SeumeuleungRaja (dalam bahasa Aceh berarti “menyuapi” atau “menyulang”) adalah tradisi adat yang berasal dari Kerajaan Meureuhom Daya dan hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, Indonesia.[1] Tradisi ini digelar setiap tahun bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, khususnya pada hari ketiga Lebaran. Prosesi ini merupakan bagian penting dari warisan budaya Kerajaan Daya yang berdiri pada tahun 1480 Masehi.[2][3]
Latar Belakang Sejarah
Tradisi Seumeuleung Raja bermula dari Kerajaan Meureuhom Daya, yang pada masa jayanya mempersatukan beberapa kerajaan kecil seperti Keuluang, Lamno, Kuala Unga, dan Kuala Daya. Kerajaan ini berpusat di Lamkuta dan Kuta, yang kini berada di Gampong Glee Jong, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.[1]
Upacara Seumeuleung Raja pertama kali dilakukan untuk menobatkan Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah, dengan simbolisasi menyuapi sang raja oleh dayang istana. Tindakan ini dimaknai sebagai peneguhan raja secara adat. Sejak itu, tradisi ini terus dilakukan dan berkembang menjadi upacara penyambutan tamu agung serta bentuk penghormatan kepada keturunan kerajaan.[4]
Pelaksanaan
Tradisi Seumeuleung dilaksanakan di Astaka Diraja, sebuah bangunan permanen yang menyerupai istana, terletak di Kompleks Makam Poeteumeureuhom, Glee Jong, Kecamatan Jaya. Prosesi ini dihadiri oleh ribuan masyarakat, tokoh adat, pejabat pemerintah, serta keturunan raja dari berbagai kerajaan di Aceh dan luar daerah.[5][6]
Prosesi inti dari Seumeuleung adalah menyuapi raja atau pewaris tahta secara simbolis, yang dilakukan oleh ketua adat atau tokoh utama dari garis keturunan kerajaan. Selain itu, terdapat prosesi Peumeunap, yaitu menunggu raja selesai makan sebagai bentuk penghormatan.[7]
Masyarakat yang hadir juga kerap ikut memperebutkan sisa nasi suapan raja, karena diyakini membawa keberkahan dan rezeki.[3]
Makna Budaya
Tradisi Seumeuleung memiliki makna simbolik sebagai:
Pengukuhan kekuasaan secara adat
Penyambutan tamu kehormatan
Pemersatu raja dan rakyat
Simbol keberkahan yang diyakini oleh masyarakat setempat
Tradisi ini tidak hanya mempertahankan nilai-nilai budaya lokal, tetapi juga mempererat jalinan silaturahmi antarketurunan raja dan masyarakat luas, serta memperkuat identitas Kabupaten Aceh Jaya sebagai pewaris budaya Kerajaan Daya.[6]
Tokoh dan Dukungan Pemerintah
Prosesi Seumeuleung sering dihadiri oleh pejabat tinggi daerah seperti Penjabat Bupati Aceh Jaya dan pejabat SKPK. Keturunan raja dari berbagai kerajaan, seperti Raja Linge, Raja Samalanga, Raja Kluet, Raja Seunagan, Raja Pedir, dan lainnya turut hadir sebagai undangan kehormatan.[8]
Menurut tokoh adat Saifullah, salah satu keturunan Raja Daya, prosesi ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan adat yang telah berlangsung selama lebih dari lima abad. Mantan Bupati Aceh Jaya, T. Irfan TB, juga menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini sebagai monumen budaya dan identitas historis Aceh Jaya.[8]
Pelestarian
Pemerintah daerah Aceh Jaya mendukung penuh pelestarian tradisi Seumeuleung, baik secara material dengan pembangunan Astaka Diraja, maupun secara kultural melalui pelibatan generasi muda. Tradisi ini menjadi bagian penting dari strategi pelestarian budaya lokal dan pengembangan wisata sejarah di Aceh Jaya.[8]
12Nurhalimah, Nurhalimah (2013 / 1433 H). "UPACARA SEUMEULEUNG DI MAKAM PO TEUMEUREUHOM"(PDF). FAKULTAS USHULUDDIN JURUSAN PERBANDINGAN INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI AR-RANIRY DARUSALAM – BANDA ACEH.; ;