Sate Srepeh berasal dari wilayah Rembang kota, terutama di sekitar Desa Sumberjo.[4] Nama srepeh diyakini berasal dari kata “repeh” yang berarti bumbu kemerahan, merujuk pada warna khas sambalnya yang merah kekuningan akibat campuran santan dan cabai.[5] Menurut penuturan warga setempat, jajanan ini telah ada sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun di kalangan pedagang sate di Rembang. Dahulu, di sepanjang jalan desa banyak penjual sate srepeh yang berjualan pada pagi hari, dan pembeli yang datang terlalu siang sering kali sudah kehabisan.[3]
Selain menjadi bagian dari keseharian warga, Sate Srepeh juga dikaitkan dengan perpaduan budaya kuliner Tionghoa dan masyarakat lokal. Penggunaan santan dan gula merah dalam bumbu dianggap sebagai bentuk akulturasi rasa yang berkembang di kawasan pesisir utara Jawa, tempat Rembang berada.[5]
Ciri khas dan bahan
Secara umum, Sate Srepeh terbuat dari daging ayam kampung yang dipotong pipih dan dibakar hingga beraroma harum dengan sedikit bagian tepi yang garing. Bumbunya berbeda dari sate ayam pada umumnya. Jika sate ayam biasa menggunakan sambal kacang kental dengan tambahan bawang merah dan cabai, maka Sate Srepeh memakai bumbu berbahan dasar santan yang dimasak bersama cabai merah, garam, gula merah, dan penyedap rasa, menghasilkan saus berwarna kemerahan dengan tekstur lebih encer.[3]
Satu porsi Sate Srepeh umumnya terdiri dari sepuluh tusuk sate, lima di antaranya berisi jeroanayam dan sisanya daging ayam. Kombinasi antara pedas gurih bumbu kacangsantan dengan nasilodeh dan tahu menciptakan sensasi rasa yang khas dan kompleks.[6]
Varian dan pendamping
Sate Srepeh dan Nasi Tahu
Selain disajikan bersama nasi, Sate Srepeh juga kerap disajikan sebagai pendamping lontong tahu, sebuah hidangan lain khas Rembang yang terdiri atas lontong, tahu goreng, tauge mentah, dan bumbu kacang encer.[5][7] Dalam penyajian ini, sate diletakkan di atas lontong tahu yang dialasi daun jati, menambah aroma alami pada sajian. Pendamping lain yang sering disajikan adalah peyek udang dan tempe goreng.[5]
Nilai budaya dan popularitas
Sate Srepeh merupakan bagian penting dari identitas kuliner Rembang. Makanan ini tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi incaran para perantau yang pulang pada hari raya. Banyak di antara mereka yang sengaja datang ke warung-warung sederhana di Desa Sumberjo untuk menikmati kembali cita rasa sate khas kampung halaman.[3]
Kuliner ini mencerminkan kekayaan kuliner pesisir utara Jawa Tengah yang sarat dengan pengaruh rempah, rasa pedas, dan penggunaan bahan alami lokal seperti daun jati dan santan. Sate Srepeh juga menjadi salah satu warisan kuliner tradisional yang masih bertahan di tengah perkembangan kuliner modern, karena keberadaannya terus dijaga oleh masyarakat melalui usaha kuliner keluarga yang diwariskan lintas generasi.[6]
Referensi
↑senaraiistilahjawa.kemdikbud.go.id. "Kata sate srepeh". Senarai Istilah Budaya Jawa (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-19.