Seekor naga Tionghoa tampak mengambang di atas awan, diukir pada sebuah cetakan emas era Ming (abad ke-15).
Sejarah ekonomi Tiongkok meliputi ribuan tahun dan kawasan tersebut telah berada di bawah lingkar kekayaan dan penurunan. Selama sebagian besar dua milenium, Tiongkok memiliki perekonomian paling maju dan terbesar di dunia.[1][2] Para sejarawan ekonomi biasanya membagi sejarah TIongkok dalam tiga periode: era pra-kekaisaran sebelum kebangkitan Qin; era kekaisaran awal dari Qin sampai kebangkitan Song (221SM sampai 960M); dan era kekaisaran akhir, dari Song sampai kejatuhanQing.
PertanianNeolitikum telah berkembang di Tiongkok pada sekitar tahun 8,000SM. Meningkatnya budaya zaman perunggu, seperti budaya Erlitou, terjadi pada millennium ketigaSM. Di bawah dinasti Shang (abad ke 16–11SM) dan Zhou Barat (abad ke 11–8SM), sepasukan buruh dependen bekerja dalam lahan-lahan berskala besar dan loka-loka karya untuk menghasilkan perunggu dan sutra bagi kaum elit. Surplus pertanian yang diproduksi oleh ekonomi manorial mendukung industri-industri kerajinan tangan awal serta pusat-pusat perkotaan dan tentara-tentara. Sistem tersebut mulai terkikis sejak keruntuhan Zhou Barat pada 771SM, meninggalkan Tiongkok masuk era Musim Semi dan Musim Gugur (abad ke 8-5 SM) dan Negara-Negara Berperang (abad ke 5–3SM).
Karena sistem feodal runtuh, kebanyakan kekuasaan legislatif dialihkan dari bangsawan ke raja-raja lokal. Meningkatnya perdagangan pada periode Negara-Negara Beperang menghasilkan kelas pedagang yang lebih kuat. Raja-raja baru mendirikan birokrasi bersama, menggunakannya untuk menghindari perang, membangun kuil-kuil besar, dan mengadakan proyek-proyek kerja publik. Sistem meritokrasi tersebut mendatangkan kelahiran baru. Penggunaan alat-alat besi secara besar-besaran merevolusionisasikan pertanian dan berujung pada meningkatnya jumlah penduduk pada masa itu. Pada 221SM, raja Qin mendeklrasikan dirinya sendiri menjadi Kaisar Pertama, menyatukan Tiongkok dalam sebuah kekaisaran tunggal, berbagai tembok negaranya digabungkan menjadi Tembok Raksasa, dan berbagai suku dan tradisi digabungkan dalam sebuah sistem pemerintahan tunggal.[3] Meskipun implementasi awal mereka berujung pada keruntuhannya pada 206SM, lembaga-lembaga Qin masih berdiri. Pada masa dinasti Han (abad ke-3SM sampai abad ke-3M), Tiongkok menjadi kekaisaran yang kuat, bersatu dan tersentralisasi dari para petani dan artisan yang berdikari, dengan otonomi lokal terbatas.
↑Adam Smith menganggap China telah lama terstasioner sebelum abad ke-18. Shiue & al. berpendapat bahwa kawasan-kawasan paling berkembang di Tiongkok pada 1750 masih menunjukkan produktivitas sebanding dengan negara-negara Eropa yang berbatasan dengan Atlantik,[4] sementara Maddison berpendapat bahwa produktivitas per-kapita Eropa barat telah mengejutkan seluruh kawasan lainnya pada masa itu.[5]
↑Angus Maddison. Chinese Economic Performance in the Long Run. Development Centre Studies. Accessed 2007. p.29 See the "Table 1.3. Levels of Chinese and European GDP Per Capita, 1–1700 AD" in page 29, Chinese GDP Per Capita was 450 and European GDP Per Capital was 422 in 960AD. Chinese GDP Per Capita was 600 while European was 576. During this time, Chinese per capita income rose by about a third.