.587–589. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Perry, John. R. (1997). "Ebrāhīm Shah Afšār". Encyclopædia Iranica, Vol. VIII, online edition, Fasc. 1. New York. hlm.75–76. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)