Sapangat Kartanegara (30 Desember 1893 -?) adalah seorang birokrat dan politisi yang pernah menjabat sebagai Bupati Demak (1942-1945) dan Bupati Banyumas (1948-1950).
Kehidupan awal dan pendidikan
Sapangat lahir di Karanganyar pada tanggal 30 Desember 1893.[1] Ayahnya adalah seorang Bupati Karanganyar bernama Kadis Kartanegara.[2] Ia menyelesaikan bangku pendidikan di ELS dan OSVIA (lulus tahun 1914).[1]
Sapangat juga sempat Bestuursschool (Sekolah Administrasi) di Batavia selama dua tahun (1925-1927).[3] Selama mengambil kursus di bestuursschool, ia menjadi salah satu anggota asisten kepala jaksa penuntut dan ikut serta dalam investigasi pemberontakan PKI 1926-1927 yang terjadi di Jawa Barat. Karena aksinya, ia mendapatkan pujian dari pemerintah Hindia Belanda.[4]
Karier
Karier birokrat
Sapangat mengawali kariernya sebagai juru tulis di Banyumas pada tahun 1914.[1] Setahun kemudian, ia diangkat sebagai mantri polisi di Bukateja dengan status sebagai calon pejabat administrasi pribumi (CIBA).[1][5] Pada tanggal 7 Februari 1918, ia menjadi penjabat asisten jaksa di Purwokerto dan mengemban posisi tersebut hingga tahun 1921.[6]
Pada bulan Maret 1921, Sapangat mengundurkan diri secara hormat dari jabatannya sebagai asisten jaksa karena ingin menjadi asisten wedana.[7] Ia menjabat sebagai Asisten Wedana Kalibening.[1] Ia kemudian mengundurkan diri sebagai Asisten Wedana pada bulan Juli 1925 karena tugas belajar.[8]
Pada tanggal 7 Juni 1928, Sapangat diangkat sebagai Wedana Majenang dan mengemban posisi tersebut selama hampir lima tahun.[9] Selama menjabat sebagai Wedana Majenang, ia juga menjabat sebagai Anggota Dewan Kabupaten Cilacap-Karanganyar.[10][11] Di samping itu juga, pada tanggal 27 September 1932, ia menjadi anggota komisi teknis dewan kabupaten bersama dengan Wielsma.[12] Pada tanggal 6 Februari 1933, ia diangkat sebagai Wedana Suradadi.[13] Kemudian, ia menjadi Wedana Bumiayu pada tanggal 27 April 1934.[14]
Selanjutnya, Sapangat menjabat sebagai Wedana Selokaton pada 20 November 1936.[15] Sama seperti saat menjabat sebagai Wedana Majenang, ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Kabupaten Kendal.[16] Menjadi anggota Dewan Kabupaten Kendal, ia pernah mengajukan proposal untuk pemeliharaan jalan Besokor–Sedandang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Kendal.[17] Selain itu juga, ia juga diangkat sebagai Anggota armenzorg (organisasi penyantun orang miskin) Kendal untuk wilayah Sukorejo.[18] Ia kemudian diangkat menjadi Patih Semarang pada tanggal 19 Desember 1939 dan dilantik pada tanggal 27 Desember.[19][20]
Karier Bupati
Pada bulan Maret 1942, Sapangat menjadi Bupati Demak.[1] Selama menjabat sebagai Bupati Demak, ia mendapatkan pangkat Tihoo Nitoo Gyooseikan pada tanggal 9 September 1943.[21] Ia mengunudurkan diri dari jabatannya sebagai Bupati Demak pada tanggal 16 Februari 1945 atas permintaan sendiri dan posisinya digantikan oleh M. Achmad Djojosoedarmo.[22]
Seusai mengudurkan diri sebagai Bupati Demak, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Layanan Distribusi Umum di Semarang pada tahun 1946. Kemudian pada bulan Desember 1947, pemerintah Recomba mengangkatnya sebagai Bupati Banyumas, menggantikan Sujiman Gandasubrata dan memberikan gelar tumenggung.[23] Pada masa jabatannya sebagai Bupati Banyumas, Gandasubrata (Bupati Banyumas ke-18), meninggal dunia pada tanggal 17 Juni 1948. Ia mengatur dan mengawasi jalannya proses pemakaman Gandasubrata.[24] Selain itu, ia mendapatkan gelar Ario pada bulan April 1949 dalam perayaan ulang tahun Ratu Juliana.[25] Ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Bupati Banyumas pada tanggal 12 Maret 1950 dan posisinya digantikan oleh Moh. Kabul Purwodireja. Setelah itu, ia bekerja di Layanan Distribusi Umum di Semarang.[26]
Kehidupan pribadi
Sapangat menikah dengan putri Bupati Karanganyar, Tirtokoesoeno, Srihoenan pada tanggal 10 Desember 1922.[27] Ia juga menjadi kakaknya Satochid Kartanegara dan menanggung biaya uang sakunya ketika dia berkuliah di Leiden.[28]