Sastra Saudi muncul sebagai hasil dari warisan sastra yang telah berlangsung selama beberapa dekade di Jazirah Arab. Kelahiran sastra ini dapat ditelusuri sejak masa yang sangat awal dari usia negara Saudi, yakni pada abad ke-14 Hijriah / awal abad ke-20 Masehi.[1] Di antara tokoh pelopor sastra Saudi di Najd adalah penyair Muhammad bin Abdullah bin Utsaimin, yang membawa pembaruan dalam gaya puisi.[2] Pada waktu yang sama, para sastrawan juga bermunculan di Al-Ahsa dan Qatif di wilayah timur kerajaan.
Awal masa kekuasaan Saudi di Hijaz pada tahun 1344 H / 1925 M ditandai dengan kekayaan dalam produksi dan peredaran karya sastra. Hal ini disebabkan oleh adanya gerakan sastra modern pada masa itu, khususnya dengan tersedianya teknologi cetak — percetakan pertama didirikan di Mekah pada tahun 1300 H / 1883 M — serta terjalinnya hubungan para sastrawan dengan gerakan sastra yang aktif di ibu kota-ibu kota Arab.
Di antara bukti nyata hal tersebut adalah bahwa terbitan pertama dalam sejarah kerajaan merupakan buku Adab Al-Hijaz (Sastra Hijaz), yang diterbitkan oleh Muhammad Surur Al-Shaban pada tahun 1344 H. Disusul kemudian oleh buku Al-Ma'radh, yang terbit pada tahun berikutnya dari penerbit Al-Maktabah Al-Hijaziyyah — penerbit pertama yang berdiri di kerajaan — lalu buku Khawathir Musharrahah karya Muhammad Hasan Awwad pada tahun yang sama (1345 H). Awwad merupakan sastrawan Saudi pertama yang menerbitkan buku sastra mandiri.[3]
Pada periode ini, puisi dalam bentuk 'amudi (puisi klasik berbait) mendominasi genre-genre sastra lainnya. Para penyair menulis dalam berbagai tema puisi, di samping juga menyentuh berbagai isu sosial dan politik melalui puisi maupun prosa.
Pers dan Radio: Dua Media Sastra Saudi
Buku-buku cetak bukanlah satu-satunya ruang di mana sastra berkembang di kerajaan. Pers pun menjadi wahana yang kaya, tempat bermunculannya karya-karya sastra terpenting dan terbentuknya aliran-aliran sastra di seputar apa yang diterbitkan oleh para sastrawan dan kritikus di dalamnya.
Surat kabar Umm Al-Qura didirikan pada bulan Jumadil Awal 1343 H / Desember 1924 M, dan surat kabar serta majalah pun terus bermunculan silih berganti. Sejak tanggal tersebut hingga tahun 1383 H / 1946 M — tahun diterbitkannya peraturan lembaga pers swasta — jumlahnya telah mencapai tiga puluh tiga surat kabar dan majalah. Banyak sastrawan terkemuka dalam sejarah kerajaan yang secara bergiliran mengelola urusan redaksi, penulisan, dan penerbitan di berbagai surat kabar dan majalah tersebut.
Majalah Al-Manhal — yang khusus bergerak di bidang sastra dan budaya, dengan edisi perdananya terbit pada tahun 1355 H / 1937 M — dianggap sebagai majalah sastra tertua di kerajaan. Kemudian pada tahun 1372 H / 1953 M, terbitlah terbitan pers pertama di wilayah tengah, yaitu majalah Al-Yamamah, yang menjadi salah satu sumber terpenting bagi sastra Saudi dan Arab.
Selain surat kabar, para sastrawan juga menemukan wadah lain untuk berinteraksi dengan karya-karya mereka melalui radio. Radio Saudi menyajikan berbagai program sastra dan puisi yang melibatkan partisipasi para sastrawan, sejak didirikannya pada tanggal 23 Ramadan 1368 H (28/7/1949 M) di Jeddah, diikuti oleh stasiun-stasiun radio lainnya yang bermunculan sesudahnya.
Kemunculan Lembaga-Lembaga Sastra
Perhatian terhadap pendidikan berkontribusi langsung pada kebangkitan sastra Saudi, dimulai dari kuttab (sekolah tradisional) dan sekolah-sekolah swasta, kemudian dengan didirikannya Kementerian Pendidikan. Pada tahun 1377 H / 1957 M, didirikanlah Universitas Riyadh (yang kemudian berganti nama menjadi Universitas Raja Saud), dengan Fakultas Sastra sebagai fakultas pertamanya sekaligus fakultas sastra pertama di kerajaan. Tiga tahun berselang, didirikanlah Presidensi Umum Pendidikan Putri.
Seiring meluasnya pendidikan, berkembangnya gerakan sastra di Arab Saudi, dan bertambahnya jumlah sastrawan, tumbullah keinginan di kalangan para pegiat sastra untuk mendirikan wadah yang melayani sastra, seni, dan budaya. Keinginan ini mendorong terbentuknya Perkumpulan Arab Saudi untuk Seni pada 19/11/1393 H (13/12/1973 M), setelah sejumlah intelektual dan sastrawan bertemu dengan Presiden Umum Pembinaan Pemuda. Nama perkumpulan ini kemudian diubah menjadi Perkumpulan Arab Saudi untuk Budaya dan Seni. Sejak saat itu, perkumpulan ini telah menyelenggarakan berbagai kegiatan dan acara, serta menaungi berbagai komite yang melayani para intelektual dan seniman dari berbagai latar belakang. Hingga kini perkumpulan ini memiliki enam belas cabang di berbagai wilayah kerajaan, dan banyak sastrawan serta intelektual terkemuka negeri ini telah berpartisipasi dalam berbagai dewan pengurusnya.
Dua tahun setelah berdirinya perkumpulan tersebut, pada tahun 1395 H / 1975 M didirikanlah lembaga yang paling erat kaitannya dengan sastra dan para sastrawan, yaitu klub-klub sastra, di kota-kota: Riyadh, Jeddah, Thaif, Mekah, Madinah, dan Jizan. Setelah itu, pembukaan klub-klub sastra terus berlanjut hingga mencakup seluruh wilayah kerajaan, dan jumlahnya kini mencapai 16 klub.
Klub-klub sastra, dengan berbagai kegiatan dan acaranya yang beragam — mulai dari ceramah, seminar, diskusi, hingga berbagai penerbitan — dianggap sebagai salah satu penyangga kelembagaan terpenting bagi sastra di kerajaan. Klub-klub ini juga telah menyelenggarakan banyak pertemuan dan festival penting dalam sejarah sastra Saudi, berkontribusi dalam memunculkan bakat-bakat sastra, membuka ruang bagi para sastrawan dan pemikir untuk saling berjumpa dan saling mempengaruhi, serta menarik perhatian terhadap peran sastra dan sastrawan dalam menyebarkan kesadaran dan memajukan masyarakat.
Pembaruan dalam Puisi
Seiring maraknya tulisan sastra di surat kabar dan majalah sastra, serta kegiatan sastra yang semarak di salon-salon budaya dan klub-klub sastra di satu sisi, dan semakin terbukanya para sastrawan terhadap rekan-rekan mereka dari dunia Arab serta sastra Barat di sisi lain, semua itu menciptakan kondisi yang kondusif bagi munculnya pola-pola baru dalam penulisan sastra. Hal ini terwujud melalui generasi-generasi penyair yang memperkenalkan gaya-gaya baru dalam puisi sejak akhir tahun 1960-an. Meskipun pembaruan dalam puisi telah dimulai pada sebagian penyair sebelumnya, puisi pada fase ini mengalami perubahan tidak hanya pada tataran irama, tetapi juga mencakup penyusunan kalimat puitis itu sendiri. Puisi pun mulai bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan seputar diri, baik dalam makna individual, kebangsaan, kesukuan, maupun kemanusiaan.
Kecenderungan romantis pun meluas dan menemukan tempatnya di kalangan para penyair pada periode tersebut, di antaranya yang paling menonjol adalah Abdullah Al-Faisal, Hasan Al-Qurashi, Sa'd Al-Bawardiy, dan banyak lagi yang lainnya. Sebagian penyair juga mengarah pada aliran simbolisme. Di antara ciri-ciri formal yang paling menonjol dari gaya baru ini adalah kecenderungan pada puisi bebas (taf'ilah) dan kegelisahan terhadap pola-pola metrum Khaliliyyah, yang pada tahap-tahap berikutnya berujung pada penulisan puisi prosa. Namun kecenderungan ini tidak terbatas pada bentuk saja, melainkan juga mewarnai isi dan kandungan puisi. Sejak tahun 1970-an, ciri-ciri modernitas puitis mulai tampak jelas, dan semakin banyak penyair yang meninggalkan arah tradisional maupun romantis — baik dari segi bentuk maupun isi — seiring munculnya sejumlah penyair seperti Muhammad Al-Ali, Ghazi Al-Gosaibi, Ali Al-Dumaini, Ahmad Al-Shalih, Sa'd Al-Humaidin, dan Hasan Al-Sab', yang karya-karya mereka — di samping mengandung unsur simbolisme — menampilkan kosakata yang lebih mencerminkan kebaruan serta penggunaan gaya-gaya yang tidak konvensional.
Sejak akhir tahun 1970-an, dan semakin jelas pada tahun 1980-an, muncullah gerakan modernitas melalui para penyair yang karya-karya mereka diwarnai oleh pergulatan tentang identitas. Kesibukan mereka dengan isu-isu "yang lain" tidak menghalangi mereka untuk menulis tentang topik-topik lokal yang paling mendalam. Perbedaan antarwilayah pun memudar di antara mereka, sehingga perbedaan antara penyair dari Al-Ahsa dan penyair dari Thaif, atau penyair dari Jizan dan penyair dari Riyadh, tidak lagi terasa mencolok. Di antara yang paling menonjol adalah Muhammad Al-Thubaiti, Muhammad Jabr Al-Harbi, Abdullah Al-Saikhan, Fawziyah Abu Khalid, dan banyak lainnya yang sulit untuk disebutkan satu per satu. Para perempuan pun turut berpartisipasi, dengan Sakinah Al-Sharif sebagai yang pertama di antaranya — penyair perempuan Saudi pertama yang namanya, biografinya, dan puisi-puisinya didokumentasikan dalam ensiklopedia puisi Arab "Al-Diwan".
Gerakan modernitas tidak terbatas pada puisi saja, melainkan juga mempengaruhi berbagai seni sastra lainnya. Gerakan ini pun diiringi oleh munculnya iklim kritik sastra yang sejajar, yang tidak kalah pentingnya dari gerakan kreatif itu sendiri. Di samping itu, gerakan ini juga menghadapi penentangan yang keras — sebagian darinya merupakan penentangan tradisional yang mengagungkan bentuk atau kandungan puisi secara tradisional — dan penentangan ini bersinggungan dengan gelombang sastra Islam yang ditulis oleh sejumlah penulis dalam bingkai tersebut, baik dalam puisi maupun dalam seni cerita pendek dan novel.
Cerita Pendek dan Novel
Penulisan cerita pendek erat kaitannya dengan surat kabar, dan surat-surat kabar pertama di Arab Saudi pun tidak luput dari tulisan-tulisan bergenre cerita. "Langkah serius dan sadar pertama" diambil oleh majalah Al-Manhal milik Syekh Abdul Quddus Al-Anshari; sejak terbitnya edisi pertama pada tahun 1355 H / 1937 M, Al-Manhal memberikan perhatian khusus pada sastra cerita dan menyediakan rubrik tetap untuknya dalam setiap edisi bulanannya.
Namun demikian, tulisan-tulisan di bidang cerita secara umum tidak mendapat banyak perhatian, sehingga tetap terbatas secara artistik. Sebagian peneliti berpendapat bahwa lompatan artistik dalam penulisan cerita pendek terjadi pada awal tahun 1970-an, di tangan sejumlah penulisnya yang membawa perubahan estetis setelah lebih dari tiga dekade penulisan konvensional.
Demikian pula novel Saudi membutuhkan beberapa dekade sejak upaya-upaya pertamanya pada tahun 1930-an, hingga akhirnya mendapatkan dorongan kuat pada tahun 1980-an. Pada fase ini dan fase berikutnya tercatat percepatan ritme produksi novel, bertambahnya akumulasi karya, keragaman tema, dan perkembangan teknik penulisan. Pada periode ini menonjol nama Abdulaziz Al-Mushri, yang sebelumnya merupakan penulis cerita pendek sebelum beralih ke novel, dengan mempersembahkan lima novel sejak tahun 1406-1417 H / 1986-1997 M.
Transformasi terbesar dalam novel Saudi kemudian bergulir pada tahun 1990-an, di mana kehadiran perempuan juga semakin terasa dalam lanskap pernovelan. Lonjakan novel Saudi ini berjalan seiring dengan semakin gemilangnya novel di dunia Arab dan dunia pada umumnya.
Perhatian terhadap Sastra Anak
Kemunculan sastra anak cetak dimulai pada tahun 1379 H / 1959 M, ketika Tahir Zamakhshari menerbitkan edisi pertama majalah Al-Raudhah yang dikhususkan untuk anak-anak, sehingga menjadi titik awal munculnya sastra anak di Arab Saudi. Sejumlah sastrawan turut berkontribusi di dalamnya, seperti Abdul Ghani Qasathi, Ibrahim Allaf, Ahmad Al-Sibai, Aziz Dhiya, dan Hayat Anbar.
Mulai tahun 1383 H / 1963 M, beberapa surat kabar yaitu Al-Madinah, Al-Bilad, Al-Jazirah, Al-Riyadh, dan Okaz mulai mengalokasikan halaman mingguan khusus untuk anak-anak.
Pada tahun 1397 H / 1977 M, terbitlah majalah *Hasan* yang dipimpin redaksinya oleh Yaqub Muhammad Ishaq, salah satu pelopor sastra anak di kerajaan. Setelah itu bermunculan beberapa seri dan kumpulan cerita yang melibatkan sejumlah pelopor seperti Abdul Karim Al-Juhaiman, Abdurrahman Al-Muraikhi, Hani Fairuzi, Hani Al-Madani, Abdurrahman Al-Ruwaishid, dan lain-lain.
Perhatian terhadap sastra anak di kerajaan terus berlanjut seiring masuknya sejumlah penerbit dan lembaga swasta. Beberapa penulis pun meraih pencapaian di tingkat Arab, seperti Arwa Khumayyis yang meraih Penghargaan Buku Emas di Festival Budaya Sharjah pada tahun 2006.[4]
Salon-Salon Sastra Swasta
Ruang yang menjadi tempat berkiprahnya para sastrawan tidak terbatas pada lingkungan lembaga-lembaga resmi saja. Sejak tahun 1960-an, dan bahkan sebelum munculnya klub-klub sastra, berbagai bentuk salon dan forum sastra swasta mulai mendapatkan penyebaran yang menempatkannya di jantung kehidupan peredaran sastra. Salon-salon ini berkembang pesat di berbagai kota Saudi dan semakin kokoh kedudukannya di lingkungan sastra.
Khamisiyyah Abdul Aziz Al-Rifai yang dimulai pada tahun 1382 H / 1962 M dianggap sebagai forum atau salon sastra pertama yang diselenggarakan secara berkala. Diskusi dalam forum-forum ini berkisar pada berbagai topik sastra dalam suasana yang hangat dan santai. Selain itu, forum-forum ini juga mengadakan penghormatan dan penghargaan bagi para sastrawan, sebagian di antaranya menerbitkan buku atau majalah khusus, atau merekam forum itu sendiri untuk keperluan dokumentasi maupun penyiarannya di berbagai platform.
Di antara salon-salon yang paling terkenal adalah: Itsnayniyyah Abdul Maqsud Khujah di Jeddah (1403 H/1983 M), Khamisiyyah Al-Jasir di Riyadh (1404 H/1984 M), Diwaniyyah Al-Syarari di Al-Jawf (1406 H/1986 M), Ahhadiyyah Al-Mubarak di Al-Ahsa (1411 H/1991 M), Itsnayniyyah Abu Malhah di Abha (1420 H/2000 M), Muntada Al-Tsulatsaa di Qatif (1422 H/2002 M), Itsnayniyyah Tanuumah di Tanuumah (1422 H/2002 M), Multaqa Al-Saif di Ha'il (1423 H/2003 M), Ahhadiyyah Al-Ruhaily di Madinah (1423 H/2003 M), dan puluhan lainnya di berbagai kota dan wilayah.[5]