Nama "Sanghyang" berasal dari kata sang dan hyang. Nama "sang" diambil dari kata sandang yang digunakan oleh orang Sunda terdahulu untuk menghormati seseorang atau sesuatu. Sementara hyang adalah sebutan untuk keberadaan spiritual tak kasat mata yang memiliki kekuatan supranatural. Jadi, kata Sanghyang bisa diartikan sebutan untuk 'menghormati seseorang atau sesuatu yang dianggap suci'.
Sementara kata tikoro berasal dari bahasa sunda yang berarti 'tenggorokan'. Hal ini mungkin untuk menggambarkan tempat tersebut yang berupa sungai bawah tanah yang mengalir melalu rongga-rongga, seperti tenggorokan.
Sejarah
Sekitar 20–30 juta tahun yang lalu wilayah yang terletak antara kecamatan Rajamandala dengan kecamatan Cipatat, Bandung Barat bersebelahan dengan PLTA Saguling sekitar 17km dari pusat bendungan dan ada di wilayah turbin terakhir ini adalah wilayah perairan Danau Bandung Purba dengan terumbu karang yang indah dengan kedalaman sekitar 10–20 meter. Disebutkan bahwa terbentuknya gua bawah tanah ini membuktikan bagaimana luar biasanya proses erosi dari aliran Citarum yang deras sehingga mampu melubangi batuan kapur yang ada di wilayah ini.
Seperti disebutkan bahwa aliran Citarum itu ternyata memiliki 2 cabang. Satu cabang mengarah ke kiri, yang satu lagi ke arah kanan, di mana airnya menghilang ditelan gua batu kapur pasir Sanghyang Tikoro, kemudian menjadi terowongan atau sungai bawah tanah. Batuan kapur di Sanghyang Tikoro disebut batuan gamping, batu kapur, atau batu karang. Batuan kapur memiliki banyak rekahan yang memudahkan air menyelinap mengisi retak-retak setipis selaput buah salak sekalipun. Batu kapur itu sendiri merupakan hasil kegiatan organik, kehidupan laut, seperti hewan, dan tumbuhan laut. Hampir mirip halnya dengan peristiwa sekitar 23 juta tahun yang lalu, yang mana Pulau Jawa belum seluruhnya muncul di permukaan laut. Binatang koral mengendap di laut dangkal yang jernih antara Tagogapu Rajamandala hingga Palabuhanratu. Batu kapur yang bahan proses terbentuknya adalah terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3). Batuan kapur ini dapat larut dalam air yang menghasilkan gas kabon diosida (CO2) yang berasal dari atmosfer, yang umumnya terdapat di semua perairan permukaan. Sungai bawah tanah Sanghyang Tikoro adalah hasil proses pelarutan sehingga dipercaya tempat bobolnya Danau Bandung Purba dan sering disebut Sanghyang Tikoro Rajamandala.
Gua Sanghyang Tikoro yang memiliki panjang kedalaman di bawah tanah hingga lebih dari 800 meter ini, diyakini oleh seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda van Bemmelen sebagai tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Menurutnya, ada kesamaan atau hubungan urutan sejarah, antara kejadian munculnya Gunung Tangkuban Parahu dan legenda cerita rakyat Sangkuriang dengan proses geologi di wilayah Bandung. Lantas pendapat van Bemmelen pun diamini oleh hampir semua ahli geologi Indonesia seperti J.A. Katili, sehingga semua guru lulusan B-1 Ilmu Bumi yang memakai buku Geologi Indonesia memercayai juga bahwa Danau Bandung Purba bobol di Sanghyang Tikoro.
Cerita rakyat Sangkuriang sangat mirip dengan fakta geologi terciptanya Danau di Bandung dan Gunung Tangkuban Parahu. Penelitian geologis mutakhir menunjukkan bahwa sisa-sisa danau purba sudah berumur 125.000 tahun. Danau tersebut mengering 16.000 tahun yang lalu. Telah terjadi dua letusan Gunung Sunda Purba dengan tipe letusan Plinian masing-masing 105.00 hingga 50.000–55.000 tahun yang lalu. Letusan plinian kedua telah meruntuhkan kaldera Gunung Sunda Purba sehingga menciptakan Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang (disebut juga Gunung Sunda), dan Gunung Bukit Tunggul. Melihat fakta tersebut adalah sangat mungkin bahwa leluhur orang Sunda memang telah menempati dataran tinggi Bandung dan menyaksikan letusan Plinian kedua yang menyapu pemukiman sebelah barat Citarum (utara dan barat laut Bandung) selama periode letusan pada 50.000–55.000 tahun yang lalu saat Gunung Tangkuban Parahu tercipta dari sisa-sisa Gunung Sunda Purba.[2]
Misteri dan mitos
Selain keindahan alamnya, Sanghyang Tikoro memiliki beberapa misteri dan mitos:
Pertama, tentang kemana berakhirnya aliran air yang masuk ke dalam Sanghyang Tikoro, sampai saat ini belum diketahui kemana. Belum ada para ahli atau ilmuwan yang mengetahui aliran air dari Gua misteri ini.
Mitos yang berkembang di masyarakat sekitar dan juga yang pernah berkunjung ke gua Sanghyang Tikoro adalah, apabila anda memasukkan suatu barang apapun ke aliran sungai, maka konon katanya beberapa saat kemudian, maka akan terdengar suara jeritan yang berasal dari gua Sanghyang Tikoro tersebut.
Selain memiliki sejarah dan keindahan alam disekitarnya yang masih perawan belim terjamah oleh penduduk apalagi wisatawan, maka sering kali tempat wisata alam di bandung ini dijadikan sebagai tempat ritual yang strategis dan populer bagi orang-orang tertentu seperti tapa alias semadi, terutama bagian atas atau pinggir gua Sanghyang tikoro.