Sebaran Apem Kukus Keong Mas (juga dikenal sebagai Saparan Apem Keong Emas) adalah tradisi tahunan masyarakat di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang diselenggarakan pada akhir bulan Sapar dalam kalender Jawa. Tradisi ini melibatkan penyebaran ribuan kue apem kukus berbentuk keong emas sebagai bentuk syukur, penolak bala, serta ungkapan harapan agar tanah dan panen menjadi subur.[1]
Asal-usul
Tradisi ini diperkirakan dimulai pada awal abad ke‑19 oleh Raden Ngabei Yasadipura II, seorang pujangga dan ulama keraton Surakarta, sebagai respons atas serangan hama keong emas dan tikus pada tanaman padi yang menyebabkan gagal panen. Pujangga keraton menyarankan agar hama tersebut dikukus bersama janur hingga menyerupai bentuk keong emas, dan kemudian dibagikan sebagai apem untuk menyebarkan berkah bagi warga desa. Apem-apem ini dipercaya dapat menghindarkan sawah dari gangguan hama selanjutnya.[2] Tradisi ini sempat hilang pada masa penjajahan Jepang, lalu dihidupkan kembali awal Orde Baru, dan mendapat pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2020 oleh Kemendikbudristek.[3]
Pelaksanaan
Pelaksanaan tradisi dimulai dengan prosesi malam tirakatan di makam Raden Yasadipura dan Masjid Cipto Mulyo, dilanjutkan tahlilan dan doa.[1] Hari berikutnya, ribuan apem kukus keong emas disusun dalam dua gunungan di kantor kecamatan. Setelah itu, dilakukan kirab budaya menuju Masjid Cipto Mulyo dan alun-alun Pengging, didampingi pasukan keraton, marching band, serta paskibra.[1] Apem kemudian dilempar ke kerumunan warga yang rela berebut sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur. Dalam satu rangkaian, jumlah apem yang dibagikan bisa mencapai puluhan ribu, antara 30–40 ribu buah. Prosesi ini juga disemarakkan dengan larung apem di sungai dan dukungan budaya lokal melalui doa, dzikir, dan arak-arakan simbolik yang bersifat religius serta adat.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian
Pada tahun 2020, tradisi ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemdikbud.[4] Pemerintah Kabupaten Boyolali melalui Disdikbud aktif mendukung kegiatan ini dengan pendanaan acara, dokumentasi ritual, dan promosi pariwisata budaya boyolali. Selain itu, upaya modernisasi seperti festival tahunan dan liputan media daring turut meningkatkan kesadaran publik akan nilai-nilai tradisi ini.[5]