Serat Sindujoyo adalah naskah sastra Jawa pesisir yang menggambarkan kehidupan sosial, keagamaan, dan historis masyarakat di kawasan pesisir timur Jawa, khususnya wilayah Giri (kini termasuk Gresik), pada periode pasca abad ke-17.[1][2] Naskah ini juga dikenal sebagai bagian dari tradisi babad yang mengisahkan tokoh Sindujoyo, yang dalam tradisi lokal dianggap sebagai figur historis sekaligus mitis.[3]
Latar belakang
Manuskrip Serat Sindujoyo disakralkan oleh masyarakat setempat dan hingga kini hanya dapat ditemukan di kompleks makam Sindujoyo di Desa Karangpoh, Gresik.[4] Naskah ini diidentifikasi sebagai bagian dari tradisi manuskrip pesisir Jawa Timur yang memiliki karakteristik khas, baik dari segi bahasa maupun isi.[5][6]
Dalam konteks sejarah wilayah, teks ini mencerminkan kondisi kawasan Giri setelah tahun 1636, yang kemudian berkembang menjadi wilayah Gresik modern.[7]
Penanggalan
Pada bagian awal naskah terdapat kolofon yang memuat informasi waktu penulisan, meskipun terdapat perbedaan interpretasi terkait tahun penulisan tersebut.
Menurut Balai Bahasa Surabaya, naskah ditulis pada hari Minggu Legi, bulan Ramelan tahun Je 1778, yang jika dikonversi ke kalender Masehi setara dengan tahun 1856.[8] Sementara itu, interpretasi lain menyebutkan tahun 1778 Saka yang bertepatan dengan 21 Juli 1850 M.[9]
Kolofon juga mencantumkan penanggalan Jawa secara lengkap, termasuk wuku Landep dan sengkalan “gajah pitu sapta tunggal” yang merujuk pada angka tahun tersebut.
Struktur dan bahasa
Serat Sindujoyo terdiri atas 16 pupuh tembang dengan total sekitar 498 bait.[10] Teksnya disusun dalam bentuk macapat dengan berbagai jenis tembang, antara lain Asmaradhana, Dhandhanggula, Pangkur, Durma, Mijil, Megatruh, Girisa (Girinata), dan Kinanthi.[11]
Bahasa yang digunakan merupakan bahasa Jawa dialek pesisir timur, khususnya Gresik. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan kata ganti esun (dari ingsun) untuk menyebut diri sendiri, yang masih digunakan dalam masyarakat pesisir Gresik hingga kini.[12]
Isi
Secara umum, Serat Sindujoyo mengisahkan perjalanan hidup tokoh Pangaskarta, yang kemudian dikenal sebagai Sindujoyo. Ia merupakan putra Kyai Kening dan menjadi murid Sunan Prapen di Giri Kedaton.[13]
Setelah wafatnya Sunan Prapen, Pangaskarta bersama Imam Sujono melakukan pengembaraan untuk menuntut ilmu. Dalam perjalanan tersebut, ia mengalami berbagai peristiwa penting, termasuk keterlibatan dalam penangkapan Adipati Banyumas atas perintah raja Kartasura serta penerimaan gelar “Sindujoyo”.[14]
Ia kemudian membuka sejumlah wilayah permukiman yang menjadi asal-usul beberapa desa di kawasan pesisir Gresik, seperti Pelang, Rumo (Romo), dan Kroman.[15]
Tokoh dalam tradisi lokal
Dalam tradisi masyarakat pesisir Gresik, Sindujoyo dipandang sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam pembukaan wilayah permukiman pada awal abad ke-17.[16] Ia diposisikan sebagai figur yang berada di antara sejarah dan mitos, dengan kisah-kisahnya yang diwariskan melalui tradisi lisan dalam berbagai versi.[17]
Makam Sindujoyo diyakini berada di dua lokasi, yaitu di Karangpoh dan di kompleks makam Sunan Prapen di Klangonan, Gresik, yang keduanya dianggap keramat oleh masyarakat setempat.[18]
Referensi
↑Zainuddin, O. (2010). Kota Gresik 1896–1916: Sejarah Sosial, Budaya dan Ekonomi. Depok: Ruas.
↑Widayati, S.W. (2004). Naskah-naskah Jawa di Wilayah Pesisir Jawa Timur dan Kandungan Isinya (Studi Naskah, Teks dan Karakteristiknya) (Report). Balai Bahasa Surabaya.
↑Widayati, S.W. (2004). Naskah-naskah Jawa di Wilayah Pesisir Jawa Timur dan Kandungan Isinya (Studi Naskah, Teks dan Karakteristiknya) (Report). Balai Bahasa Surabaya. hlm.111.
↑Widayati, S.W. (2004). Naskah-naskah Jawa di Wilayah Pesisir Jawa Timur dan Kandungan Isinya (Studi Naskah, Teks dan Karakteristiknya) (Report). Balai Bahasa Surabaya.
↑Machsum (2008). Khasanah Manuskrip-manuskrip Jawa Pesisiran di Jawa Timur. Surabaya: Balai Bahasa Surabaya.
↑Zainuddin, O. (2010). Kota Gresik 1896–1916: Sejarah Sosial, Budaya dan Ekonomi. Depok: Ruas.
↑Machsum (2008). Khasanah Manuskrip-manuskrip Jawa Pesisiran di Jawa Timur. Surabaya: Balai Bahasa Surabaya. hlm.235.
Sindu Joyo
Sebagai nelayan Kyai Sindujoyo tidak seperti nelayan umumnya dalam kerjanya. Dia menarik seroh (sodoh) tak ubahnya seorang yang melaksanakan lelaku (tirakat). Pada bagian ujung sodoh(seroh)nya dibiarkan terbuka tidak diikat seperti nelayan umumnya sehingga ikan yang masuk diserohnya keluar lagi lewat ujung serohnya. Dia hanya membawa ikan yang cukup untuk dikonsumsi keluarganya selebihnya dilepas kembali ke laut.
Saat melaut ini dia berkenalan dengan MERTOJOYO lelaki dari Manukan yang sama-sama mencari ikan. Dia juga bagian dari pasukan Ampel Dento. Dalam melaksanakan lelakunya, dia sering mendorong alat tangkap serohnya hingga dia menemukan tempat yang sunyi dan cocok untuk melaksanakan tapa. Tempat tersebut ada di Kali Tanggok. Di atas sebuah pohon di kali Tanggok inilah Kyai sindujoyo melakukan tapa selama tiga bulan.
Setelah usai melakukan tapa dia terbangun dan heran melihat banyak armada laut yang melintas di Kali Tanggok. Saat menghampiri armada inilah Kyai Sindujoyo bertemu kembali dengan Martojoyo. Dari Martojoyo inilah kyai Sindujoyo mengetahui, bahwa iring-iringan armada laut ini adalah pasukan Ampel Dento yang akan berperang melawan pasukan Gumeno yang dipimpin Kidang palih.
Perang di Gumeno ini telah menyebabkan kekalahan di pihak Ampel Dento. Pasukan yang dipimpin langsung oleh sang patih pulang dengan membawa kekalahan. Kekuatan kembali disusun lagi untuk menyerang Gumeno, Tapi lagi lagi pasukan Ampel Dento menelan kekalahan. Kekalahan demi kekalahan ampel Dento membuat murka Raja Ampel. Akhirnya disusunlah kekuatan yang jauh lebih besar, tapi tak seorangpun berani menjadi panglima perang. Kemudian Martojoyo mengusulkan kepada sang Raja, agar Kyai Sindujoyo yang berasal dari desa ROOMO agar diperkenankan untuk memimpin pasukan ampel dento. Usul itupun disetujui raja Ampel Dento. Dan Martojoyo diutus untuk memanggil Kyai Sindujoyo agar bersedia menghadap sang Raja.Setelah menghadap raja ampel Dento, Kyai Sindujoyo diajak ke gudang senjata, untuk memilih senjata yang cocok. Dipilihlah tombak yang paling jelek di antara ratusan tombak di gudang.
Dibawah pimpinan Kyai Sindujoyo ternyata ekspedisi ini berhasil merahi kemenangan dan Kyai Sindujoyo berhasil membunuh Kidang Palih. Mendengar berita kekalahan pasukan Gumeno dan kematian Kidang Palih membuat istri Kidang Palih tidak Terima. Dia ingin membalas kematian suaminya kepada Kyai Sindujoyo. Dengan berdandan bak seorang lelaki, istri Kidang Palih berkuda mengejar Kyai Sindujoyo. Pertarungan terjadi Istri Kidang palih tewas dengan tikaman tombak tepat di dadanya. Begitu mengetahui yang terbunuh seorang wanita, Kyai sindujoyo amat menyesal dan meninggalkan medan perang tanpa pamit dengan pasukan yang dipimpinnya.
Seperti halnya di Surakarta, Kyai Sindujoyo menolak pemberia hadiah dari raja Ampel Dento. Ratusan kerbau itu diberikan pada Rakyat Gumeno yang telah ditinggalkan pemimpinnya, dan dia memilih satu kerbau untuk dijadikan tempat bertapa. Dari kali Tanggok dia masuk ke dalam kerbau selama empat puluh hari, dan sampailah bangkai kerbau tersebut di desa KARANG PASUNG sekarang jadi kelurahan KROMAN. Saat keluar dari kerbau Kyai Sindujoyo menjumpai anak buaya yang terjepit akar pohon bakau(Tanjang). Lalu buaya kecil itu diangkat dan dikembalikan ke laut. Kyai Sindujoyo membuka lahan dengan membabat hutan bakau ini untuk membuat rumah yang baru di desa KARANG PASUNG.