Dalam berbagai bahasa Asia Timur frasa "sepuluh ribu tahun" digunakan untuk permintaan panjang umur, dan biasanya diterjemahkan dengan sebutan "umur panjang" dalam bahasa Inggris.
Frasa tersebut bermula pada zaman Tiongkok kuno sebagai sebuah ekspresi yang digunakan untuk permintaan umur panjang terhadap kaisar Tiongkok. Karena pengaruh politik dan budaya Tiongkok di wilayah tersebut, dalam hal ini bahasa Tionghoa, pengartian yang sama dan susunan penggunaan dapat ditemukan dalam beberapa bahasa Asia Timur.
Tiongkok
Penggunaan klasik
Menurut adat, ungkapan wansui diulang berkali-kali setelah nama atau gelar orang tersebut. Misalnya, di Tiongkok kuno, Kaisar diucapkan "Wú huáng wànsuì, wànsuì, wànwànsuì" (吾皇 萬歲 , 萬歲 , 萬 萬歲; tahun, sepuluh ribu kali sepuluh ribu tahun "). Dalam bahasa Cina ada dua karakter yang sering digunakan untuk mengartikan tahun, yaitu suì (歲) yang berarti "banyaknya tahun dalam hidup", yaitu umur; dan nián (年) digunakan dalam konteks jumlah periode waktu dan tahun kalender. Jadi, arti asli dari frasa "sepuluh ribu tahun" berarti "hidup selama 10.000 tahun".
Penggunaan modern
Pada Agustus 1945, setelah Generalissimo Chiang Kai-shek mengumumkan kekalahan Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua, masyarakat bersorak "Chiang ... Chung kuo ... wan sui ... wan wan sui!" (蔣...中國...萬歲...萬萬歲!), yang artinya, "Chiang ... Tiongkok ... hidup sepuluh ribu tahun ... hidup sepuluh ribu sepuluh ribu tahun".[1]
Jepang
Banzai pada Upacara Penyataan Terima Kasih (8 September)
Istilah Tiongkok ini diserap di Jepang sebagai banzai (Kana: ばんざい; Kanji: 万歳) seawal abad ke-8 dan digunakan untuk menyatakan rasa hormat kepada Kaisar dengan cara yang hampir sama seperti istilah dalam bahasa Tionghoa.
Namun, menurut Nihongi, bahkan jauh lebih awal, pada masa pemerintahan Permaisuri Kōgyoku, tahun 642 Masehi, bulan ke-8, hari ke-1:
Kaisar melakukan perjalanan ke sumber sungai Minabuchi. Di sana, beliau berlutut dan berdoa, menghadap ke empat penjuru dan memandang ke langit. Seketika itu juga terdengar guntur dan hujan lebat, yang akhirnya turun selama 5 hari, dan membasahi seluruh Kekaisaran dengan limpah. Kemudian rakyat jelata di seluruh Kekaisaran berseru serempak: "Banzai" dan berkata "seorang Kaisar yang sangat berbudi luhur".
Banzei kemudian dihidupkan kembali sebagai banzai (Kana: ばんざい) setelah Restorasi Meiji. Banzai sebagai ritual formal ditetapkan dalam pengumuman Konstitusi Meiji pada tahun 1889 ketika mahasiswa meneriakkan banzai di depan kereta Kaisar.
Selama Perang Dunia II, banzai atau bentuk lengkapnya Tennōheika Banzai! (天皇陛下万歳; (Tennouheika Banzai) "Hidup Yang Mulia Kaisar") berfungsi sebagai semacam seruan perang bagi tentara Jepang. Idealnya, pilot kamikaze akan meneriakkan "banzai!" saat mereka menabrakkan pesawat mereka ke kapal musuh; meskipun budaya populer Jepang telah menggambarkan adegan romantis ini, tidak diketahui apakah ada pilot yang benar-benar melakukannya. Namun, penggunaannya yang dikonfirmasi oleh pasukan darat terdengar dalam banyak pertempuran selama Kampanye Pasifik, ketika unit infanteri Jepang menyerang posisi Sekutu. Akibatnya, istilah "serangan banzai " ("banzai charge", "banzai attack") menjadi umum di kalangan tentara berbahasa Inggris dan tetap menjadi konteks istilah yang paling dipahami secara luas di Barat hingga saat ini.
Catatan
↑"CHINA: Wan Wan Sui!". TIME. 27 Agustus 1945. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-12-21. Diakses tanggal May 22, 2011.