PT Sari Bahari adalah sebuah perusahaan pertahanan swasta asal Indonesia yang mengkhususkan diri dalam desain, pengembangan, dan produksi sistem senjata militer serta amunisi. Didirikan pada tahun 1993, perusahaan ini beroperasi di bawah izin dan lisensi resmi dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk memproduksi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista).
Perusahaan ini merupakan anggota aktif dari Perkumpulan Industri Pertahanan Swasta Nasional (Pinhantanas). PT Sari Bahari juga telah terintegrasi ke dalam rantai pasok global NATO, terdaftar di bawah basis data *North Atlantic Treaty Organization Commercial and Government Entity* (NCAGE) dengan nomor registrasi 0479Z.[1]
Sejarah
PT Sari Bahari didirikan pada tahun 1993 oleh Ir. Ricky Hendrik Egam di Malang, Jawa Timur. Pada masa-masa awal berdirinya, dari tahun 1993 hingga 2006, perusahaan ini beroperasi terutama sebagai mitra strategis bagi berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selama periode ini, perusahaan mulai mengalihkan fokus strategisnya ke arah penelitian dan pengembangan militer, memulai proyek-proyek yang bertujuan untuk memproduksi bom latih domestik pertama bagi TNI Angkatan Udara (TNI-AU).[1]
Sebagai entitas swasta yang memasuki sektor yang didominasi oleh negara, PT Sari Bahari memperluas kapasitas produksinya untuk menjembatani kesenjangan dalam kebutuhan munisi taktis domestik. Infrastruktur produksi ditempatkan secara strategis di dekat pangkalan udara TNI-AU untuk memfasilitasi kepatuhan teknis secara langsung, logistik, dan evaluasi uji tembak. Selama beberapa dekade, perusahaan berkembang dari memroduksi munisi latihan inert hingga bom tajam berdaya ledak tinggi (*high-explosive*) serta integrasi pemandu roket yang kompatibel dengan pesawat tempur blok Barat maupun Timur yang dioperasikan oleh Indonesia.
Berkembang dari manufaktur komponen menjadi produsen persenjataan utama, perusahaan ini memproduksi berbagai varian bom latihan, bom pesawat tempur, hingga rudal. PT Sari Bahari mencetak sejarah sebagai industri swasta nasional pertama yang berhasil mengekspor 500 bom ke Vietnam.
Tanggung jawab sosial perusahaan
Selama pandemi COVID-19 pada bulan Maret 2020, PT Sari Bahari terlibat dalam aksi kemanusiaan lokal melalui gugus tugas "Malang Bersatu Lawan Corona". Perusahaan memanfaatkan infrastruktur manufaktur presisinya untuk merancang dan menyumbangkan peralatan penyemprotan disinfektan khusus ke pusat-pusat komunitas regional, instalasi militer, dan fasilitas kesehatan masyarakat di seluruh wilayah Malang guna memitigasi penularan virus.[2]
Detail kegiatan
Pada hari Jumat, 26 Januari 2024, Panglima Komando Operasi Udara II (Pangkoopsud II), Marsekal Muda TNI Dr. Budhi Achmadi, M.Sc., melaksanakan kunjungan kerja resmi ke fasilitas industri pertahanan dalam negeri PT Sari Bahari yang berlokasi di Pakis, Malang, Jawa Timur. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda kerja pimpinan di wilayah Lanud Abdulrachman Saleh untuk memeriksa kapabilitas sektor pertahanan domestik dalam mendukung komponen alutsista bagi Angkatan Udara.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi militer didampingi oleh Komandan Pangkalan Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Marsekal Pertama TNI Firman Wirayuda, S.T., M.Soc.Sc., bersama para pejabat tinggi dari Koopsud II dan Lanud Abdulrachman Saleh. Delegasi diterima langsung oleh General Manager PT Sari Bahari, Putra Pratama Egam, M.Si.Han., beserta staf manajemen perusahaan.
Agenda kunjungan tersebut meliputi beberapa inspeksi pada situs produksi:
Presentasi Produk Pertahanan: Peninjauan produk-produk industri pertahanan, khususnya sistem senjata dummy dan komponen peralatan militer yang diproduksi di bengkel kerja (*workshop*) fasilitas tersebut.
Inspeksi Fasilitas Produksi: Tur langsung ke area manufaktur untuk mengamati proses perakitan komponen peralatan tempur.
Inspeksi Area Penyimpanan: Verifikasi sistem gudang dan penyimpanan untuk menilai kesiapan serta manajemen komponen pertahanan sebelum dikirimkan.
Inspeksi resmi ini menegaskan kerja sama operasional antara Angkatan Udara dan perusahaan pertahanan swasta lokal, yang bertujuan untuk mendukung keberlanjutan rantai pasok alutsista serta meningkatkan kapabilitas manufaktur domestik.[3]
Fasilitas
Kantor pusat dan pabrik manufaktur perusahaan menempati area seluas 15.123 meter persegi. Fasilitas ini terletak dekat dengan lapangan udara militer strategis yang dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara di Malang. Kedekatan geografis ini memungkinkan transportasi yang aman serta pengujian teknis yang ketat terhadap munisi yang diproduksi. Perusahaan didukung oleh tenaga kerja profesional yang terdiri dari sekitar 250 insinyur, teknisi, dan spesialis dalam struktur komposit canggih serta metalurgi.[1]
Produk
PT Sari Bahari memproduksi berbagai jenis persenjataan militer, mulai dari bom udara tanpa pemandu, munisi latihan, peluncur roket (rocket pod), hingga teknologi senjata berpemandu. Portofolio produknya meliputi:
Bom Udara
Platform bom udara yang diproduksi oleh perusahaan telah memenuhi standar operasional internasional, sehingga dapat disematkan pada arsitektur pesawat tempur standar NATO/Barat maupun Rusia/Timur:[1]
Bom P-100: Tersedia dalam varian Latih (Practice), Latih Malam (Night Practice), dan Tajam (Live/high-explosive). Digunakan secara luas oleh armada pesawat tempur TNI-AU.
Bom P-250: Tersedia dalam varian Latih dan Tajam.
Bom P-500: Platform bom berat buatan perusahaan, tersedia dalam varian Latih dan Tajam.
BNL-125: Sistem bom khusus latihan.
BNL-250: Sistem bom latihan dan latihan malam.
Sistem dan Peluncur Roket
Hulu Ledak 70mm: Tersedia dalam konfigurasi Latih dan Tajam untuk peluncuran roket tanpa pemandu standar.
Hulu Ledak 80mm: Tersedia dalam varian Latih dan Tajam.
Rocket Pod Launcher 7 Tube: Sistem tabung peluncur modular isi 7 tabung yang dirancang untuk integrasi pada helikopter militer dan platform pesawat serang ringan.[4]
Pengembangan Senjata Berpemandu
Bekerja sama dengan laboratorium pertahanan negara dan lembaga penelitian pemerintah, PT Sari Bahari telah merambah ke dalam pengembangan sistem senjata otomatis taktis:
Petir V-101: Sebuah prototipe rudal jelajah permukaan-ke-permukaan yang dikembangkan bersama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan RI. Rudal ini dilengkapi konfigurasi autopilot 3D *waypoint* yang dirancang untuk terbang rendah mengikuti kontur medan (*terrain contour-following*) guna menghindari deteksi radar.[5]
Garuda GM-50: Sistem rudal taktis jarak pendek yang dikonseptualisasikan untuk pertahanan udara jarak pendek serta penyebaran platform yang fleksibel.
Referensi
1234"About Us". PT Sari Bahari. Diakses tanggal 24 Juni 2026.