Semah tradisi Indragiri adalah tradisi etnis MelayuIndragiri meminta kepada Tuhan agar makhluk gaib (mambang, akuan) penunggu tanah, air, kayu, hutan, bagunan dan sebagainya tidak menggangu kelancaran penggunaannya untuk tujuan kebaikan dengan memberikan sesuatu benda kepada mambang/akuan tersebut.
Semah dalam pengertian sehari-hari masyarakat Melayu adalah sesajian atau sajian yang diberikan kepada makhluk gaib. Semah laut, atau semah air berarti sesajian yang diberikan kepada makhluk atau kekuatan gaib yang berada di wilayah laut atau perairan lainnya dengan cara dihanyutkan. Tujuannya adalah memberikan persembahan dengan harapan memperoleh perlindungan atau keuntungan lainnya dari kekuatan-kekuatan gaib tersebut.[1]
Tradisi semah ini unik. Doa disampaikan kepada Allah Swt oleh alim ulama, tetapi pada bagian lain diucapkan pula mantra-mantra oleh dukun yang ditujukan kepada mambang dimaksud. Untaian mantra itu biasanya dalam bentuk syair.
Jenis semah di Indragiri terdiri dari semah tanah (jika hendak menggunakan tanah untuk tapak rumah, berladang, dan sebagainya), semah air (meminta mambang air membantu mendapatkan ikan, atau agar air sungai tidak meluap), semah kayu (jika hendak menggunakan kayu untuk rangka rumah, kapal, perabot dan sebagainya), semah rumah (jika hendak menempati rumah yang telah lama tidak dihuni, atau mengusir makhluk gaib yang mengganggu penghuni rumah), semah penyakit (mengobati orang sakit, atau kerasukan) serta semah kampung (tolak bala, atau mengusir induk penyakit dari kampong tersebut).
Pelaksanaan upacara semah
Hal pertama yang harus dilakukan dalam pelaksanaan semah adalah kesepakatan pelaksanaan semah atas jenis tertentu. Niat untuk melaksanakan semah disampaikan kepada keluarga dan karib kerabat, seterusnya minta persetujuan tokoh adat dan kepala desa. Kepala desa akan menyampaikan jadwal pelaksanaan kepada tokoh agama (alim ulama) dan dukun semah.
Waktu upacara semah harus merupakan waktu yang diangap sakral, yaitu sore hari hingga malam. Sore, biasanya untuk membuka hutan atau lahan. Untuk pengobatan orang sakit atau kerasukan, biasanya malam hari. Tempat pengelenggaraan semah pada lokasi yang dianggap sakral (ditentukan oleh dukun) atau tempat yang ingin disemah, bisa juga di rumah dukun.[2]
Alat dan bahan untuk pelaksanaan semah segera disiapkan. Tentu saja yang berkesesuaian dengan jenis semah. Semua alat dan bahan tersebut harus alami. Alat dan bahan utama, yang harus ada untuk semua jenis semah, adalah air putih, kemenyan, pisau, tanaman tertentu dan ayam.
Misalnya untuk semah rumah sedang dibangun, berupa pisang setandan, tebu sebatang (dengan urat dan pucuknya), darah atau kepala ayam, kain atau bunga 7 warna, kemenyan. Untuk semah air (membangun jembatan, membuat dam, atau agar air tidak meluap) disembelih ayam, kambing, atau kerbau, bunga 7 warna, air 7 sungai, dan kemenyan.
Saat semah berlangsung, orang pintar / tetua meminta mambang tanah, sungai, kayu, hutan, atau akuan (penunggu suatu bangunan lama) menyetujui tempat yang dikuasai mambang itu akan dipakai manusia untuk lokasi membuat rumah, ladang, jembatan, lapangan bola, dan sebagainya hal-hal baik. Jika mambang itu tetap disana, harap tidak tersinggung dan marah. Jika ingin pergi, akan lebih baik.
Sebagai imbalan atas kebaikan mambang, maka dikirimkan doa dan diberi sesuatu. Doa bersama diawali dengan tahlil, tahmit, tahtim, zikir dan sholawat. Tidak lupa juga membakar kemenyan.
Penyembelihan hewan dilakukan oleh alim ulama atau dukun. Kemudian mencecerkan darah hewan tersebut di lokasi dimaksud. Dukun atau orang yang dipilih dukun akan meletakkan bagian tubuh hewan (biasanya; hati, jantung, kepala).yang disembelih pada tempat yang ditentukan, antara lain dikuburkan dekat pondasi tiang utama, dihanyutkan ke sungai, diletakkan di tempat-tempat tertentu, dibenamkan kedalam sungai, atau hal lain sesuai permintaan mambang melalui tetua/orang pintar/dukun.
Dukun juga meminta orang yang dia tunjuk untuk meletakkan bahan lainnya di tempat tertentu (misalnya kain tiga warna di persambungan tiang utama dengan kuda-kuda bangunan, pisang digantung di kerangka plafon, tebu disandarkan di tiang utama, bunga rampai dihanyutkan)