Sao Chingcha, (bahasa Thai:เสาชิงช้าcode: th is deprecated , Pengucapan Thai:[sǎw t͡ɕʰīŋ.t͡ɕʰáː], yang berarti "tiang ayun"), atau juga dikenal sebagai Ayunan Raksasa adalah sebuah struktur keagamaan berbentuk ayunan setinggi 21,15m yang terletak di Subdistrik Sao Chingcha, Distrik Phra Nakhon, Bangkok, Thailand. Terletak di depan Wat Suthat, bangunan ini dulunya digunakan dalam upacara Brahmana dan kini menjadi salah satu destinasi wisata di Bangkok.
Sao Chingcha berlokasi di dekat Devasthan ("Thewasathan Bot Phram" dalam bahasa Thai yang artinya 'tempat tinggal para dewa', atau Kantor Brahmana Kerajaan di Pengadilan Kerajaan Thailand), dan merupakan pusat upacara Tripavai, sebuah ritual suci kaum Brahmana di Thailand berupa pembacaan kidung bakti Tiruppavai yang berbahasa Tamil.[1]
Sejarah
Ilustrasi upacara Triyampawai pada masa pemerintahan Raja Rama I
Sao Chingcha dibangun pada tahun 1784 di depan kuil Devasathan oleh Raja Rama I. Pada masa pemerintahan Rama II, upacara di sekitar ayunan dihentikan karena strukturnya rusak karena sambaran petir. Pada tahun 1920, ayunan tersebut direnovasi dan dipindahkan ke lokasinya saat ini. Upacara tersebut kembali dilakukan hingga tahun 1935, ketika dihentikan setelah beberapa insiden fatal.
Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 1959, dan setelah 45 tahun, pilar-pilar kayunya menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Pemugaran besar-besaran dimulai pada bulan April 2005 dengan menggunakan enam batang pohon jati. Dua batang yang digunakan untuk struktur utama ayunan memiliki keliling lebih dari 3,5m dan tinggi lebih dari 30m. Empat batang sisanya digunakan sebagai penyangga dan memiliki keliling 2,30meter dan tinggi 20meter.[2] Ayunan tersebut mulai dibongkar pada akhir Oktober 2006 dan pengerjaannya selesai pada bulan Desember di tahun yang sama. Ayunan yang telah dipugar diresmikan dalam upacara kerajaan yang dipimpin oleh Raja Bhumibol Adulyadej pada bulan September 2007. Sementara kayu-kayu dari ayunan asli disimpan di Museum Nasional Bangkok.
Pada tahun 2005, Sao Chingcha, bersama dengan Wat Suthat, diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO di masa mendatang.
Daerah sekitar
Wat Suthat Thep Wararam
Wat Suthat (kiri) dan Sao Chingcha (kanan)
Wat Suthat Thep Wararam, yang biasa disingkat menjadi "Wat Suthat", adalah sebuah kuil penting di Thailand. Di dalam aula utama, terdapat Phra Sri Sagaya Munee, arca Buddha terutama, yang diperoleh dari Wat Mahathat di Sukhothai. Wat Suthat dibangun oleh Raja Rama I di ibu kota Bangkok, dan baru rampung pada masa pemerintahan Rama III.[3] Banyak orang berziarah ke sini untuk memuja Sang Buddha, terutama pada hari-hari suci seperti Waisak dan Magha.
Sarn Choa Po Seu atau Kuil Dewa Harimau
Sao Chingcha terlihat dari Jalan Bamrung Mueang Road
Di kawasan ini juga terdapat sebuah kuil Tionghoa yang terkenal dan dihormati, Sarn Choa Po Seu ('kuil harimau'). Awalnya, kuil ini terletak di Jalan Bamrungmueng, tempat komunitas Tionghoa besar berada. Kemudian, Raja Rama V memperluas jalan tersebut dan memindahkan kuil ke lokasi saat ini di Jalan Ta Nao, dekat Wat Mahanaparam.[4]
Lan Kon Mueng
Di jantung kawasan ini terdapat Lan Kon Mueng, di depan balai kota. Setiap pagi dan sore, tempat ini merupakan area rekreasi penduduk setempat, tempat mereka dapat berolahraga seperti senam, lari santai, berjalan-jalan, berkumpul, sekadar bersantai, sembari mengajak anak-anak atau hewan peliharaan berjalan-jalan, dan menikmati semilir angin.[5]
Devasathan
Kuil Devasathan adalah tempat keagamaan dan kuno terpenting bagi umat Hindu di Thailand. Kuil ini dibangun pada tahun 1784 M, pada masa pemerintahan Rama I. Menurut tradisi kuno, kuil ini dibangun untuk menyelenggarakan upacara keagamaan di masa lalu. Kuil Devasathan memiliki banyak tempat suci penting: Kuil Siwa dan Parwati, Kuil Brahma dan Saraswati, Kuil Ganesha dan Siddhi, serta Kuil Wisnu dan Lakshmi.[6]
Kuil Wisnu
Kuil kecil untuk Dewa Wisnu berada di Jalan Unakan, di samping Wat Suthat, dibangun pada tahun 1982, dalam rangka peringatan 250 tahun Rattanakosin, oleh Asosiasi Kamar Dagang India-Thailand sebagai tanda hubungan baik antara Thailand dan India. Arca Wisnu didatangkan langsung dari India.[7]
Upacara Ayunan
Festival Ayunan sekitar tahun 1900
Upacara ayunan tahunan yang dikenal sebagai Triyampavai-Tripavai diadakan di Ayunan Raksasa di kota-kota besar hingga tahun 1935, ketika upacara tersebut ditiadakan karena alasan keamanan.[8] Nama upacara ini berasal dari nama dua nyanyian Hindu berbahasa Tamil: Thiruvempava (kidung Saiwa karya Manikkavacakar) dan Thiruppavai (kidung Waisnawa karya Andal). Di kalangan masyarakat Thailand, upacara ini dikenal sebagai Lo Jin Ja ("menarik ayunan"). Diketahui bahwa syair-syair Tamil dari Thiruvempavai — Sivalaya Vasal Thirappu ("membuka pintu gerbang rumah Siwa") — dibacakan pada upacara ini beserta syair-syair dari Tirupavai, yang juga dirapalkan di upacara penobatan raja dan ratu Thailand.[9] Sebagaimana dikatakan oleh T.P. Meenakshisundaram, nama festival tersebut menunjukkan bahwa Thiruppavai juga turut dibacakan.[10]