Serabi Notosuman adalah makanan tradisional khas Kota Surakarta yang dikenal karena cita rasanya yang gurih serta teksturnya yang lembut. Kue ini dibuat dari bahan dasar tepung beras, santan, dan gula, kemudian dimasak dengan cara dipanggang menggunakan wajan kecil di atas bara api. Ciri khas Serabi Notosuman terletak pada penyajiannya yang tanpa kuah, berbeda dari varian serabi pada umumnya yang sering disajikan dengan kuah kinca (kuah gula merah dan santan). Keunikan ini menjadikan Serabi Notosuman sebagai salah satu ikon kuliner tradisional yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Pada tahun 2021, Serabi Notosuman resmi ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Sejarah
Proses pembuatan Serabi tradisional
Serabi Notosuman dikenal luas di oleh masyarakat di Surakarta dan sekitarnya. Makanan ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram, sebagaimana disebutkan dalam naskah Serat Centhini, di mana serabi diklasifikasikan sebagai salah satu jenis jajanan pasar.[1] Serabi dibuat dari adonan tepung beras dan santan yang dimasak menggunakan wajan kecil berbahan tanah liat, serta dipanggang di atas bara arang. Ciri khas serabi gaya Jawa terletak pada cita rasanya yang gurih dan manis, serta disajikan tanpa tambahan topping.[2]
Secara umum, terdapat dua varian serabi dalam tradisi kuliner Jawa, yakni serabi kering dan serabi basah. Serabi kering disajikan tanpa kuah, baik saat dimasak maupun setelah matang. Sebaliknya, serabi basah disiram dengan kuah santan saat proses pemanggangan, sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dengan lapisan kuah kental di bagian atasnya. Meskipun berbeda dalam penyajian dan teknik memasak, kedua jenis serabi ini sama-sama mempertahankan rasa khas manis dan gurih yang menjadi identitas kuliner tradisional Jawa.[2]
Serabi Notosuman pertama kali dibuat pada tahun 1923 oleh Ny. Hoo Ging Hok bersama suaminya, Tan Giok Lan. Awalnya, pembuatan serabi ini berangkat dari upaya modifikasi kue apem yang tidak dapat diproduksi secara harian. Dalam prosesnya, pasangan tersebut mengembangkan varian kue berbentuk lebih pipih dengan bagian pinggir yang garing, yang kemudian dikenal sebagai serabi. Kehadiran Serabi Notosuman mendorong berkembangnya usaha serabi di kalangan masyarakat Surakarta. Masyarakat mulai menciptakan varian serabi dengan ciri khas tersendiri. Jalan Slamet Riyadi di Surakarta menjadi salah satu pusat penjualan Serabi Solo, dengan banyak pedagang yang menjajakan serabi hasil kreasi masing-masing. Untuk membedakan produk mereka, para penjual biasanya menggunakan nama identitas usaha masing-masing sebagai penanda kekhasan.[3]
Hak Paten dan Sertifikasi Serabi Notosuman
Pada tahun 1992, usaha kuliner ini secara resmi mematenkan merek dagangnya dengan nama Serabi Solo Notosuman guna menjaga keaslian produk dan identitas warisan kuliner tersebut. Serabi Notosuman juga telah memenuhi ketentuan perizinan produksi pangan melalui penerbitan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) sesuai dengan ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, dengan nomor P-IRT 3063372011002-16. Dalam hal kehalalan produk, Serabi Notosuman telah memperoleh sertifikasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun yang sama, dengan nomor sertifikat 15100006580812.[2]
Serabi Notosuman dan Presiden Republik Indonesia
Sejak era Presiden Soekarno, Serabi Notosuman dikenal sebagai makanan favorit tokoh-tokoh penting nasional. Selain itu, Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, beserta keluarga Cendana, tercatat sebagai pelanggan tetap. Serabi ini kerap disajikan dalam berbagai acara keluarga Cendana dan menjadi menu pilihan saat menyambut tamu negara di Istana Negara. Popularitas Serabi Notosuman terus berkembang seiring bertambahnya pelanggan dari kalangan pejabat tinggi negara. Salah satu momen penting dalam sejarah Serabi Notosuman terjadi pada November 1997, ketika Nyonya Lidia, generasi penerus usaha ini, menerima undangan khusus dari keluarga Cendana untuk membuat serabi secara langsung dalam rangka penyambutan Sultan Brunei dan pameran kuliner yang diselenggarakan di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta.[2]