Sentinel-1 merupakan misi satelit radar apertur sintetik (SAR) yang dikembangkan oleh European Space Agency (ESA) sebagai bagian dari Program Copernicus Uni Eropa. Konstelasi ini terdiri dari dua satelit identik, Sentinel-1A yang diluncurkan pada April 2014 dan Sentinel-1B yang diluncurkan pada 2016. Kedua satelit beroperasi pada orbit near-polar dan dilengkapi dengan sensor SAR band-C dengan panjang gelombang sekitar 5,5–5,6 cm Sentinel-1 dirancang untuk menyediakan data SAR secara sistematis dengan cakupan global, aksesibilitas gratis, dan resolusi spasial serta temporal yang tinggi.[1][2]
Mode akuisisi utama Sentinel-1 adalah Interferometric Wide Swath (IW), yang menggunakan teknik Terrain Observation by Progressive Scans (TOPS) Dalam mode IW, antena sensor berputar sepanjang arah azimut dari belakang ke depan selama akuisisi, sehingga semua target diiluminasi dalam porsi besar dari pola antena azimut. Mode ini menghasilkan cakupan swath selebar 250 km yang jauh lebih luas dibandingkan dengan satelit SAR generasi sebelumnya seperti Envisat/ASAR yang hanya mencakup 100 km.[3][4]
Resolusi dan Waktu Kunjungan Ulang
Sentinel-1 memiliki resolusi spasial sekitar 5 m × 20 m. Siklus kunjungan ulang untuk satu satelit adalah 12 hari, yang dapat ditingkatkan menjadi 6 hari dengan konstelasi dua satelit. Frekuensi akuisisi yang tinggi ini merupakan keunggulan signifikan dibandingkan satelit SAR sebelumnya seperti Radarsat (24 hari) dan Envisat (35–36 hari). Di beberapa wilayah seperti Eropa, cakupan dari beberapa track orbital memungkinkan pengamatan setiap 1–2 hari.[5][6]
Polarisasi dan Format Data
Sentinel-1 merupakan satelit SAR band-C dual polarisasi pertama yang dikembangkan oleh Program Copernicus. Data disediakan dalam format Single Look Complex (SLC) Level 1, di mana setiap piksel mengandung informasi amplitudo dan fase sinyal radar yang dipantulkan. Satelit ini juga dilengkapi dengan data orbit presisi (Precise Orbit Ephemerides) yang memperbarui informasi posisi dan kecepatan satelit.[7][8]