Sedekah Bumi JlarangTradisi Sedekah Bumi di Magelang
Sedekah Bumi Jlarang merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Jlarang, Desa Kalijoso, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Tradisi ini mencerminkan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen serta menjadi sarana permohonan keselamatan dan perlindungan dari berbagai musibah. Kegiatan ini termasuk dalam tradisi sedekah bumi yang lazim ditemukan di berbagai wilayah agraris di Indonesia, tetapi memiliki kekhasan lokal yang menjadikannya bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Jlarang. Pada tahun 2021, Sedekah Bumi Jlarang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Penerapan tradisi
Pada saat Upacara adat Sedekah Bumi Jlarang berlangsung, masyarakat melakukan pengumpulan dan pengolahan hasil bumi untuk disusun menjadi gunungan, yaitu susunan hasil pertanian yang dibentuk menyerupai gunung. Gunungan ini biasanya terdiri atas berbagai komoditas pertanian seperti jagung, padi, cabai (lombok), tomat, kacang panjang, kubis, wortel, buah-buahan, dan aneka hasil bumi lainnya.[1] Dalam pelaksanaannya, tradisi ini biasanya ditandai dengan arak-arakan gunungan. Setelah prosesi arak-arakan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama di lokasi yang telah disediakan, sebagai simbol kebersamaan dan doa untuk kesejahteraan bersama.[2]
Gunungan kemudian diarak oleh empat orang menuju makam pundhen dalam sebuah kirab tradisional. Prosesi kirab ini diiringi musik khas seperti bende, trunthung, dan jedhor, serta diikuti oleh warga masyarakat yang mengenakan busana adat Jawa. Sesampainya di lokasi makam, dilakukan serangkaian ritual seperti doa bersama, tahlil, dan pertunjukan tari Soreng sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.[2]
Setelah prosesi ritual selesai, dilanjutkan dengan penyelenggaraan pentas seni sebagai bentuk hiburan bagi warga. Gunungan diletakkan di atas panggung sebagai simbol syukur atas rezeki alam. Pertunjukan seni yang ditampilkan antara lain tari Soreng, Kuda Lumping, dan Angguk, yang merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal.[3]
Tujuan
Tujuan diadakan Sedekah Bumi Jlarang sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen yang diperoleh masyarakat. Selain sebagai wujud syukur, tradisi ini juga bertujuan untuk menghormati para leluhur yang berjasa membuka lahan pemukiman. Di samping nilai spiritual dan historis, sedekah bumi ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat solidaritas dan memperkuat hubungan sosial antarwarga masyarakat.[4]