Seni berkelanjutan adalah cabang seni yang dikembangkan dengan menekankan keselarasan terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan, yang meliputi ekologis, keadilan sosial, non-kekerasan, dan demokrasi berbasis masyarakat. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak karya seni terhadap lingkungan sekitarnya, baik aspek sosial, ekonomi, biofisik, historis, maupun budaya. Seni berkelanjutan tidak hanya berfokus pada estetika atau nilai artistik semata, tetapi juga pada pengaruh jangka panjang terhadap masyarakat dan alam. Karya seni berkelanjutan dipandang sebagai media refleksi terhadap interaksi manusia dengan lingkungannya serta sebagai sarana untuk mengeksplorasi alternatif terhadap praktik sosial dan ekologis yang dominan.[1][2][3]
Sejarah
Sejarah seni berkelanjutan dapat ditelusuri melalui karya seni konseptual pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, yang menekankan dematerialisasi dan mengkritisi sistem seni yang berlaku. Menurut sejarawan dan kurator kontemporer Maja dan Reuben Fowkes, perkembangan seni berkelanjutan juga dipengaruhi oleh berakhirnya Perang Dingin pada 1989, yang memunculkan kesadaran baru tentang karakter global permasalahan ekologis dan sosial.[4][5] Mereka menunjukkan bahwa seni berkelanjutan mengadopsi sikap kritis terhadap sebagian praktisi seni tanah pada 1960-an, yang cenderung memperlakukan lanskap sebagai kanvas raksasa tanpa memperhatikan dampak ekologis.[6] Seni berkelanjutan mempertanyakan pembagian antara seni otonom dan instrumental yang muncul dari modernisme, dengan argumen bahwa otonomi memungkinkan seni dan seniman untuk bebas dan menawarkan alternatif terhadap paradigma ideologi dominan.[7]
Sejak 2005, Biennale Seni Berkelanjutan diadakan di Ihlienworth dekat Hamburg, Jerman, dengan kurator seorang seniman konseptual Jerman Samuel J. Fleiner. Dalam konteks akademik dan praktis, terdapat beragam istilah yang digunakan untuk merujuk pada hubungan antara seni dan keberlanjutan, termasuk sustainability arts dan art and sustainability.[8] Beberapa penulis menekankan pada karya seni yang berfungsi sebagai sarana refleksi terhadap isu-isu keberlanjutan tanpa menggunakan istilah seni berkelanjutan secara langsung.[9]
Diskusi mengenai hubungan antara seni kontemporer dan keberlanjutan mulai berkembang secara signifikan di Eropa pada awal tahun 2000-an. Salah satu kegiatan yang mencerminkan hal tersebut adalah konferensi German Society for Political Culture di Berlin pada tahun 2002 dan penyusunan dokumen Tutzinger Manifest. Pada tahun 2006, Simposium Internasional tentang Keberlanjutan dan Seni Kontemporer diadakan di Central European University, Budapest, yang menjadi bagian dari rangkaian simposium internasional yang menghadirkan seniman kontemporer, filsuf, ilmuwan lingkungan, dan aktivis untuk membahas topik seperti “Exit or Activism” (2008), “Hard Realities and the New Materiality” (2009), dan “Art, Post-Fordism and Eco-Critique” (2010). Pada periode Maret sampai April 2007,[10]Arts Research Network dari European Sociological Association menyoroti perkembangan terbaru dalam gerakan dan pendekatan yang menghubungkan seni dan keberlanjutan melalui konferensi biennial yang diselenggarakan di Leuphana University Lüneburg.[11]
↑Volker Kirchberg, Sacha Kagan and Christoph Behnke (2007). "Final Report: ESA Research Network for the Sociology of the Arts". Lüneburg: Leuphana Universität Lüneburg. ISBN 978-3935786485