Kehidupan
Al-Saqqa lahir di Jalur Gaza sekitar tahun 1992. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Islam Gaza, kemudian memperoleh gelar magister dalam bidang bedah laparoskopi dari Queen Mary University di London.[1]
Setelah lulus, ia mulai bekerja di Rumah Sakit Al-Shifa dan menjadi dokter bedah perempuan pertama di Jalur Gaza. Di sana, ia harus menghadapi kondisi sanitasi yang buruk serta keterbatasan sumber daya akibat pembatasan yang diberlakukan oleh Israel. Pekerjaannya hanya memberinya gaji sebesar 300 dolar setiap 40 hari, pada saat PBB memperkirakan diperlukan sekitar seribu dokter tambahan untuk menangani darurat kesehatan di Gaza.[2]
Setelah serangan Hamas pada Oktober 2023 dan serangan udara balasan dari Israel, terjadi eksodus besar-besaran warga sipil Palestina ke wilayah utara Gaza. Namun, Al-Saqqa memilih tetap bertahan di rumah sakit.[3][1] Ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter sekaligus aktivitasnya di media sosial. Melalui akun Instagram, ia menyebarkan berita dan informasi langsung dari Gaza. Ia mulai melaporkan kondisi darurat kemanusiaan di Gaza — ribuan korban jiwa, krisis dalam penanganan korban luka, serta kehancuran besar-besaran di sebagian wilayah kota.[4][1]
Al-Saqqa memilih untuk mulai mendokumentasikan luka-luka para korban — termasuk bayi dan balita — di rumah sakit. Dokumentasi tersebut dianggapnya sebagai bukti potensial kejahatan perang, yang menurutnya dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.[4] Pihak Israel menuduh bahwa kompleks rumah sakit tersebut merupakan pusat operasi militer Hamas.[5] Salah satu rekannya, Dr. Ayman Abu al-Auf, bersama seluruh keluarganya, tewas dalam serangan tersebut.[6]
Ia mengatakan bahwa hal yang paling membuatnya terpukul adalah anak-anak yang tidak dapat mereka tolong. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah menyangka akan merasa begitu tak berdaya di hadapan anak-anak yang menangis, meskipun telah memilih spesialisasi di bidang pediatri (kedokteran anak).[4]
Ia terpilih sebagai salah satu dari 100 perempuan paling inspiratif dan berpengaruh di dunia versi BBC’s 100 Women pada musim gugur tahun 2023. Setelah penghargaan tersebut, Al-Saqqa menolak perintah Israel untuk mengevakuasi warga sipil ke wilayah utara Gaza, dan tetap bekerja di rumah sakit-rumah sakit di bagian selatan Jalur Gaza.[7]
Kondisi di sana semakin memburuk akibat terputusnya jaringan telepon, internet, dan pasokan listrik. Pemutusan ini memperparah situasi, di mana ratusan orang terluka menumpuk di rumah sakit dan banyak fasilitas medis rusak parah.[7] Prioritas utama pun berubah menjadi mengubah rumah sakit menjadi pusat darurat, tempat warga dapat berlindung dari serangan udara.[8]
Dalam kondisi tersebut, Al-Saqqa membantu perempuan hamil melahirkan setelah mereka diselamatkan dari reruntuhan.[7] Karena kedekatan dengan lokasi artileri dan meningkatnya bahaya, pada awal tahun 2024, ia pindah ke Rafah, di selatan Gaza, untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter bedah di dekat keluarganya.[7]
Pada Februari 2024, Al-Saqqa melaporkan pengepungan terhadap Rumah Sakit Nasser.[9]
Pada April 2024, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UNOCHA) melaporkan bahwa jenazah mulai diambil dari Rumah Sakit Al-Shifa. Dalam siaran persnya, UNOCHA menggunakan foto Al-Saqqa (sebagai staf mereka) saat mengeluarkan seruan darurat untuk penggalangan dana sebesar 2,3 miliar dolar AS, guna membantu 3,1 juta orang di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Barat. Namun, UNOCHA menegaskan bahwa bahkan dengan dana tersebut, mereka tetap harus memastikan keselamatan para pekerja, serta menjamin akses terhadap visa dan komunikasi yang aman.[10]