Satelit Nusantara Lima adalah satelit komunikasi berteknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) yang dimiliki dan dioperasikan oleh Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Satelit ini diluncurkan pada 12 September 2025 dengan roket Falcon 9 milik SpaceX dari Cape Canaveral, Florida.[1] Satelit ini memiliki kapasitas total lebih dari 160 Gbps, menjadikannya salah satu satelit komunikasi dengan kapasitas terbesar di Asia.[2] Kapasitas ini jauh lebih besar dibandingkan satelit konvensional karena menggunakan teknologi VHTS yang membagi area cakupan menjadi banyak "spot beam".
Misi utama dari satelit ini adalah untuk memperkuat konektivitas digital nasional dan mendukung pemerataan akses internet di seluruh Indonesia. Hal ini diharapkan dapat memfasilitasi berbagai layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi digital.[3]
Satelit Nusantara Lima menjangkau seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah terpencil, serta sebagian wilayah Filipina dan Malaysia.[2]
Spesifikasi teknis
Satelit Nusantara Lima dibangun dengan platform Boeing 702MP dengan bobot sekitar 7,8 ton.[4] Satelit ini dilengkapi dengan 101 spot beam Ka-Band, panel surya Spectrolab berdaya 15 kW, dan sistem propulsi XIPS (Xenon-Ion) yang 10 kali lebih efisien dan ringan dibandingkan teknologi konvensional.[2] Satelit ini dirancang memiliki masa operasi lebih dari 15 tahun dan ditempatkan pada slot orbit strategis 113° Bujur Timur (BT) di orbit geostasioner.[2]
Peluncuran dan operasi
Peluncuran satelit sempat tertunda tiga hari akibat cuaca buruk di Cape Canaveral.[5] Setelah peluncuran, semua subsistem satelit, termasuk daya, propulsi, termal, dan Attitude Control System (ACS), dilaporkan berfungsi normal. Proses orbit raising menuju slot orbit akhir di 113° BT telah dimulai dan berjalan sesuai rencana.[6] Satelit dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada kuartal pertama tahun 2026.[3]
Infrastruktur pendukung
Untuk mendukung operasi satelit, PSN telah menyiapkan delapan stasiun bumi (ground station) di seluruh Indonesia, yaitu di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, Kupang, dan Makassar.[3]