Sesar Opak memiliki laju geser sekitar 3 milimeter per tahun. Pergeseran sesar ini dapat menimbulkan potensi gempa tektonik di masa mendatang. Selain itu, hasil estimasi maximum magnitude yang dapat terjadi di wilayah Sesar Opak adalah 6,5 Mw dengan periode perulangan maximum magnitude selama ± 60 tahun pada Segmen Utara dan selama ± 130 tahun pada Segmen Selatan.
Sesar Opak sendiri memanjang dari lereng Gunung Merapi, lalu melintasi Sungai Opak dan ke selatan dengan muara langsung ke Samudra Hindia di Pantai Parangtritis. Muara Sungai Opak sendiri merupakan bagian dari dataran rendah Yogyakarta.
Sejak tahun 1821 beberapa gempa moderat berkekuatan 5-6 magnitudo pernah menguncang Yogyakarta.
Gempa pada 27 Mei 2006 pukul 05.54 WIB merupakan salah satu gempa yang paling mematikan di Yogyakarta, akibat pergeseran Sesar Opak, sejak gempa itu Sesar Opak menjadi terkenal dan dipercaya menjadi penyebab gempa tersebut.[2]
Gempa besar di wilayah Yogyakarta sering kali terjadi. Lebih dari 13 peristiwa gempa besar di wilayah Yogyakarta, seperti
pada peristiwa tahun 1840, lalu 1859, 1867, 1875, 1926, 1937, 1943, dan 2006. Namun sebagian besar aktivitas seismik di wilayah Yogyakarta disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik antara, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Gempa bumi akibat pergeseran sesar aktif sendiri relatif jarang terjadi.[3]